Example floating
Example floating
Example 728x250
Lifestyle

Tumpeng Raksasa Hiasi Tradisi Selamatan Desa Bumiaji

94
×

Tumpeng Raksasa Hiasi Tradisi Selamatan Desa Bumiaji

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JATIMTERBARU.COM, KOTA BATU – Semarak kemeriahan luar biasa dalam memperingati tradisi selamatan Desa Bumiaji Kecamatan Bumiaji, Kota Batu pada Sabtu (27/06/2026).

Tradisi tahunan tersebut dipadati ribuan warga di Rest Area Lapangan Gelora Arjuno untuk menyaksikan dan merayakan puncak acara.

Example 300x600

Kali ini dengan mengusung tema filosofis “Hametri Bumi Kang Aji”, acara ini menjadi simbol kuat komitmen masyarakat setempat untuk menjaga, merawat, dan melestarikan tanah leluhur sebagai warisan berharga bagi generasi masa depan.

Dalam pantauan awak media, kemeriahan dimulai sejak pagi hari melalui “Kirab Murak Berkat Hasil Bumi”.

Selanjutnya, rombongan kirab yang mengambil start dari Tlogorejo dan finish di Lapangan Gelora Arjuno tersebut menjadi perhatian publik.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 15 mobil tumpeng hasil bumi raksasa yang dihias dengan kreativitas tanpa batas diarak oleh perwakilan setiap RW di Desa Bumiaji.

Para peserta tradisi menampilkan tumpeng yang dihias dengan aneka sayuran segar, buah-buahan, pala pendem, hingga jajanan pasar yang menjadi ikon komoditas pertanian andalan desa setempat.

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tumpeng raksasa dari RW 09. Tumpeng tersebut dihias membentuk sosok naga raksasa yang dalam kepercayaan masyarakat Jawa diyakini sebagai simbol pelindung bumi.

Struktur sisik dan tubuh naga yang memanfaatkan hasil bumi lokal menjadi representasi visual dari rasa syukur atas anugerah rezeki yang melimpah dari Sang Pencipta.

Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto, mengatakan bahwa tradisi “Murak Berkat Hasil Bumi” ini memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam.

“Filosofinya adalah, yang pertama untuk mensyukuri nikmat Allah SWT karena mayoritas warga di sini hidup dari hasil pertanian. Di samping bersyukur, saat kita merasa diberi kelebihan rezeki, kita wajib berbagi. Ada pengharapan besar di sana, dengan saling berbagi dan menikmati hasil bumi ini bersama-sama, semoga hasil pertanian Desa Bumiaji ke depan semakin melimpah dan desa ini bisa benar-benar ‘gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto Raharjo,” ujarnya.

Menurut Edi, partisipasi masyarakat dalam acara ini sangat luar biasa dan membuktikan eratnya rasa ‘guyub rukun’ antarwarga.

Bahkan, beberapa RW membawa lebih dari satu tumpeng secara swadaya. Ia berharap tingginya antusiasme ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Batu agar tradisi ini dapat dikemas menjadi agenda wisata tahunan yang rutin dan berskala besar.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, yang menghadiri acara ini, ia mengapresiasi tinggi Pemerintah Desa Bumiaji yang telah melaksanakan tradisi budaya yang sangat dinanti oleh masyarakat.

Suasana khidmat begitu sangat terasa saat doa bersama dipanjatkan, mendoakan agar seluruh masyarakat Bumiaji selalu dilimpahi keselamatan, rezeki yang barokah, hasil panen yang melimpah, serta nilai jual pertanian yang tinggi.

Begitu pembacaan doa selesai, suasana tenang langsung berubah menjadi riuh penuh tawa. Ribuan warga yang sejak pagi menunggu langsung merangsek maju untuk berebut (ngalap berkah) aneka buah dan sayur dari 15 tumpeng raksasa tersebut secara gratis.

Bagi warga, membawa pulang hasil bumi yang telah didoakan ini dipercaya dapat mendatangkan berkah, kesehatan, dan kemakmuran bagi keluarga mereka di rumah.

Kemeriahan kirab hasil bumi ini ternyata barulah awal dari rangkaian ritual sakral Selamatan Desa Bumiaji. Kades Edi Suyanto membeberkan bahwa malam puncak selamatan desa akan dilanjutkan dengan prosesi ‘Ider Dunga’, pada hari jum’at legi malam sabtu pahing.

Prosesi ini berupa jalan kaki mengelilingi batas desa dan berziarah ke makam-makam leluhur penemu wilayah (bedah krawang) Desa Bumiaji. Perjalanan spiritual ini akan dimulai dari makam Mbah Batu, hingga ke wilayah Dusun Mberu ke makam Mbah Karyo dan Mbah Rondo Kuning.

Menariknya, Kades Bumiaji dalam ritual ini akan menjalani ‘Puasa Bisu’. Yang mempunyai makna puasa itu menggambarkan upaya untuk menyelaraskan antara pikiran, ucapan, dan perilaku.

“Saya sendiri biasanya menjalani satu hari satu malam, namun untuk warga kami kembalikan kepada keikhlasan masing-masing,” tandasnya.(*)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *