Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Pendidikan

Museum Keliling Kenalkan Sejarah kepada Siswa SDN Tlogowaru 2

119
×

Museum Keliling Kenalkan Sejarah kepada Siswa SDN Tlogowaru 2

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG — Belajar sejarah tak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Hal itu dirasakan langsung para siswa SDN Tlogowaru 2 Kota Malang saat mengikuti program Museum Keliling yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Senin (28/9/2026).

Melalui kegiatan tersebut, para siswa diajak mengenal lebih dekat berbagai peninggalan sejarah dan kekayaan budaya yang berkaitan dengan Kota Malang. Materi yang disampaikan juga menjadi pintu masuk bagi siswa untuk memahami bahwa benda-benda bersejarah memiliki cerita dan nilai budaya di balik bentuk fisiknya.

Example 300x600

Bagi sebagian siswa SDN Tlogowaru 2, kegiatan tersebut merupakan pengalaman pertama mengenal museum secara lebih dekat. Sebelumnya, mereka belum pernah melihat langsung koleksi benda bersejarah maupun mendapatkan penjelasan dari narasumber yang memahami bidang arkeologi dan kebudayaan.

Kepala SDN Tlogowaru 2 Kota Malang, Titis Pratiwi, menilai Museum Keliling memberikan pengalaman pembelajaran yang berbeda bagi anak didiknya. Menurutnya, materi yang diterima siswa menjadi lebih mudah dipahami ketika disampaikan melalui benda dan cerita yang dapat mereka lihat serta dengarkan secara langsung.

“Anak-anak mendapatkan pengalaman baru. Mereka jadi tahu benda-benda bersejarah yang ada di Museum Bupurwa, termasuk bisa memahami perbedaan antara arca dan patung,” ujar Titis.

Ia mengungkapkan, respons siswa selama kegiatan berlangsung cukup tinggi. Anak-anak terlihat aktif menyimak penjelasan sekaligus berani menyampaikan pertanyaan kepada pemateri.

Bagi pihak sekolah, keberanian siswa untuk bertanya menjadi salah satu hasil positif dari kegiatan tersebut. Pembelajaran sejarah tidak berhenti pada menerima informasi, tetapi berkembang menjadi proses menggali rasa ingin tahu melalui interaksi langsung.

“Anak-anak cukup aktif. Mereka berani bertanya kepada narasumber dan mengikuti kegiatan dengan antusias,” katanya.

Titis juga melihat pengenalan sejarah dan budaya sejak usia sekolah memiliki nilai penting dalam membangun kecintaan terhadap daerah maupun bangsa. Kekayaan peninggalan masa lalu dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenali identitas budaya yang berada di sekitar mereka.

Ia menilai pengalaman tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa Kota Malang memiliki perjalanan sejarah serta kekayaan budaya yang patut dikenal dan dijaga oleh generasi penerus.

Salah satu materi yang mendapat perhatian siswa berkaitan dengan kisah Panji, termasuk cerita Dewi Sekartaji. Selain cerita tersebut, siswa diperkenalkan dengan keberagaman topeng yang menjadi bagian dari perkembangan tradisi budaya di Malang.

“Anak-anak jadi lebih mengenal cerita Dewi Sekartaji. Mereka juga tahu bahwa topeng di Malang memiliki banyak bentuk dan warna. Dari situ mereka semakin mengenal dan mencintai budaya Kota Malang,” ungkap Titis.

Besarnya ketertarikan siswa bahkan membuat sekolah menyesuaikan jumlah peserta kegiatan. Jika sebelumnya hanya beberapa kelas yang direncanakan mengikuti program, antusiasme yang muncul membuat seluruh siswa dari kelas I sampai kelas VI akhirnya turut dilibatkan.

Sekolah pun tidak ingin pengalaman tersebut berhenti setelah kegiatan Museum Keliling selesai. Titis menyampaikan rencana membawa para siswa berkunjung langsung ke Museum Bupurwa pada akhir semester sebagai bagian dari penguatan pembelajaran.

“Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan. Kami juga berencana mengajak anak-anak berkunjung langsung ke Museum Bupurwa pada akhir semester karena mereka sangat antusias,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, arkeolog sekaligus peneliti Juan Steven Susilo turut memberikan materi kepada para siswa. Penyampaian dilakukan dengan pendekatan yang lebih sederhana agar informasi mengenai sejarah, arkeologi, dan kebudayaan dapat diterima sesuai dengan usia peserta.

Menurutnya, mengenalkan museum kepada anak-anak bukan hanya tentang menyebutkan nama atau fungsi sebuah benda. Lebih jauh, siswa perlu diajak memahami latar belakang sejarah, makna budaya, serta hubungan peninggalan tersebut dengan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Pendekatan semacam itu diharapkan dapat mengubah cara pandang anak terhadap museum. Museum tidak semata-mata menjadi tempat penyimpanan benda kuno, tetapi dapat berfungsi sebagai ruang belajar untuk memahami perjalanan sejarah sekaligus mengenali identitas budaya daerah.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengatakan program Museum Keliling dirancang untuk membawa materi sejarah dan kebudayaan lebih dekat kepada peserta didik.

“Tujuannya supaya anak-anak mengenal sejarah dan mengetahui apa saja yang ada di Malang,” kata Juli.

Ia menjelaskan, pengenalan warisan budaya kepada anak-anak sejak bangku sekolah menjadi salah satu langkah untuk membangun kepedulian terhadap peninggalan sejarah. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada hafalan, tetapi berkembang menjadi kesadaran untuk menghargai dan menjaga warisan budaya.

Program Museum Keliling juga membuka akses pembelajaran bagi siswa yang belum berkesempatan datang langsung ke museum. Kehadiran pemateri dan materi koleksi di lingkungan sekolah membuat pembelajaran sejarah dapat berlangsung lebih dekat dengan peserta didik.

Dari kegiatan di SDN Tlogowaru 2, siswa mendapatkan pengalaman mengenali arca, memahami kisah Panji dan Dewi Sekartaji, hingga melihat keberagaman topeng yang berkembang dalam kebudayaan Malang.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa sejarah dapat dikenalkan melalui cara yang lebih interaktif dan kontekstual. Ketika anak-anak diberi ruang untuk melihat, mendengar, bertanya, dan berdiskusi, warisan masa lalu tidak lagi terasa jauh, melainkan hadir sebagai bagian dari identitas budaya yang mereka kenal sejak dini.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *