Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Pendidikan

Dorong Pertanian Regeneratif dan Kredit Karbon, UNITRI Jadi Co-Partner Workshop Biochar Nasional

113
×

Dorong Pertanian Regeneratif dan Kredit Karbon, UNITRI Jadi Co-Partner Workshop Biochar Nasional

Sebarkan artikel ini
Perwakilan Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang bersama para peneliti, penyuluh pertanian, dan pelaku usaha dalam Workshop Biochar dan Metodologi Kredit Karbon di Jakarta. (Foto: Dok. Panitia)

JATIMTERBARU.COM, JAKARTA – Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang mengambil peran strategis sebagai co-partner dalam Workshop on Carbon Credit Methodology to Strengthen Agricultural Extension for Biochar Application in Land Management and Regenerative Agriculture yang berlangsung di Jakarta, Selasa (29/9).

Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dari upaya mendorong pertanian regeneratif di Indonesia melalui pemanfaatan biochar. Selain efektif memulihkan kesehatan lahan, pemanfaatan biochar dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan skema kredit karbon sektor pertanian.

Example 300x600

Forum nasional tersebut mempertemukan para peneliti, perwakilan pemerintah, perguruan tinggi, penyuluh pertanian, asosiasi biochar, serta pelaku usaha.

Pembahasan berfokus pada penguatan metodologi kredit karbon, penerapan biochar dalam pengelolaan lahan, serta kesiapan pemangku kepentingan dalam mengembangkan pertanian regeneratif di Tanah Air.

Dalam agenda ini, kontribusi akademis UNITRI diwakili oleh dua figur utama: Prof. Dr. Ir. Widowati, M.P. yang dipercaya sebagai salah satu pemateri utama, serta Wakil Rektor II UNITRI, Dr. Erwin Ismu Wisnubroto, S.P., M.Phil., yang bertugas sebagai anggota Tim Perumus hasil workshop.

Dalam paparannya bertajuk “Community-Based Biochar Model for Indonesian Regenerative Agriculture and Carbon Credit Readiness”, Prof. Widowati menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas.

Model tersebut, menempatkan petani dan kelembagaan lokal sebagai pilar utama dalam pengelolaan biomassa, produksi, penggunaan biochar, hingga pencatatan data.

Penerapan biochar dinilai tidak boleh sebatas pada penyediaan teknologi produksi semata. Kualitas produk, kesesuaian jenis biochar dengan kondisi tanah dan tanaman, pendampingan kelembagaan, serta dampak ekonomi langsung bagi masyarakat desa menjadi satu kesatuan yang wajib diperhatikan.

Kesiapan penerapan biochar dalam model berbasis komunitas tersebut dibagi ke dalam tiga tahapan terstruktur:

  1. Tahap Awal: Kemampuan komunitas lokal dalam memproduksi dan mengaplikasikan biochar secara mandiri.
  2. Tahap Pengembangan: Kesiapan memperluas skala penerapan melalui dukungan fasilitas dan model usaha tani.
  3. Tahap Lanjut: Kesiapan integrasi ke dalam proyek kredit karbon yang membutuhkan standar baku, verifikasi, serta mekanisme pembagian manfaat (benefit-sharing) yang transparan.

Di sisi lain, Dr. Erwin Ismu Wisnubroto bersama Tim Perumus menyusun sintesis komprehensif yang menghubungkan aspek ilmiah, kebijakan pemerintah, strategi penyuluhan, dan kesiapan tingkat petani. Rumusan ini menghasilkan usulan tindakan kolaboratif lintas lembaga.

Dalam rumusan akhir workshop, kesehatan tanah, peningkatan produktivitas pertanian, dan kesejahteraan petani ditetapkan sebagai tujuan utama pengembangan biochar.

Sementara itu, kredit karbon diposisikan sebagai insentif tambahan yang tetap membutuhkan bukti ilmiah, perhitungan emisi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta tata kelola yang transparan.

Selain itu, pembahasan mencakup rancangan pedoman biochar tingkat ASEAN, pengembangan metodologi Joint Crediting Mechanism (JCM), pemetaan pengalaman dari Thailand, serta penyesuaian karakteristik tanah lokal di Indonesia.

Forum juga menyoroti tantangan di tingkat tapak, seperti tingkat pengetahuan petani, biaya produksi dan aplikasi, akses peralatan, hingga kebutuhan penyusunan panduan Good Agricultural Practices (GAP) berbasis biochar.

Keterlibatan UNITRI dalam forum ini membuka berbagai peluang kolaborasi strategis, seperti riset bersama, uji coba lapangan (field trial), peningkatan kapasitas laboratorium, pelatihan bagi penyuluh dan petani, hingga pertukaran pengetahuan (knowledge exchange) skala nasional maupun internasional.

Tindak lanjut dari forum ini akan difokuskan pada identifikasi mitra, penetapan lokasi percontohan (pilot project), pembagian peran antarlembaga, kebutuhan sumber daya, serta penyusunan rencana kerja yang terukur.

Bagi UNITRI, keikutsertaan ini mempertegas komitmen Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam menghubungkan riset akademis dengan kebutuhan riil pengelolaan lahan dan pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *