Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Ekonomi Bisnis

UB Inovasi Kunyit Asam untuk Perkuat UMKM Kota Batu

92
×

UB Inovasi Kunyit Asam untuk Perkuat UMKM Kota Batu

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, KOTA BATU – Universitas Brawijaya (UB) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batu meningkatkan nilai ekonomi bahan baku lokal melalui inovasi produk olahan. Salah satu yang dikembangkan ialah kunyit asam menjadi sejumlah produk pangan dengan bentuk dan sasaran pasar yang lebih beragam.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari Program Dosen Berkarya Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) 2026 dengan tema “Pemanfaatan Surplus Hasil Hortikultura melalui Inovasi Produk Olahan untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM di Kota Batu.”

Example 300x600

Kegiatan dilaksanakan pada 8 September 2026 di UMKM Donat Legenda Indonesia (DL’98), Kecamatan Junrejo, Kota Batu, milik Ayu Kusuma Dewi. Program ini menjadi bagian dari upaya UB mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan praktis pelaku UMKM, khususnya dalam pengolahan pangan dan diversifikasi produk.

Ketua Tim Dosen Berkarya PKM 2026 UB, Prof. La Choviya Hawa, STP., MP., Ph.D., dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, bersama Prof. Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Agr.Sc., memberikan pelatihan mulai dari teknologi pengolahan pangan, formulasi produk, pengemasan, hingga aspek manajemen usaha.

Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu melalui fasilitasi Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan UMKM (PLUT KUMKM).

Sebanyak 12 pelaku UMKM mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari beragam bidang usaha, antara lain stik susu dan abon ayam, abon lele, cuka apel, serta katering.

Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan pada pengembangan kunyit asam menjadi jeli jus kunyit asam, sirup kunyit asam, dan permen jeli kunyit asam.

Diversifikasi tersebut menunjukkan bahwa satu komoditas dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dengan karakter, kemasan, tekstur, serta sasaran konsumen yang berbeda. Strategi itu sekaligus membuka peluang agar produk berbasis kunyit asam dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk anak-anak, remaja, dan generasi muda.

Prof. La Choviya Hawa menegaskan bahwa pengembangan produk berbasis bahan lokal tidak harus berhenti pada satu bentuk olahan.

“Pengembangan produk tidak harus berhenti pada satu jenis olahan. Bahan baku lokal dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dengan bentuk, tekstur, kemasan, dan target konsumen yang berbeda,” jelas Prof. La Choviya Hawa.

Menurutnya, pendekatan serupa dapat diterapkan terhadap berbagai komoditas hortikultura yang tersedia di Kota Batu. Teknologi pembuatan sirup, jeli jus, maupun permen jeli dapat disesuaikan dengan karakteristik bahan baku dan kebutuhan pasar.

Selain memperkenalkan inovasi produk, pelatihan juga menitikberatkan pada aspek keamanan dan mutu pangan. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan bahan tambahan pangan dan pengawet yang aman, teknik pengemasan, serta penyimpanan untuk menjaga kualitas dan umur simpan produk.

Hal tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing UMKM pangan. Inovasi produk perlu diikuti dengan proses produksi yang higienis dan terstandar agar mutu, keamanan, konsistensi, serta tampilan produk mampu memenuhi ekspektasi konsumen.

Tim Dosen Berkarya UB juga mendorong penggunaan peralatan pengolahan yang sesuai, higienis, dan berbahan food grade. Penerapan standar tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM menjaga kualitas produk sekaligus membangun kepercayaan pasar.

Dukungan konkret kemudian diberikan melalui penyerahan cup sealer dan panci food grade kepada Ayu Kusuma Dewi, pemilik UMKM DL’98 yang mengembangkan usaha botanical drink, khususnya minuman kunyit asam.

Bantuan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi sekaligus mendukung proses pengolahan yang lebih higienis. Penggunaan cup sealer juga memungkinkan produk dikemas lebih rapi dan praktis sehingga memiliki tampilan yang lebih menarik bagi konsumen.

Program Dosen Berkarya PKM 2026 UB tidak hanya diarahkan pada transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang pelaku UMKM dalam melihat potensi bahan baku lokal.

Melalui praktik dan pendampingan, pelaku usaha diharapkan mampu mengembangkan produk bernilai tambah, membaca peluang pasar, memperluas sasaran konsumen, sekaligus meningkatkan kapasitas usaha secara berkelanjutan.

Program tersebut sekaligus memiliki keterkaitan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan ekonomi masyarakat mendukung SDG 1 (No Poverty), pemanfaatan sumber pangan lokal berkaitan dengan SDG 2 (Zero Hunger), pengembangan UMKM dan ekonomi lokal sejalan dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), sedangkan pengolahan surplus hortikultura menjadi produk bernilai tambah mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production).

Dengan pendekatan tersebut, UB menempatkan inovasi pangan bukan sekadar sebagai pengembangan produk, tetapi sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas UMKM dan mengoptimalkan potensi ekonomi lokal Kota Batu.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *