Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Budaya

Pasar Lambe Lawas Angkat Kuliner Tradisional

91
×

Pasar Lambe Lawas Angkat Kuliner Tradisional

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Upaya menghidupkan kembali kuliner tradisional terus mendapat ruang di Kota Malang. Pasar Lambe Lawas hadir dengan konsep yang memadukan kekayaan kuliner Jawa, wisata edukasi, dan pemberdayaan UMKM. Kehadirannya sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan destinasi berbasis budaya di tengah kawasan perkotaan.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyambut positif kehadiran pasar tersebut. Ia menilai konsep kuliner tempo dulu memiliki potensi untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Example 300x600

Wahyu menyampaikan pandangan itu saat menghadiri grand launching Pasar Lambe Lawas di kawasan Wisata Edukasi Pengangguran Malang, Kampus II Polbangtan Malang, Jalan Lambau, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Minggu (25/10/2026). Duta Pengangguran menginisiasi kegiatan tersebut sebagai bagian dari pengembangan wisata kuliner bernuansa budaya Jawa.

Pelestarian Budaya Menjadi Kekuatan Pasar Lambe Lawas

Bagi Wahyu, nilai lebih Pasar Lambe Lawas terletak pada kemampuannya menghadirkan pengalaman kuliner yang berkaitan erat dengan tradisi masyarakat. Konsep tersebut dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kembali makanan khas masa lalu kepada generasi muda.

Ia menekankan pentingnya menjaga karakter pasar agar tidak kehilangan identitas di tengah perkembangan destinasi wisata modern. Pengelola perlu menghadirkan suasana, sajian, dan pengalaman yang mencerminkan kekayaan budaya lokal.

“Ini merupakan daya tarik tersendiri. Mudah-mudahan Pasar Lambe Lawas ini, karena mengusung tema dengan nuansa kebudayaan, tetap bisa melestarikan budaya yang ada di Kota Malang. Kita tetap mengingat dan menjaga kawasan budaya agar terus terpelihara,” ujar Wahyu.

Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan ruang yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pasar kuliner dapat menjalankan peran tersebut melalui aktivitas yang mempertemukan tradisi, interaksi sosial, dan kegiatan ekonomi.

Konsep ini juga membuka peluang untuk memperluas jangkauan wisata Kota Malang. Tidak hanya warga lokal, wisatawan dari berbagai daerah dapat menikmati kuliner tradisional sekaligus mengenal suasana khas tempo dulu.

Dengan pengelolaan yang konsisten, Pasar Lambe Lawas berpotensi menjadi alternatif wisata yang menawarkan pengalaman berbeda. Keunikan budaya menjadi modal utama untuk membangun daya tarik tersebut.

Budidaya Anggur Lengkapi Konsep Wisata Edukasi

Pengembangan Pasar Lambe Lawas juga berkaitan dengan potensi kawasan wisata edukasi yang menaunginya. Wahyu melihat pemanfaatan lahan perkotaan dapat menghasilkan manfaat lebih luas ketika pengelola menggabungkan unsur pendidikan, rekreasi, dan kegiatan produktif.

Budidaya anggur menjadi salah satu potensi yang menarik perhatian. Melalui perawatan dan pendampingan yang sesuai, tanaman tersebut dapat tumbuh di lingkungan perkotaan meskipun ruang tanam relatif terbatas.

Potensi ini memberi kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal pertanian secara lebih dekat. Mereka dapat mempelajari proses penanaman, perawatan, hingga pemanfaatan hasil budidaya.

Wahyu menilai penggabungan pertanian edukatif dengan pasar kuliner dapat memperkuat karakter kawasan. Pengunjung memperoleh pilihan aktivitas yang lebih beragam, sedangkan pelaku usaha mendapatkan peluang untuk menjangkau konsumen.

Keterpaduan tersebut juga dapat mendorong masyarakat memandang lahan perkotaan secara lebih produktif. Lahan tidak hanya berfungsi sebagai ruang fisik, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran dan pengembangan ekonomi.

Karena itu, pengelolaan kawasan secara berkelanjutan menjadi faktor penting. Penataan yang baik dapat mendukung kenyamanan pengunjung sekaligus menjaga keberlangsungan berbagai aktivitas di dalamnya.

Dari 50 Menjadi 62 UMKM, Peluang Usaha Kian Terbuka

Ketua Pasar Lambe Lawas sekaligus Manajer Duta Pengangguran, Dwi Supriyanto, menjelaskan bahwa pasar ini membawa dua misi utama. Pengelola ingin menjaga keberadaan kuliner tradisional Jawa sekaligus menyediakan ruang pemasaran bagi UMKM di Malang Raya.

Perkembangan jumlah peserta menunjukkan bertambahnya keterlibatan pelaku usaha. Pada pembukaan awal, 11 Oktober 2026, pasar tersebut menampung 50 UMKM. Saat grand launching pada 25 Oktober 2026, jumlahnya meningkat menjadi 62 UMKM.

Penambahan peserta memperluas ragam produk yang dapat ditawarkan kepada pengunjung. Di sisi lain, pasar ini memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk mereka secara langsung kepada masyarakat.

Pengelola menetapkan jadwal kegiatan dua kali dalam sebulan, yakni setiap Minggu Legi dan Minggu Kliwon. Penentuan jadwal berdasarkan penanggalan Jawa sekaligus memperkuat karakter tradisional yang menjadi ciri khas pasar.

Beragam sajian lawas menjadi bagian penting dari pengalaman pengunjung. Melalui kuliner tersebut, pengelola ingin menjaga kedekatan masyarakat dengan cita rasa tradisional yang menjadi bagian dari warisan budaya.

Dwi juga menempatkan pasar ini sebagai ruang kolaborasi, bukan sekadar tempat bertransaksi. Pengelola ingin membangun hubungan yang saling mendukung antara pedagang, pengunjung, dan masyarakat di sekitar kawasan.

Pembenahan Fasilitas Dukung Kenyamanan Pengunjung

Seiring perkembangan jumlah peserta, pengelola menyiapkan peningkatan fasilitas untuk menunjang kegiatan pasar. Salah satu rencana tersebut mencakup penyediaan tempat berteduh yang lebih memadai bagi pedagang dan pengunjung.

Pengelola juga ingin mempertahankan suasana alami melalui pemanfaatan area di bawah pepohonan. Penataan ini diharapkan menghadirkan lingkungan yang nyaman tanpa menghilangkan nuansa tradisional.

Ketersediaan fasilitas yang memadai akan membantu pengelola meningkatkan kualitas pelayanan. Selain itu, penataan kawasan dapat mendukung kelancaran aktivitas perdagangan dan menciptakan pengalaman berkunjung yang lebih baik.

Keberadaan 62 UMKM menjadi modal penting untuk memperkuat fungsi pasar sebagai sarana promosi produk lokal. Namun, keberlanjutan usaha juga membutuhkan konsistensi penyelenggaraan, pengelolaan yang tertata, dan daya tarik yang mampu mendorong kunjungan berulang.

Pasar Lambe Lawas kini memiliki peluang untuk berkembang melalui perpaduan kuliner tradisional, pertanian edukatif, dan pemberdayaan ekonomi. Ketiga unsur tersebut dapat saling mendukung dalam membangun destinasi yang berakar pada budaya lokal.

Lebih dari sekadar tempat berjualan, Pasar Lambe Lawas diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat tradisi sekaligus mengembangkan peluang usaha. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, pasar ini berpotensi memperkuat daya tarik wisata dan ekonomi kreatif di Malang Raya.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *