JATIMTERBARU.COM, MALANG – Keterbatasan anggaran membuat kontingen Kota Malang yang diproyeksikan tampil pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XV Jawa Timur 2026 harus dipangkas. Dari lebih dari 400 atlet yang diusulkan sejumlah cabang olahraga, hanya sekitar 200 atlet yang diperkirakan dapat dibiayai pemerintah daerah.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, mengatakan alokasi anggaran untuk keberangkatan kontingen berada di kisaran Rp1 miliar. Dana tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan atlet dan official, termasuk jersey, transportasi serta akomodasi selama mengikuti ajang olahraga pelajar tingkat Jawa Timur tersebut.
“Anggaran kita kan hanya sekitar Rp1 miliar. Dari cabor itu 400 sekian atletnya. Hitung-hitungan kemarin, kalau dengan anggaran Rp1 miliar itu, kita hanya bisa memberangkatkan 200 atlet,” kata Arif.
Kondisi tersebut membuat pemerintah harus menentukan skala prioritas. Tidak seluruh nama yang diajukan cabang olahraga dapat otomatis masuk dalam kontingen yang dibiayai melalui anggaran daerah.
Arif menegaskan, proses penentuan atlet bukan menjadi kewenangan sepenuhnya Disporapar. Pengurus masing-masing cabang olahraga diberikan ruang untuk merekomendasikan atlet yang dinilai paling siap dan memiliki peluang kompetitif di arena POPDA.
“Yang menentukan bukan saya, tetapi dari masing-masing ketua cabornya,” ujar Arif.
Prioritas terutama diarahkan kepada atlet yang mempunyai peluang lebih besar untuk menyumbangkan medali. Dengan keterbatasan jumlah peserta yang dapat dibiayai, Disporapar ingin memastikan setiap atlet yang diberangkatkan memiliki potensi memberikan kontribusi terhadap prestasi Kota Malang.
Meski demikian, atlet yang tidak masuk dalam kuota pembiayaan pemerintah masih memiliki kesempatan untuk tampil. Mereka dapat berangkat secara mandiri, dengan seluruh kebutuhan biaya menjadi tanggung jawab atlet masing-masing.
Untuk mengantisipasi perbedaan pemahaman terkait mekanisme tersebut, Disporapar menyiapkan surat pernyataan sebagai bentuk kesepakatan. Dokumen itu nantinya diketahui oleh orang tua atlet serta pengurus cabang olahraga.
“Makanya kita buatkan surat pernyataan biar sama-sama enak. Itu pun diketahui sama orang tua, diketahui sama ketua cabornya,” katanya.
Arif mengungkapkan, kemampuan pembiayaan kontingen sebenarnya sempat berada pada kondisi yang jauh lebih terbatas. Sebelum mendapat tambahan anggaran melalui pembahasan bersama DPRD Kota Malang, pagu yang tersedia hanya sekitar Rp400 juta.
Dengan besaran anggaran tersebut, Disporapar sebelumnya memperkirakan hanya mampu mengakomodasi sekitar 70 atlet dan official. Tambahan anggaran kemudian diperjuangkan melalui pembahasan atau hearing bersama DPRD.
Hasil pembahasan tersebut membuat alokasi meningkat menjadi sekitar Rp1 miliar. Namun, angka tersebut masih belum sebanding dengan kebutuhan untuk memberangkatkan seluruh atlet yang diajukan oleh berbagai cabang olahraga.
Karena itu, strategi efisiensi diterapkan dengan mencari atlet yang memiliki peluang prestasi pada lebih dari satu nomor pertandingan. Pola tersebut dinilai dapat meningkatkan efektivitas kontingen tanpa harus menambah jumlah atlet secara signifikan.
“Jadi yang dikirim ini, misalkan satu atlet itu berpotensi bukan hanya satu emas, tapi bisa menjadi dua emas,” jelas Arif.
Cabang atletik menjadi salah satu contoh. Atlet yang memiliki peluang kompetitif pada lebih dari satu nomor, seperti 100 meter dan 400 meter, akan menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan daftar prioritas kontingen.
Sementara itu, Disporapar belum menetapkan target perolehan medali Kota Malang pada POPDA XV Jawa Timur 2026. Penentuan target masih menunggu komposisi akhir atlet yang dipastikan berangkat.
“Kalau targetnya ini masih kita rapatkan kemarin. Setelah ini kerangkanya jadi, kita rapatkan lagi, targetnya berapa,” pungkasnya.
















