JATIMTERBARU.COM, MALANG – Kesehatan mental menjadi salah satu perhatian Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) dalam membangun lingkungan akademik yang sehat dan suportif. Melalui seminar Self Emotion Regulation, FTAB UB mengajak mahasiswa memahami emosi sekaligus membangun kemampuan mengelolanya secara bijak.
Mengusung tema “A Space to Feel, A Space to Heal”, kegiatan tersebut berlangsung di Aula Lantai 2 Gedung A FTAB UB, Rabu (28/10/2026). Unit Layanan Konseling, Pencegahan Kekerasan (ULKPK) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTAB UB menginisiasi seminar ini sebagai bagian dari peringatan World Mental Health Day 2026.
Puluhan mahasiswa dari berbagai program studi mengikuti kegiatan tersebut. Selain memberikan pemahaman mengenai kesehatan psikologis, seminar ini juga membekali peserta dengan keterampilan mengenali perasaan, memahami pemicu emosi, dan menentukan respons yang tepat ketika menghadapi tekanan akademik maupun persoalan sosial.
Seminar menghadirkan Ahmad Syafiin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, psikolog klinis dari layanan konseling Universitas Brawijaya, sebagai pemateri utama.
FTAB UB Perkuat Kepedulian terhadap Kesehatan Mental
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FTAB UB, Dr. Mochamad Bagus Hermanto, S.TP., M.Sc., menempatkan kesehatan mental sebagai bagian penting dari keberhasilan pendidikan tinggi.
Menurutnya, mahasiswa membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik dan penguasaan teknologi. Mereka juga perlu memiliki ketangguhan psikologis agar mampu menghadapi tekanan selama menjalani pendidikan.
“Kami di FTAB tidak hanya ingin mahasiswa unggul secara akademik dan inovasi teknologi, tetapi juga tangguh secara mental. Seminar ini adalah ruang aman. A Space to Feel, A Space to Heal bukan sekadar tema, tapi komitmen kami bahwa setiap mahasiswa berhak merasakan emosinya dan berhak mendapatkan ruang untuk pulih. Jangan pernah merasa sendirian menghadapi tekanan kuliah,” ujar Bagus.
Ia juga menegaskan bahwa ULKPK FTAB terus memperluas peran layanan konseling. Unit tersebut tidak hanya menangani persoalan setelah muncul, tetapi juga membangun kesadaran dan mencegah berbagai bentuk kekerasan maupun tekanan emosional.
Karena itu, Bagus mengajak mahasiswa memanfaatkan layanan ULKPK ketika menghadapi perundungan, kekerasan, atau persoalan psikologis yang mengganggu aktivitas mereka.
“ULKPK FTAB hadir bukan hanya ketika ada masalah, tapi untuk mencegah dan membangun kesadaran. Jika ada kekerasan, perundungan, atau tekanan emosional yang mengganggu, silakan datang. Pintu kami terbuka, dan kerahasiaan terjaga,” tegasnya.
Mengenali Emosi, Bukan Menekan Perasaan
Memasuki sesi materi, Ahmad Syafiin mengajak mahasiswa mengubah perspektif terhadap emosi. Ia menjelaskan bahwa setiap perasaan memiliki fungsi sebagai sinyal yang memberikan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan seseorang.
Dengan demikian, kesedihan, kemarahan, maupun kecemasan bukanlah sesuatu yang harus selalu dihindari. Persoalan justru muncul ketika seseorang kesulitan memahami perasaannya dan tidak mampu menentukan respons yang sehat.
“Emosi itu bukan musuh yang harus dilawan atau ditekan. Emosi itu adalah data. Ia adalah informasi tentang apa yang sedang terjadi pada diri kita dan apa yang kita butuhkan. Sedih, marah, cemas, itu wajar. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak tahu bagaimana harus meresponsnya,” jelas Syafiin.
Ia kemudian menguraikan berbagai tekanan yang kerap mewarnai kehidupan mahasiswa. Beban tugas, tuntutan prestasi, penyelesaian skripsi, konflik kelompok, persoalan keuangan, hingga ketidakpastian masa depan dapat memengaruhi kondisi emosional.
Menurut Syafiin, masa peralihan menuju kedewasaan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Mahasiswa mulai menghadapi tuntutan untuk mengambil keputusan dan mengatur kehidupannya secara mandiri.
“Mahasiswa sekarang berada di fase transisi yang tidak mudah. Dari remaja ke dewasa, dari diatur menjadi mengatur diri sendiri. Jadi wajar jika emosinya naik-turun. Kuncinya bukan menghilangkan emosi negatif, tapi bagaimana kita memberi jeda antara emosi dan reaksi,” paparnya.
Ia menekankan bahwa regulasi emosi bukan berarti seseorang harus selalu tenang atau menghindari kemarahan. Kemampuan tersebut justru terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan respons tanpa bertindak secara impulsif.
Syafiin juga memperkenalkan alur situasi, interpretasi, emosi, dan respons. Menurutnya, seseorang memang tidak selalu dapat mengubah keadaan yang dihadapi. Namun, setiap orang dapat melatih cara memaknai keadaan tersebut sebelum mengambil tindakan.
Empat Strategi Mengelola Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari
Tidak hanya memberikan penjelasan teoritis, Syafiin memperkenalkan sejumlah teknik sederhana yang dapat mahasiswa praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, pause technique, yakni mengambil jeda sekitar tiga hingga lima detik sebelum memberikan respons ketika emosi meningkat. Langkah sederhana ini membantu seseorang menghindari keputusan spontan yang berpotensi memperburuk keadaan.
Kedua, teknik grounding. Metode ini mengarahkan perhatian pada kondisi fisik dan lingkungan sekitar. Mahasiswa dapat mempraktikkannya dengan merasakan telapak kaki menyentuh lantai atau mengatur pernapasan ketika pikiran mulai terasa penuh.
Selanjutnya, mindfulness dan emotional labeling membantu seseorang mengenali sekaligus menyebutkan emosi secara lebih spesifik.
Syafiin mengajak peserta tidak sekadar menyebut dirinya sedang mengalami suasana hati buruk. Sebaliknya, mereka perlu mengenali apakah perasaan tersebut muncul karena kecewa, merasa diremehkan, atau takut menghadapi kegagalan.
Ketika seseorang mampu mengidentifikasi emosinya, ia memiliki kesempatan lebih baik untuk memahami penyebab dan menentukan respons yang sesuai.
Strategi keempat adalah cognitive reappraisal, yaitu mengevaluasi kembali pola pikir yang cenderung negatif atau berlebihan.
Sebagai contoh, mahasiswa dapat mengganti pikiran bahwa dirinya pasti gagal menyelesaikan skripsi dengan pandangan bahwa proses tersebut memang sulit, tetapi tetap bisa diselesaikan secara bertahap.
Dalam kesempatan itu, Syafiin juga mengingatkan pentingnya penerimaan diri atau self-acceptance. Ia meminta mahasiswa berhenti menuntut kesempurnaan dan memberikan ruang bagi dirinya untuk mengalami berbagai perasaan.
“Kita sering kali paling kejam kepada diri sendiri. Kita menuntut diri harus selalu sempurna, selalu kuat. Padahal self-acceptance itu penting. Izinkan diri untuk tidak baik-baik saja. Mencari bantuan profesional ke psikolog itu bukan tanda lemah, itu justru tanda berani dan tanda kamu peduli pada dirimu sendiri,” ungkapnya.
Diskusi Interaktif dan Evaluasi Pemahaman Peserta
Antusiasme mahasiswa terlihat sepanjang sesi diskusi. Sejumlah peserta mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka, mulai dari kebiasaan overthinking pada malam hari, menghadapi anggota kelompok yang bermasalah, hingga rasa tidak percaya diri ketika membandingkan pencapaian dengan orang lain di media sosial.
Berbagai pertanyaan tersebut memperlihatkan pentingnya ruang diskusi yang terbuka agar mahasiswa dapat memahami persoalan emosional tanpa merasa terhakimi.
Untuk mengukur efektivitas penyampaian materi, panitia juga menggelar evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai konsep regulasi emosi dan berbagai teknik pengelolaannya.
Selaras dengan Target Pembangunan Berkelanjutan
Seminar ini juga mendukung sejumlah agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Pertama, SDG 3 tentang Good Health and Well-being. Melalui edukasi regulasi emosi, FTAB UB mendorong kesadaran bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan manusia.
Kedua, SDG 4 tentang Quality Education. Lingkungan pendidikan yang berkualitas tidak hanya mengutamakan pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Ketiga, SDG 16 tentang Peace, Justice and Strong Institutions. Penguatan fungsi ULKPK menjadi salah satu langkah fakultas dalam membangun lingkungan kampus yang aman, inklusif, serta menjunjung tinggi prinsip keadilan melalui pencegahan kekerasan, perundungan, dan diskriminasi.
Melalui sinergi ULKPK dan BEM FTAB UB, fakultas ingin membangun budaya kampus yang lebih terbuka terhadap persoalan kesehatan mental. Kolaborasi tersebut sekaligus memperkuat peran organisasi mahasiswa dalam mendorong lingkungan pendidikan yang peduli terhadap kesejahteraan seluruh sivitas akademika.
FTAB UB berharap mahasiswa tidak hanya menguasai kompetensi akademik dan keterampilan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran diri, ketahanan psikologis, serta kemampuan mengelola emosi.
Lebih jauh, semangat “A Space to Feel, A Space to Heal” diharapkan terus tumbuh dalam kehidupan kampus. Dengan begitu, setiap mahasiswa memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan, mencari dukungan, dan mengembangkan potensi diri tanpa dibayangi stigma terhadap persoalan kesehatan mental.
















