JATIMTERBARU.COM, MALANG – Ribuan taekwondoin dari sejumlah daerah berkumpul di GOR Ken Arok, Kota Malang, dalam gelaran Indonesia Super Fight 4. Kejuaraan yang berlangsung 2–4 Oktober 2026 tersebut tidak hanya menjadi panggung kompetisi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai bagian dari pemantauan perkembangan atlet.
Wakil Ketua Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Jawa Timur, Hendra Prastiyawan, menjelaskan bahwa Indonesia Super Fight merupakan agenda tahunan yang masuk dalam program bidang pertandingan Pengprov TI Jatim.
Menurut Hendra, intensitas pertandingan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas atlet. Dengan menghadapi lawan dari berbagai daerah, atlet mendapatkan pengalaman sekaligus kesempatan mengukur kemampuan sebelum memasuki kompetisi yang lebih tinggi.
“Ini untuk meningkatkan para atlet-atlet kita dalam rangka menuju prestasi yang gemilang. Tingkat nasional maupun tingkat internasional,” ujar Hendra.
Pada penyelenggaraan tahun ini, sekitar 2.054 atlet tercatat ambil bagian dengan membawa nama 94 kontingen. Selain kontingen Jawa Timur, peserta juga berasal dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali hingga Nusa Tenggara Timur.
Persaingan semakin menarik dengan keikutsertaan sejumlah tim pembinaan. Di antaranya Puslatda Jatim, Puslatda DIY, Puslatda Jawa Tengah dan PPLM yang menurunkan atlet-atlet binaannya.
Banyaknya peserta dengan latar belakang pembinaan berbeda membuat kejuaraan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk melihat sejauh mana perkembangan performa masing-masing atlet. Hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan menghadapi agenda olahraga yang sudah berada di depan mata.
“Ini untuk menghadapi Porprov di tahun 2027 dan juga di Popda tahun 2026 di bulan November besok,” kata Hendra.
Sementara itu, Ketua Pengkot TI Kota Malang, Thomas Tri Budi Dharma, menerangkan bahwa Indonesia Super Fight 4 diikuti atlet dari berbagai unsur. Selain klub, peserta berasal dari instansi, pemerintah daerah maupun perguruan tinggi.
Pertandingan dibagi dalam kategori prestasi dan semi prestasi dengan rentang usia yang cukup luas. Mulai dari pra-kadet, kadet, junior, senior hingga kategori master turut dipertandingkan dalam ajang tersebut.
Khusus bagi Jawa Timur, hasil pertandingan dapat memberikan gambaran mengenai kesiapan atlet yang disiapkan untuk menghadapi Popda 2026 dan Porprov 2027. Kota Malang juga menggunakan momentum tersebut untuk melihat kembali komposisi atlet yang tengah dipersiapkan.
Thomas menyampaikan bahwa sebagian atlet Kota Malang yang diproyeksikan turun pada Popda maupun Porprov sudah mulai mengerucut. Sejumlah nama bahkan telah menempati posisi tim inti, sedangkan beberapa kelas masih menyisakan persaingan antara dua atlet.
Kondisi tersebut membuat hasil Indonesia Super Fight 4 menjadi salah satu pertimbangan dalam proses evaluasi. Tim pelatih tidak hanya melihat perolehan kemenangan, tetapi juga mengamati aspek teknik, kondisi fisik serta peluang atlet untuk menyumbangkan medali.
“Yang pasti kita akan mengevaluasi lebih detail. Kekurangan-kekurangan, baik teknik, fisik, dan lainnya,” ungkap Thomas.
Menurut Thomas, bertemu dengan lawan yang memiliki karakter dan tingkat kemampuan berbeda juga penting bagi perkembangan atlet. Pengalaman tersebut dapat membantu menemukan potensi baru sekaligus memberikan gambaran mengenai bagian yang masih perlu diperbaiki sebelum menghadapi kompetisi resmi.
Hendra pun mengingatkan para atlet agar tidak terlena ketika meraih kemenangan maupun kehilangan semangat setelah mengalami kekalahan. Setiap pertandingan, menurutnya, merupakan bagian dari tahapan pembinaan yang membutuhkan proses dan konsistensi.
“Jangan bangga dalam pencapaian prestasi dan jangan putus asa bagi yang belum pencapaian prestasi. Ini adalah proses perjalanan panjang untuk menuju prestasi yang gemilang,” pungkasnya.
















