Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Operasi Terpadu Kebakaran TNBTS, Balai Besar Tegaskan Prioritas Keselamatan dan Pemulihan Ekosistem

75
×

Operasi Terpadu Kebakaran TNBTS, Balai Besar Tegaskan Prioritas Keselamatan dan Pemulihan Ekosistem

Sebarkan artikel ini
Operasi Pemadaman Kebakaran TNBTS /foto Humas Kementrian Kehutanan RI

JATIMTERBARU.COM, PROBOLINGGO – Operasi pemadaman kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus diintensifkan secara terpadu oleh Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan.

Hingga Rabu (5/8), upaya lokalisasi titik api di Blok Watu Gede masih berlangsung guna membatasi penyebaran karhutla serta meminimalkan kerusakan ekologis pada vegetasi savana, cemara gunung, pakis, dan semak belukar.

Example 300x600

Penanganan di lapangan menghadapi tantangan geografis yang dinamis, mulai dari kontur perbukitan terjal dan lereng kecuraman tinggi, vegetasi kering yang mudah terbakar, hingga keterbatasan sumber air.

Untuk mengantisipasi hambatan tersebut, pasokan air disalurkan secara berkala menggunakan armada truk tangki menuju titik-titik taktis yang dapat dijangkau personel pemadam.

Operasi ini digerakkan secara responsif berkat verifikasi darat (ground check) pascadeteksi dini titik panas (hotspot) berkepercayaan sedang oleh Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) melalui data satelit NASA-MODIS pada Selasa (4/8).

Langkah terpadu ini melibat gabungan unsur Balai Besar TNBTS, Manggala Agni Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, TNI, Polri, BPBD Kabupaten Probolinggo, Masyarakat Peduli Api, serta sukarelawan lokal.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan penanganan kawasan konservasi ini menjadi prioritas mendesak mengingat peran vital ekosistem Bromo bagi kehidupan masyarakat dan keanekaragaman hayati.

“Bromo bukan hanya destinasi wisata, melainkan kawasan konservasi penopang kehidupan. Api harus segera dikendalikan, penyebabnya diungkap, dan kawasannya dipulihkan. Kami juga mengimbau masyarakat untuk aktif menjaga aktivitas di sekitar kawasan serta segera melaporkan potensi kebakaran,” ujar Dwi Januanto, Jumat (7/8/2026).

Sebagai langkah mitigasi risiko dan demi kelancaran penyekatan api, Balai Besar TNBTS menerapkan penutupan terbatas pada sejumlah jalur akses wisata. Pintu masuk via Jemplang dan Coban Trisula (Kabupaten Malang) serta Senduro (Kabupaten Lumajang) ditutup sementara sejak 3 Agustus 2026.

Sementara itu, akses via Cemoro Lawang (Probolinggo) dan Wonokitri (Pasuruan) hanya dibuka terbatas hingga batas Lautan Pasir, sedangkan area Savana steril dari seluruh aktivitas pengunjung.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menjelaskan penutupan sebagian akses difokuskan untuk menjamin keselamatan publik dan mempermudah pergerakan tim pemadam di lapangan.

Penilaian komprehensif terkait dampak kerusakan akan segera dilakukan pasca-penanganan sebagai pijakan rencana pemulihan ekosistem kawasan.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, memastikan strategi pemadaman terus disesuaikan dengan kondisi tapak secara fleksibel guna menekan laju rambatan api pada sektor-sektor kritis dengan tetap mengedepankan keselamatan personel.

Langkah respons cepat dan kolaboratif ini menjadi wujud komitmen berkelanjutan Kementerian Kehutanan dalam memperkuat sistem deteksi dini, penegakan hukum, serta perlindungan kawasan konservasi nasional dari ancaman kerugian ekologis yang lebih luas.(*)

 

Sumber Berita : Humas Kementerian Kehutanan Republik Indonesia

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *