Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Pangan Lokal Jadi Kekuatan Ekonomi, Dispangtan Kota Malang Dorong Inovasi Produk Olahan

109
×

Pangan Lokal Jadi Kekuatan Ekonomi, Dispangtan Kota Malang Dorong Inovasi Produk Olahan

Sebarkan artikel ini
Disoangtan Kota Malang Dorong Pengolahan Makanan berbasis Sumberdaya Lokal

JATIMTERBARU.COM, MALANG KOTA – Pemerintah Kota Malang terus mendorong penguatan ketahanan pangan melalui optimalisasi sumber daya pangan lokal.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pangan Olahan Tahun Anggaran 2026 yang diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah komoditas lokal menjadi produk pangan yang sehat, aman, bergizi, sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Example 300x600

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKP3) Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, SP, mengatakan pengembangan pangan olahan menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga tidak harus selalu bergantung pada bahan pangan mahal maupun produk impor. Kota Malang memiliki beragam potensi pangan lokal yang dapat dikembangkan melalui kreativitas dan inovasi.

“Berbagai komoditas lokal seperti ubi jalar, labu kuning, singkong, dan pisang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi beragam produk pangan yang menarik, bergizi, aman, dan bernilai ekonomi,” ujar Slamet Husnan Hariyadi.

Ia menegaskan, diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Pemanfaatan bahan pangan lokal secara optimal juga dapat membuka peluang usaha baru serta memperkuat perekonomian masyarakat.

Di sisi lain, Slamet mengungkapkan bahwa sektor pertanian di Kota Malang menghadapi tantangan berupa keterbatasan lahan akibat alih fungsi lahan.

Kondisi tersebut menuntut adanya strategi dan inovasi agar sektor pertanian tetap mampu memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan sekaligus perekonomian daerah.

“Dengan kondisi lahan pertanian yang terus menghadapi tekanan akibat alih fungsi, masyarakat dituntut semakin inovatif. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui hilirisasi hasil pertanian menjadi produk pangan olahan yang memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Melalui pelatihan tersebut, DKP3 Kota Malang berupaya membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam mengolah bahan pangan lokal.

Peserta diharapkan mampu mengembangkan produk yang tidak hanya memiliki daya tarik dari sisi rasa dan tampilan, tetapi juga memperhatikan aspek gizi, keamanan pangan, serta peluang pemasarannya.

Slamet menambahkan, pengembangan pangan olahan juga diharapkan dapat mendorong masyarakat menerapkan pola konsumsi yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA).

Dengan demikian, pemanfaatan pangan lokal dapat memberikan manfaat ganda, yakni memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus menciptakan peluang ekonomi produktif.

“Harapannya, pelatihan ini tidak berhenti pada peningkatan keterampilan, tetapi dapat mendorong lahirnya produk-produk pangan lokal yang inovatif, berkualitas, memiliki nilai jual, dan mampu berkembang menjadi usaha masyarakat,” tuturnya.

Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber dari Universitas Widyagama dan PT Canggi Fully Group. Kehadiran para narasumber diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta, khususnya dalam aspek pengolahan, inovasi, serta pengembangan produk pangan olahan berbasis potensi lokal.

Slamet berharap kegiatan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa pangan lokal memiliki potensi besar apabila dikelola secara kreatif dan profesional.

“Pangan lokal bukan sekadar bahan konsumsi, tetapi merupakan potensi ekonomi yang harus terus dikembangkan. Dengan inovasi dan keterampilan, hasil pertanian dapat memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dr. Elfiatur Roikhah, SE, AK, MM, mengatakan pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.

“Pelatihan pangan olahan ini merupakan bagian dari upaya mempercepat penganekaragaman pangan berbasis potensi sumber daya lokal. Tujuannya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui pemanfaatan bahan pangan khas daerah,” ujar Elfiatur.

Menurutnya, diversifikasi pangan tidak sebatas memperkenalkan alternatif makanan pengganti beras, tetapi juga membangun kebiasaan konsumsi masyarakat agar semakin beragam.

Untuk itu, masyarakat perlu mendapatkan pengetahuan sekaligus keterampilan dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi sajian yang memiliki cita rasa, tampilan, dan kandungan gizi yang menarik.

Salah satu komoditas yang tengah dikembangkan Pemerintah Kota Malang adalah ubi jalar.

Pengembangannya dilakukan melalui budidaya sistem karung yang dinilai relevan dengan karakteristik wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan pertanian.

Dalam pengembangannya, Pemkot Malang bekerja sama dengan Universitas Brawijaya (UB).

Sejak 2024, pemerintah telah mendistribusikan bibit ubi jalar varietas Brawijaya kepada 115 kelompok urban farming sebagai bagian dari penguatan pemanfaatan lahan dan pengembangan pangan lokal di lingkungan masyarakat.

“Mulai tahun 2024, kami bersama UB mengembangkan budidaya ubi jalar dengan sistem karung. Bibit ubi varietas Brawijaya telah dibagikan kepada 115 kelompok urban farming. Ini menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan produksi pangan lokal dengan masyarakat perkotaan,” jelasnya.

Elfi menilai, pengembangan dari sisi hulu harus berjalan beriringan dengan penguatan di sektor hilir.

Artinya, masyarakat tidak hanya didorong untuk mampu membudidayakan komoditas pangan lokal, tetapi juga memiliki keterampilan mengolah hasil panen menjadi produk pangan yang bernilai konsumsi dan ekonomi.

Oleh sebab itu, pelatihan pangan olahan diarahkan untuk memberikan keterampilan kepada masyarakat dalam mengolah ubi jalar dan berbagai bahan pangan lokal lainnya menjadi makanan yang sehat, bergizi, enak, serta memiliki tampilan yang menarik.

Menurutnya, aspek kreativitas dalam pengolahan pangan menjadi penting, terutama dalam membangun ketertarikan generasi muda terhadap pangan lokal.

Anak-anak diharapkan tidak hanya mengenal dan menyukai makanan impor maupun menu dari luar daerah, tetapi juga memiliki ketertarikan terhadap pangan yang bersumber dari potensi daerah sendiri.

“Bagaimana bahan pangan lokal ini bisa diolah menjadi makanan yang bergizi, enak dan menarik. Harapannya, anak-anak tidak hanya menyukai makanan impor atau menu luar, tetapi juga bangga dan terbiasa mengonsumsi pangan lokal,” ungkapnya.

Lebih jauh, Elfi menegaskan bahwa diversifikasi pangan memiliki sasaran yang lebih besar, yakni mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap komoditas pangan tertentu, terutama beras.

Upaya tersebut diharapkan secara bertahap dapat mengubah pola konsumsi masyarakat menuju pola pangan yang lebih beragam dan seimbang.

Ia menjelaskan, keberagaman konsumsi masyarakat salah satunya tercermin melalui Pola Pangan Harapan (PPH).

Indikator tersebut menggambarkan tingkat keberagaman konsumsi pangan yang pada akhirnya berkaitan erat dengan kualitas dan kecukupan asupan gizi masyarakat.

“PPH menunjukkan keberagaman konsumsi pangan. Semakin beragam pola konsumsi masyarakat, diharapkan semakin baik pula asupan gizinya,” katanya.

Berdasarkan data 2025, tingkat konsumsi kelompok pangan umbi-umbian di Kota Malang masih berada di kisaran 8 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap beras masih relatif tinggi.

Karena itu, penguatan budidaya ubi jalar melalui kelompok urban farming akan terus dipadukan dengan edukasi dan pelatihan pengolahan pangan. Dengan strategi tersebut, masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap bahan pangan lokal, tetapi juga memperoleh alternatif menu yang mudah diolah dan dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.

Elfi berharap sinergi antara budidaya pangan lokal dan pengembangan produk olahan mampu mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat secara bertahap. Targetnya, konsumsi beras di Kota Malang dapat ditekan hingga berada pada kisaran 88–90 persen, seiring meningkatnya konsumsi pangan alternatif berbasis sumber daya lokal.

“Jadi, tidak hanya produksi yang kita dorong, tetapi juga bagaimana hasil produksi itu dikonsumsi masyarakat. Kalau masyarakat sudah terbiasa mengonsumsi pangan lokal, ketergantungan terhadap beras dapat dikurangi dan pola pangan masyarakat menjadi lebih beragam,” pungkasnya.

Melalui pendekatan dari hulu hingga hilir tersebut, Pemerintah Kota Malang berharap diversifikasi pangan tidak berhenti sebagai program, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat.

Optimalisasi komoditas lokal seperti ubi jalar diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan perkotaan, meningkatkan kualitas gizi keluarga, sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis potensi pangan lokal.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan Pemerintah Kota Malang dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat, serta mendorong hilirisasi komoditas pertanian lokal.

 

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *