Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Empat Tahun Kanjuruhan, Doa 135 Korban Kembali Menggema di Balai Kota Malang

122
×

Empat Tahun Kanjuruhan, Doa 135 Korban Kembali Menggema di Balai Kota Malang

Sebarkan artikel ini
Massa dan keluarga korban membentangkan spanduk bertuliskan tuntutan keadilan bagi 135 korban Kanjuruhan saat menggelar doa bersama di depan Balai Kota Malang, Kamis (1/10/2026)

JATIMTERBARU.COM, KOTA MALANG – Empat tahun setelah Tragedi Kanjuruhan, masyarakat Malang Raya kembali memperingati 1 Oktober dengan doa bersama. Aremania berkumpul di depan Balai Kota Malang, Kamis (1/10/2026), untuk mengenang 135 korban yang meninggal dunia dalam tragedi tersebut.

Doa bersama berlangsung dalam suasana hening dan penuh penghormatan. Sejumlah peserta membawa spanduk yang berisi pesan untuk terus mengingat para korban dan menyuarakan persoalan keadilan.

Example 300x600

Doa bersama berlangsung dalam suasana hening dan penuh penghormatan. Sejumlah peserta membawa spanduk yang berisi pesan untuk terus mengingat para korban dan menyuarakan persoalan keadilan.

Salah satu tulisan yang menjadi perhatian berbunyi, “Semua Ada di Malang, Kecuali Keadilan.”

Salah satu tulisan yang menjadi perhatian berbunyi, “Semua Ada di Malang, Kecuali Keadilan.”

Peringatan tersebut tidak hanya menjadi kegiatan mengenang korban. Aremania juga kembali mengingatkan pentingnya keselamatan penonton serta penyelesaian persoalan yang masih berkaitan dengan Tragedi Kanjuruhan.

Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menyatakan pihaknya siap membawa aspirasi masyarakat terkait Tragedi Kanjuruhan ke tingkat pemerintah pusat.

Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menyatakan pihaknya siap membawa aspirasi masyarakat terkait Tragedi Kanjuruhan ke tingkat pemerintah pusat.

Menurut Amithya, DPRD memiliki kewajiban untuk menampung aspirasi masyarakat, termasuk keluarga korban dan Aremania, kemudian menyampaikannya melalui jalur kelembagaan.

“Kami akan menyampaikan dan mengawal persoalan Tragedi Kanjuruhan ini ke tingkat pusat. Apa yang menjadi aspirasi masyarakat, keluarga korban, dan Aremania akan kami sampaikan melalui jalur yang ada,” ujar Amithya.

Ia menegaskan bahwa persoalan Kanjuruhan perlu terus menjadi perhatian. Terlebih, setiap 1 Oktober masyarakat kembali mengenang 135 orang yang kehilangan nyawa dalam tragedi tersebut.

Selain Aremania, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang turut menyampaikan sikap melalui press release dalam momentum empat tahun Tragedi Kanjuruhan.

HMI menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari penyelesaian Tragedi Kanjuruhan hingga keamanan masyarakat di Kota Malang. Mereka juga menekankan pentingnya pemenuhan hak masyarakat atas keadilan, pendidikan, dan rasa aman.

Dalam pernyataannya, HMI menyebut Tragedi Kanjuruhan masih menyisakan persoalan terkait pertanggungjawaban, keadilan, dan pemulihan bagi korban

HMI Cabang Malang juga menyinggung perhatian serta temuan Komnas HAM terkait tragedi tersebut. Mereka mendorong agar proses penyelesaian dilakukan sesuai mekanisme hukum dan prinsip hak asasi manusia.

Salah satu tuntutan yang disampaikan adalah mendorong pengusutan Tragedi Kanjuruhan melalui mekanisme pelanggaran HAM berat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Negara tidak cukup hadir melalui janji, kebijakan, atau seremoni, tetapi harus hadir dalam bentuk keadilan bagi korban dan keamanan bagi masyarakat,” tulis HMI Cabang Malang.

Empat tahun berlalu sejak tragedi yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Namun, setiap peringatan 1 Oktober menjadi pengingat bahwa 135 korban masih dikenang oleh masyarakat.

Doa bersama, penyampaian aspirasi, dan berbagai pernyataan dari elemen masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan terhadap Tragedi Kanjuruhan sekaligus mendorong penyelesaian persoalan yang masih menjadi perhatian publik.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *