JATIMTERBARU.COM, MALANG – Ancaman genangan dan banjir saat curah hujan meningkat membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang memperketat perhatian terhadap kondisi sejumlah aliran sungai dan saluran air. Tumpukan sampah yang masih ditemukan di beberapa titik dinilai berpotensi menghambat laju aliran air.
DLH Kota Malang kini melakukan pemetaan terhadap lokasi-lokasi yang membutuhkan penanganan. Pembersihan dalam waktu dekat menyasar kawasan Sungai Merjosari dan Kadalpang.
Plt Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, menyampaikan bahwa keberadaan sampah di aliran sungai masih menjadi persoalan yang harus segera ditangani, terutama menjelang periode dengan curah hujan tinggi.
“Memang beberapa sungai di Kota Malang masih ada permasalahan sampah. Kami akan menyisir beberapa lokasi untuk melakukan pembersihan sampah di sungai. Untuk rencananya antara Sabtu atau Minggu akan kami jadwalkan di sungai Merjosari dan di Kadalpang,” ujar Raymond, Jumat (2/10/2026).
Menurut dia, penanganan sampah di sungai membutuhkan persiapan lebih dibandingkan kegiatan pembersihan di daratan. DLH tidak dapat sewaktu-waktu mengerahkan petugas karena pekerjaan dilakukan langsung di dalam maupun sekitar aliran air.
Kondisi tersebut membuat kesiapan personel dan perlengkapan menjadi bagian penting sebelum kegiatan dilaksanakan. Petugas yang diterjunkan juga harus memiliki kemampuan berenang serta memahami risiko bekerja di tengah arus.
“Untuk kondisi seperti itu tidak bisa waktu yang mepet, harus persiapan alat dan teman-teman yang terbiasa berenang, karena posisinya di arus air dan juga untuk keselamatan teman-teman,” jelasnya.
Raymond menjelaskan, persoalan sampah yang muncul di sungai Kota Malang tidak selalu berasal dari aktivitas masyarakat di wilayah kota. Aliran sungai memungkinkan membawa sampah dari kawasan hulu yang berada di luar wilayah administratif Kota Malang.
Dengan kondisi tersebut, upaya penanganan dilakukan melalui dua pendekatan, yakni pembersihan fisik dan pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat. Imbauan agar warga tidak menjadikan sungai sebagai tempat membuang sampah terus dilakukan meski pada praktiknya masih ditemukan sampah di sejumlah aliran.
Beberapa sungai yang masih menjadi perhatian antara lain Sungai Brantas, Sungai Sukun, dan Sungai Metro. DLH juga mencermati saluran bekas irigasi serta jaringan drainase yang berpotensi mengalami penyumbatan ketika hujan deras berlangsung.
Salah satu titik yang mendapat perhatian adalah kawasan Jalan Soekarno-Hatta. Sistem drainase di kawasan tersebut berpotensi tidak bekerja optimal apabila aliran air terganggu oleh sampah. Akibatnya, air dapat meluap dan memicu terbentuknya genangan.
“Makanya titik-titik itu yang juga akan kami bersihkan sebelum mendekati musim hujan,” tegas Raymond.
Untuk memperkuat penanganan, DLH juga membuka peluang kolaborasi dengan sejumlah pihak di luar pemerintah. Dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), termasuk dari perguruan tinggi, dapat diarahkan untuk membantu kebutuhan sarana penanganan sampah di sungai.
Meski demikian, pemanfaatan dukungan tersebut akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi. DLH terlebih dahulu akan menentukan titik yang membutuhkan penanganan lebih serius berdasarkan volume dan tingkat persoalan sampah.
“Kami usahakan. Nanti kami lihat kondisi beberapa lokasi terlebih yang memang banyak sampahnya,” ujarnya.
Langkah penertiban juga telah dilakukan DLH terhadap keberadaan lokasi pembuangan sampah liar di kawasan Bumiayu. Titik tersebut sudah ditutup dan tidak lagi diperbolehkan digunakan masyarakat untuk membuang sampah.
Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah DLH Kota Malang untuk mengurangi sumber sampah yang berpotensi masuk ke sungai sekaligus menjaga kapasitas aliran air ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.
















