JATIMTERBARU.COM, MALANG — Batik Kota Malang kembali memperkaya khazanah motif khas daerah. Melalui Festival Batik Kota Malang dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, diperkenalkan motif Sekar Jagad Pancawarna yang mengangkat identitas, karakter, serta kekayaan Kota Malang dalam satu karya batik.
Motif tersebut dirancang bukan semata sebagai produk fesyen, melainkan sebagai media untuk merepresentasikan cerita dan karakter sebuah daerah. Unsur geografis, potensi, sejarah, serta kekhasan Kota Malang diterjemahkan ke dalam komposisi motif dan warna.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menilai kehadiran motif khas daerah memiliki arti penting dalam memperkuat identitas budaya. Menurutnya, kreativitas para perajin perlu terus didorong agar batik Kota Malang memiliki karakter yang kuat sekaligus mampu berkembang mengikuti zaman.
Sekar Jagad Pancawarna, kata Wahyu, memiliki konsep yang secara khusus mengambil inspirasi dari Kota Malang. Bahkan, lekukan dalam motif tersebut mengadopsi gambaran peta wilayah Kota Malang, sementara lima kecamatan direpresentasikan melalui pilihan warna.
“Sekar Jagad Pancawarna ini betul-betul diambil dari cerita yang ada di Kota Malang. Lekuk-lekukannya juga mengambil peta yang ada di Kota Malang. Ada lima kecamatan yang diimplementasikan dengan warna-warna di tiap kecamatannya,” ujar Wahyu, Minggu (4/10).
Bagi Wahyu, kekuatan batik tidak berhenti pada keindahan visual. Di balik motif dan warna, terdapat narasi yang dapat menggambarkan identitas suatu daerah kepada masyarakat yang melihat maupun mengenakannya.
“Dengan melihat batik, kita bisa bercerita. Kita bisa melihat suatu rangkaian cerita yang melambangkan Kota Malang,” katanya.
Ia pun mengapresiasi lahirnya inovasi tersebut sebagai bentuk kreativitas yang mampu mempertemukan nilai budaya dengan perkembangan industri kreatif. Pengembangan motif lokal dinilai menjadi salah satu cara agar batik tetap relevan sekaligus memiliki daya pembeda.
“Ini adalah satu kreativitas yang patut kita banggakan. Ini menjadi suatu wadah dan perlambang yang diimplementasikan dan diaktualisasikan dalam batik Sekar Jagad Pancawarna,” tegasnya.
Meski inovasi terus didorong, Wahyu mengingatkan agar perkembangan batik tidak tercerabut dari akar tradisinya. Modernisasi desain, teknik produksi, maupun pengemasan produk harus tetap berjalan seiring dengan pelestarian nilai dan filosofi yang terkandung dalam batik.
Semangat tersebut semakin relevan dengan status batik Indonesia yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2 Oktober 2009. Pengakuan internasional itu, menurut Wahyu, membawa konsekuensi moral untuk menjaga sekaligus mengembangkan batik secara berkelanjutan.
“Batik ini tidak hanya menjadi kebanggaan kita. Dengan ditetapkannya oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda, batik juga menjadi kebanggaan secara internasional,” ujarnya.
Perkembangan batik yang semakin diterima di berbagai negara menunjukkan besarnya peluang yang dapat dimanfaatkan. Namun, perluasan pasar tersebut harus dibarengi kemampuan menghadirkan inovasi tanpa menghilangkan nilai tradisional yang menjadi fondasi utama batik.
Di Kota Malang, sejumlah motif telah lebih dahulu mengangkat berbagai ikon dan potensi lokal, seperti topeng, rebesi, tugu, hingga biji kopi. Sekar Jagad Pancawarna kini hadir untuk menambah kekayaan motif sekaligus mempertegas karakter batik yang lahir dari Kota Malang.
Pemkot Malang juga menempatkan penguatan UMKM batik sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi kreatif daerah. Dukungan diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pengembangan kapasitas perajin dan penguatan ekosistem usaha.
Pengembangan desain, peningkatan kualitas, strategi pemasaran, digitalisasi, hingga perluasan akses pasar menjadi sejumlah aspek yang dinilai penting untuk memperkuat daya saing pelaku UMKM batik.
“UMKM batik Kota Malang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas, semakin kreatif dan kompetitif, serta memberikan nilai ekonomi yang semakin kuat,” kata Wahyu.
Di tengah perubahan selera pasar, keterlibatan generasi muda juga menjadi perhatian. Mereka diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna batik, tetapi turut memahami sejarah, filosofi, serta nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Pemahaman tersebut kemudian dapat menjadi pijakan untuk melahirkan inovasi baru yang lebih dekat dengan karakter generasi muda. Dengan cara itu, batik tidak hanya diposisikan sebagai peninggalan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai karya kreatif yang terus bergerak dan berkembang.
Festival Batik Kota Malang turut mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemerintah kecamatan, DPRD Kota Malang, Universitas Merdeka Malang, fakultas, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM), TNI-Polri, Bank Indonesia, komunitas budaya Malang, perajin batik, kepala SMK, hingga insan media.
Keterlibatan lintas sektor tersebut menjadi modal penting dalam membangun ekosistem batik yang berkelanjutan. Pemerintah, perguruan tinggi, perajin, komunitas, dunia usaha, generasi muda, dan media memiliki ruang masing-masing untuk memperkuat promosi sekaligus memperluas pengembangan batik Kota Malang.
Dengan perpaduan antara pelestarian tradisi, kreativitas, inovasi, dan penguatan ekonomi, Sekar Jagad Pancawarna diharapkan tidak sekadar menjadi motif baru. Lebih dari itu, karya tersebut dapat menjadi representasi identitas Kota Malang sekaligus membuka peluang lebih besar bagi batik lokal untuk tumbuh sebagai kekuatan ekonomi kreatif daerah.
















