JATIMTERBARU.COM, MALANG – Regenerasi pelestari batik menjadi faktor penting dalam menjaga eksistensi warisan budaya Indonesia di tengah perkembangan zaman. Keterlibatan generasi muda tidak hanya dibutuhkan untuk mempertahankan tradisi, tetapi juga membuka ruang inovasi agar batik tetap relevan sebagai identitas bangsa sekaligus sumber kreativitas.
Pesan tersebut disampaikan Ary Sulistyowati, S.Pd., yang dikenal dengan nama Dhasimah, saat menjadi pemateri dalam workshop batik di Padepokan Puspawarno, Kota Malang. Mengangkat tema “Dari Kain Menjadi Karya, Generasi Muda Lestarikan Budaya”, kegiatan ini menekankan pentingnya membangun kecintaan terhadap batik melalui edukasi dan keterlibatan langsung generasi penerus.
Ary menilai, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mengenalkan keberadaan batik. Generasi muda perlu memahami nilai sejarah, filosofi, dan identitas yang terkandung di dalamnya agar tumbuh kesadaran untuk menjaga serta mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, derasnya arus globalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan budaya lokal. Karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu mendekatkan tradisi dengan kehidupan anak muda, tanpa menghilangkan nilai-nilai yang menjadi fondasi kebudayaan Indonesia.
“Melestarikannya melalui anak-anak muda atau generasi muda, sehingga mereka tahu arti budaya, terutama di sini yang kami tekankan adalah budaya batik,” ujar Ary.
Ia juga menyoroti pandangan sebagian generasi muda yang masih menganggap batik dan kebaya sebagai busana kuno. Persepsi tersebut perlu diubah melalui pengenalan yang lebih luas, sehingga pakaian tradisional tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan dalam acara resmi, tetapi juga sebagai ekspresi budaya yang dapat beradaptasi dengan perkembangan gaya hidup.
Bagi Ary, batik dan kebaya merupakan representasi identitas bangsa yang menyimpan nilai historis serta kekayaan tradisi. Memahami makna tersebut menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap produk budaya sendiri, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga warisan leluhur.
“Ini loh batik kita, ini loh kebaya kita, ini loh budaya kita, sehingga mereka suka atau menyukai budaya kita sendiri,” tuturnya.
Lebih jauh, Ary mengajak generasi muda mengambil peran aktif dalam memperkenalkan batik kepada masyarakat. Kecintaan terhadap warisan budaya, menurutnya, perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari mengenal proses pembuatannya, menggunakan produk batik, hingga mengembangkan karya kreatif yang tetap berakar pada tradisi.
Ia berpandangan, perhatian masyarakat internasional terhadap kebudayaan Indonesia semestinya menjadi motivasi bagi anak muda untuk semakin menghargai kekayaan budaya bangsanya sendiri. Dengan pemahaman dan kebanggaan yang kuat, batik dapat terus berkembang sekaligus memperoleh tempat dalam kehidupan masyarakat lintas generasi.
Workshop batik di Padepokan Puspawarno menjadi salah satu sarana untuk membangun kedekatan tersebut. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai batik, tetapi juga terinspirasi untuk mengolah kain tradisional menjadi karya yang memiliki nilai estetika dan kreativitas.
Ary menegaskan, keberlanjutan batik bergantung pada kepedulian bersama untuk menjaga dan meneruskan tradisi. Upaya pelestarian harus disertai edukasi serta partisipasi nyata agar warisan budaya tersebut tetap dikenal dan tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.
“Batik itu adalah budaya kita. Batik itu adalah budaya leluhur kita. Kalau bisa, mari kita lestarikan budaya kita supaya budaya kita tidak diklaim oleh negara lain,” tegasnya.
Ia berharap, tumbuhnya kecintaan generasi muda terhadap batik dapat memperkuat pelestarian budaya Indonesia secara berkelanjutan. Dengan memadukan pemahaman tradisi dan kreativitas, batik tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari identitas, gaya hidup, dan kebanggaan bangsa di masa depan.
















