Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Mahasiswa UB-UNAIR Juara 2 Hackathon IFEST

99
×

Mahasiswa UB-UNAIR Juara 2 Hackathon IFEST

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, BANDUNG – Inovasi teknologi untuk memperluas akses komunikasi berhasil mengantarkan lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Airlangga (UNAIR) meraih Juara 2 Hackathon Informatics Festival (IFEST) 2026. Mengusung nama Teen Tensors, mereka mengembangkan Nyambung, sebuah ekosistem komunikasi berbasis teknologi bagi anak autis dengan kebutuhan komunikasi kompleks.

Capaian tersebut diraih dalam babak final yang berlangsung selama 24 jam pada 18–19 September 2026 di Kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur, Bandung. Teen Tensors berhasil menyisihkan peserta lain hingga masuk jajaran 15 finalis dari total 90 tim yang mengikuti kompetisi. Atas prestasi tersebut, tim berhak memperoleh hadiah senilai Rp3.750.000.

Example 300x600

Teen Tensors merupakan kolaborasi mahasiswa Program Studi Sains Data angkatan 2024 dari dua perguruan tinggi. Dari UB, tim diperkuat Mikael Alexander Adikara Purnama, Bonfilio Renato Lawaziduhu Fau, dan Adinda Sekaring Wana. Sedangkan Timotius Christopher Patrick Sihombing serta Raphael Angelo Adikara Purnama menjadi perwakilan UNAIR.

Karya yang membawa mereka ke podium juara tersebut dikembangkan berdasarkan tema “Tech for Human Connections” dengan subtema Accessibility. Nyambung dirancang sebagai sistem Augmentative and Alternative Communication (AAC) berbahasa Indonesia yang ditujukan terutama bagi anak autis yang belum menggunakan bahasa lisan atau memiliki kemampuan verbal yang sangat terbatas.

Teen Tensors melihat persoalan komunikasi tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan perangkat. Keberhasilan sistem komunikasi alternatif juga membutuhkan keterlibatan lingkungan terdekat. Atas dasar itu, Nyambung dirancang untuk mempertemukan tiga unsur utama, yakni anak, keluarga, dan terapis, dalam satu ekosistem pendampingan.

“Melalui Nyambung, kami tidak hanya ingin membuat papan komunikasi, tetapi membangun dukungan yang menghubungkan anak, keluarga, dan terapis. Bagi kami, teknologi seharusnya membantu suara anak sampai dan dipahami oleh orang-orang di sekitarnya,” ujar Bonfilio Renato Lawaziduhu Fau, mewakili Teen Tensors.

Pada sisi pengguna, Nyambung menghadirkan papan komunikasi visual melalui aplikasi Android. Anak dapat memilih gambar atau simbol yang mewakili kebutuhan maupun keinginannya, kemudian aplikasi mengubah pilihan tersebut menjadi keluaran suara. Pendekatan ini dirancang untuk membuat proses komunikasi lebih intuitif dalam berbagai aktivitas harian.

Sistem utama Nyambung juga dapat digunakan secara luring sehingga koneksi internet bukan menjadi syarat untuk menjalankan fungsi komunikasi dasar. Aplikasi menyediakan 120 kosakata Bahasa Indonesia dalam 13 halaman, dengan 12 kata inti yang ditempatkan secara konsisten untuk membantu pengguna membangun pola komunikasi.

Dari sisi perangkat, tim mengupayakan agar inovasi tersebut tetap inklusif. Nyambung dapat berjalan pada perangkat mulai Android 8 dengan RAM 2 GB. Artinya, pemanfaatan aplikasi tidak harus bergantung pada telepon seluler dengan spesifikasi tinggi.

Fitur “Papan dari Foto” menjadi salah satu pengembangan yang membedakan Nyambung dari konsep papan komunikasi konvensional. Orang tua dapat menggunakan foto lingkungan yang familiar bagi anak, kemudian mengubah bagian tertentu dalam gambar menjadi titik komunikasi yang dapat dikaitkan dengan kata maupun suara.

Teknologi kecerdasan buatan digunakan untuk membantu proses awal pengenalan area pada foto. Namun, sistem tidak mengambil keputusan secara otomatis. Keluarga tetap memiliki kewenangan untuk memeriksa, mengoreksi dan menentukan bagian foto yang akan digunakan sebagai media komunikasi.

Personalisasi juga menjadi perhatian melalui fitur suara keluarga. Orang tua dapat merekam suara sendiri untuk kosakata tertentu sehingga suara yang muncul dari aplikasi dapat disesuaikan dengan lingkungan komunikasi anak.

Sementara bagi terapis, Nyambung menyediakan dasbor yang dapat menampilkan pola penggunaan papan komunikasi di rumah apabila data telah tersinkronisasi dengan internet dan memperoleh persetujuan keluarga. Informasi tersebut dapat menjadi bahan bagi terapis untuk memberikan masukan, termasuk usulan kosakata atau frasa yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Namun, data tersebut tidak dirancang untuk menghasilkan skor atau mengukur kemampuan anak. Teen Tensors menempatkan teknologi sebagai instrumen pendukung, sedangkan keputusan terkait pendampingan dan pilihan komunikasi tetap berada pada keluarga serta tenaga profesional.

Selama kompetisi berlangsung, kelima anggota tim membagi pengembangan produk ke dalam empat fokus pekerjaan. Mulai dari aplikasi papan bicara, sistem pendampingan orang tua, server dan sinkronisasi data, hingga pengembangan dasbor terapis serta materi presentasi. Dalam waktu terbatas, mereka menghasilkan purwarupa yang mencakup aplikasi Android, server, dasbor web dan fitur berbasis kecerdasan buatan.

Perlindungan privasi juga menjadi bagian dari desain Nyambung. Aplikasi tidak merekam percakapan, video ataupun lokasi anak. Foto yang digunakan untuk membuat kartu komunikasi personal tetap tersimpan di perangkat, sedangkan penggunaan analisis foto berbasis kecerdasan buatan memerlukan persetujuan khusus dari orang tua.

Tim juga menetapkan batas penggunaan secara tegas. Nyambung bukan alat diagnosis dan tidak dimaksudkan menggantikan asesmen maupun pertimbangan klinis yang dilakukan oleh terapis atau tenaga profesional.

Capaian di IFEST 2026 menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas perguruan tinggi dapat menghasilkan inovasi yang tidak hanya mengejar aspek kompetitif, tetapi juga menjawab persoalan sosial. Pengetahuan sains data dan pengembangan perangkat lunak diterapkan Teen Tensors untuk membangun teknologi yang berorientasi pada aksesibilitas.

Bagi para mahasiswa, kompetisi tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menguji kemampuan mengolah persoalan nyata menjadi solusi teknologi dalam waktu terbatas. Proses tersebut menuntut kerja tim, ketepatan mengambil keputusan dan kemampuan memahami kebutuhan pengguna.

Prestasi Teen Tensors pada akhirnya menunjukkan bahwa keilmuan Sains Data memiliki ruang luas untuk memberikan dampak sosial. Melalui Nyambung, kemampuan teknis dipadukan dengan perspektif inklusivitas untuk menghadirkan teknologi yang diharapkan dapat membantu anak dengan kebutuhan komunikasi kompleks agar lebih mudah menyampaikan keinginannya dan dipahami oleh lingkungan sekitarnya.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *