Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Dokter Gigi UM Tekankan Deteksi Dini dan Pencegahan Karies

103
×

Dokter Gigi UM Tekankan Deteksi Dini dan Pencegahan Karies

Sebarkan artikel ini
drg. Hafsah Nurul Ummah, S.KG., mengingatkan pemeliharaan kesehatan gigi (foto istimewa).

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Karies gigi masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Kerusakan jaringan gigi yang kerap dikenal sebagai gigi berlubang ini tidak selalu menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga berpotensi terlambat ditangani ketika kerusakan telah meluas dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi karies gigi di Indonesia mencapai 82,8%. Angka tersebut menegaskan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan gigi, pembiasaan pola hidup sehat, serta pemeriksaan rutin untuk mendeteksi gangguan sejak dini.

Example 300x600

Dokter Gigi Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), drg. Hafsah Nurul Ummah, S.KG., mengingatkan bahwa pemeliharaan kesehatan gigi tidak seharusnya bergantung pada munculnya rasa sakit. Perawatan yang konsisten dan pemeriksaan berkala menjadi langkah penting untuk mengenali kerusakan lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih kompleks.

“Kesehatan gigi dan mulut perlu dijaga setiap hari, bukan hanya ketika gigi terasa sakit. Pemeriksaan secara berkala juga penting agar masalah pada gigi dapat diketahui lebih awal dan ditangani sebelum berkembang menjadi lebih parah,” ujar drg. Hafsah, Kamis (8/10/2026).

 

Karies Gigi dan Proses Kerusakan yang Kerap Tak Disadari

Karies terjadi ketika jaringan keras gigi kehilangan mineral akibat paparan asam yang dihasilkan bakteri dalam plak. Proses ini dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain frekuensi konsumsi gula, kebersihan rongga mulut, kondisi air liur, serta keseimbangan antara kehilangan dan pengembalian mineral pada permukaan gigi.

Ketika makanan atau minuman mengandung gula dikonsumsi, bakteri tertentu di dalam plak memanfaatkan gula tersebut dan menghasilkan asam. Paparan yang berlangsung berulang dapat menyebabkan mineral pada lapisan email berkurang secara bertahap. Apabila proses tersebut terus berlanjut tanpa upaya pencegahan yang memadai, kerusakan akan semakin dalam.

Pada fase awal, karies dapat berkembang tanpa rasa nyeri yang berarti. Namun, ketika kerusakan menembus lapisan email dan mencapai dentin, sensitivitas gigi dapat mulai dirasakan. Jika proses berlanjut hingga pulpa yang mengandung saraf dan pembuluh darah, risiko peradangan, nyeri berat, dan infeksi semakin meningkat.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa pemeriksaan gigi tidak seharusnya ditunda sampai muncul keluhan. Perubahan pada permukaan gigi terkadang sulit dikenali secara mandiri, sementara bercak putih, kecokelatan, maupun kehitaman dapat memiliki penyebab yang berbeda. Pemeriksaan profesional diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat.

Selain kebersihan mulut yang kurang terjaga, pola konsumsi gula turut memengaruhi risiko karies. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis berulang kali atau menyeruput minuman berpemanis dalam waktu lama dapat meningkatkan frekuensi paparan asam pada gigi. Karena itu, pengendalian konsumsi gula perlu berjalan beriringan dengan perawatan gigi yang benar.

 

Dampak Karies Melampaui Gangguan pada Rongga Mulut

Karies yang tidak memperoleh penanganan dapat berkembang menjadi kerusakan jaringan gigi yang lebih luas. Dalam kondisi tertentu, masalah tersebut dapat memicu peradangan pulpa, pembentukan abses, hingga kehilangan gigi. Tingkat keparahan kerusakan akan memengaruhi jenis perawatan yang diperlukan.

Dampaknya tidak terbatas pada kondisi fisik gigi. Nyeri yang berulang dapat mengganggu tidur, membatasi kenyamanan saat mengunyah, serta menghambat aktivitas harian. Gangguan pada penampilan gigi maupun bau mulut juga dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kenyamanan seseorang dalam berinteraksi.

Pada anak-anak, masalah gigi yang tidak tertangani berpotensi mengganggu waktu istirahat, konsentrasi, dan partisipasi dalam kegiatan belajar. Oleh sebab itu, pembentukan kebiasaan menjaga kesehatan gigi perlu dimulai sejak usia dini dengan dukungan keluarga dan lingkungan pendidikan.

Kesehatan rongga mulut juga memiliki keterkaitan dengan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Diabetes, misalnya, mempunyai hubungan dua arah dengan penyakit periodontal atau gangguan pada jaringan penyangga gigi. Sementara itu, infeksi yang berasal dari gigi dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya dan dalam kondisi tertentu menimbulkan komplikasi serius.

Meski demikian, keterkaitan tersebut perlu dipahami berdasarkan kondisi medis yang mendasarinya. Karies tidak serta-merta menyebabkan penyakit jantung atau komplikasi kehamilan pada setiap penderita. Hal yang lebih mendasar adalah memastikan gangguan gigi ditangani secara tepat dan menjaga kesehatan mulut sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan secara menyeluruh.

 

Lima Pilar Pencegahan Karies

Pencegahan karies membutuhkan konsistensi dalam menerapkan kebiasaan perawatan gigi serta dukungan pemeriksaan profesional. Langkah tersebut dapat dimulai dari aktivitas sehari-hari dengan memperhatikan kebersihan rongga mulut, pola konsumsi, dan deteksi dini.

Pertama, menyikat gigi secara teratur menggunakan pasta gigi berfluorida. Menyikat gigi dua kali sehari, terutama setelah sarapan dan sebelum tidur malam, membantu mengendalikan penumpukan plak. Sikat berbulu lembut dengan teknik yang tepat perlu digunakan untuk membersihkan seluruh permukaan gigi, termasuk bagian belakang dan area di sepanjang garis gusi.

Fluorida berperan memperkuat email gigi dan mendukung proses remineralisasi, yakni pengembalian mineral pada jaringan gigi yang mengalami kehilangan mineral tahap awal. Penggunaan pasta gigi berfluorida secara rutin menjadi salah satu langkah utama dalam menekan risiko karies.

Kedua, membatasi konsumsi gula. Pengendalian asupan gula perlu mempertimbangkan jumlah sekaligus frekuensi konsumsinya. Paparan gula yang berulang sepanjang hari dapat meningkatkan aktivitas bakteri penghasil asam dalam plak. Untuk memenuhi kebutuhan cairan, air putih dapat dijadikan pilihan utama dibandingkan minuman berpemanis.

Ketiga, menjaga kebersihan sela gigi. Sikat gigi tidak selalu mampu menjangkau seluruh area di antara gigi. Penggunaan benang gigi atau alat pembersih interdental yang sesuai dapat membantu mengurangi penumpukan plak pada bagian yang sulit dijangkau, sehingga kebersihan rongga mulut lebih optimal.

Keempat, menjalani pemeriksaan gigi secara berkala. Kunjungan ke dokter gigi perlu menjadi bagian dari perawatan rutin, bukan hanya dilakukan ketika timbul rasa sakit. Interval pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan mulut dan tingkat risiko setiap individu berdasarkan rekomendasi dokter gigi.

Pemeriksaan juga memungkinkan tenaga kesehatan mengidentifikasi masalah lain, termasuk karang gigi. Berbeda dengan karies yang merupakan kerusakan jaringan keras gigi, karang gigi terbentuk dari plak yang mengeras dan umumnya memerlukan pembersihan profesional. Karena itu, pembersihan karang gigi tidak dapat menggantikan perawatan khusus untuk menangani gigi berlubang.

Kelima, tidak mengabaikan tanda gangguan pada gigi. Perubahan warna permukaan gigi, sensitivitas yang menetap, nyeri spontan, maupun pembengkakan perlu mendapat perhatian. Pemeriksaan sejak awal membantu menentukan apakah keluhan berkaitan dengan karies atau gangguan lain. Apabila muncul pembengkakan atau nyeri yang tidak mereda, masyarakat dianjurkan segera mencari pertolongan dokter gigi.

 

Edukasi dan Deteksi Dini sebagai Investasi Kesehatan

Upaya menekan angka karies tidak cukup mengandalkan perawatan setelah kerusakan terjadi. Diperlukan perubahan pendekatan menuju pemeliharaan kesehatan gigi yang lebih preventif, dengan menempatkan edukasi dan pemeriksaan dini sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat.

Keluarga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan menyikat gigi dan mengatur konsumsi makanan manis sejak anak-anak. Sekolah dan lingkungan kerja dapat memperkuat kesadaran tersebut melalui edukasi berkelanjutan, sedangkan fasilitas pelayanan kesehatan berperan memberikan konsultasi, pemeriksaan, dan penanganan sesuai kebutuhan pasien.

Pemeriksaan rutin juga perlu dipahami sebagai langkah menjaga fungsi gigi dalam jangka panjang. Deteksi dini memungkinkan dokter gigi mengevaluasi kondisi rongga mulut sebelum kerusakan berkembang lebih jauh, meskipun jenis penanganan tetap bergantung pada hasil pemeriksaan setiap individu.

Konsistensi menjadi faktor penting dalam keberhasilan pencegahan. Menyikat gigi dengan pasta berfluorida, membatasi frekuensi konsumsi gula, membersihkan sela gigi, serta memeriksakan kondisi rongga mulut secara berkala merupakan rangkaian upaya yang saling melengkapi.

Dengan membangun kebiasaan tersebut, risiko karies dapat ditekan sekaligus membantu mempertahankan fungsi gigi, kenyamanan beraktivitas, dan kualitas hidup. Kesadaran merawat gigi sejak dini menjadi langkah mendasar agar masyarakat tidak harus menunggu munculnya rasa sakit untuk memberikan perhatian pada kesehatan rongga mulut.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *