Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Mahasiswa UM Inovasikan Tisu Sepatu dari Limbah Organik

82
×

Mahasiswa UM Inovasikan Tisu Sepatu dari Limbah Organik

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Inovasi berbasis keberlanjutan terus berkembang di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes), produk tisu perawatan sepatu putih yang memanfaatkan limbah organik sebagai bahan baku utama. Inovasi ini tidak hanya menawarkan kepraktisan dalam membersihkan debu dan noda ringan, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk bernilai ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya yang belum optimal.

Produk tersebut dikembangkan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UM pada 17 Februari hingga 30 April 2026. Dengan memadukan ampas tebu, ekstrak kulit lemon, serta bahan alami lainnya, tim berupaya menghadirkan alternatif perawatan sepatu yang mengintegrasikan kebutuhan konsumen, kreativitas mahasiswa, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Example 300x600

Pengembangan WHISH berangkat dari pemikiran bahwa limbah organik masih menyimpan potensi ekonomi apabila dikelola melalui pendekatan inovatif. Ampas pertanian dan sisa pengolahan pangan yang kerap dipandang sebagai residu produksi dapat memperoleh nilai tambah ketika diolah menjadi bahan baku produk baru. Perspektif ini sejalan dengan ekonomi sirkular yang mendorong efisiensi pemanfaatan sumber daya sekaligus menekan timbulan limbah melalui proses produksi yang lebih bertanggung jawab.

Dalam proses pengembangannya, ampas tebu dimanfaatkan sebagai bahan dasar lembaran tisu yang dirancang bersifat biodegradable atau dapat terurai secara biologis. Adapun ekstrak kulit lemon yang berasal dari limbah industri minuman digunakan sebagai komponen aktif dalam formulasi WHISH. Tim turut menerapkan teknologi nanoenkapsulasi untuk membantu menjaga stabilitas senyawa aktif, sekaligus mendukung fungsi produk dalam membersihkan noda ringan dan merawat tampilan sepatu putih.

Formulasi tersebut dilengkapi ekstrak lidah buaya (Aloe vera) yang dikembangkan sebagai bahan biosurfaktan alami. Komponen ini berperan dalam membantu melepaskan debu, minyak, dan kotoran dari permukaan sepatu. Pemanfaatan berbagai bahan berbasis hayati tersebut menjadi bagian dari eksplorasi mahasiswa terhadap potensi sumber daya lokal untuk menghasilkan produk perawatan yang memiliki nilai guna sekaligus prospek komersial.

Di balik pengembangan WHISH, terdapat kolaborasi mahasiswa dari sejumlah disiplin ilmu. Tim ini diketuai Sekar Wahyu Ningtyas dari Program Studi S-1 Pendidikan Bisnis, bersama Ervina Mei Ananda Putri dan Kharisma Putri Ambarwati yang juga berasal dari program studi tersebut. Kolaborasi diperkuat Adrian Arif Pambudi dari Program Studi S-1 Biologi serta Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto dari Program Studi S-1 Pendidikan Kimia.

Komposisi tim tersebut mempertemukan perspektif kewirausahaan dengan pengetahuan biologi dan kimia dalam pengembangan produk. Sinergi lintas bidang ini menjadi landasan untuk menghubungkan pemilihan bahan baku, formulasi produk, dan strategi pemasaran. Dengan demikian, riset mahasiswa diarahkan tidak sekadar menghasilkan gagasan inovatif, tetapi juga membangun peluang usaha yang berpotensi berkembang di tengah kebutuhan pasar.

Ketua tim PKM-K, Sekar Wahyu Ningtyas, menegaskan bahwa WHISH merupakan upaya untuk membuktikan bahwa limbah organik dapat menjadi sumber inovasi apabila diolah melalui pendekatan yang tepat. Menurutnya, penerapan ekonomi sirkular dapat dimulai dari produk sederhana yang dekat dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.

“Melalui WHISH, kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik bukanlah akhir dari sebuah proses, tetapi dapat menjadi awal lahirnya produk baru yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi contoh bahwa ekonomi sirkular dapat diterapkan melalui produk yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Dari sisi fungsionalitas, WHISH dirancang sebagai produk perawatan harian atau daily aftercare yang dapat digunakan setelah sepatu selesai dikenakan. Penggunaan secara rutin ditujukan untuk membantu mengangkat kotoran ringan sebelum menumpuk dan menjadi lebih sulit dibersihkan. Konsep ini menawarkan kemudahan bagi pengguna sepatu putih dalam menjaga kebersihan tanpa harus selalu melakukan pencucian menggunakan air.

Produk tersebut dirancang untuk sejumlah material sepatu putih, meliputi synthetic leather, PU leather, dan PVC leather. WHISH juga ditujukan bagi bagian midsole berbahan EVA, PU, dan TPU. Kendati demikian, kesesuaian penggunaan tetap perlu memperhatikan karakteristik material serta petunjuk pemakaian agar perawatan berlangsung secara tepat.

Selain memperhatikan aspek formulasi dan kegunaan, tim turut menyiapkan strategi pengembangan usaha untuk memperluas penerimaan produk di pasar. Pemasaran dilakukan melalui kanal digital dan promosi langsung, disertai penjajakan kemitraan dengan toko sepatu serta penyedia jasa pencucian sepatu atau shoe laundry. Strategi tersebut diarahkan untuk memperkenalkan WHISH kepada konsumen sekaligus membuka peluang distribusi melalui jaringan usaha yang relevan.

Dari aspek komersial, WHISH dikemas dalam satu boks berisi delapan saset, dengan setiap saset memuat dua lembar tisu basah. Produk ini ditawarkan seharga Rp30.000 per boks. Penetapan kemasan dan harga tersebut diarahkan untuk menjangkau konsumen dari kalangan mahasiswa hingga masyarakat umum yang membutuhkan produk perawatan sepatu praktis.

Kehadiran WHISH memperlihatkan potensi kewirausahaan mahasiswa dalam menjembatani inovasi berbasis pengetahuan dengan kebutuhan pasar. Pemanfaatan ampas tebu dan kulit lemon menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah bahan organik, sedangkan pengembangan strategi bisnis membuka ruang bagi inovasi tersebut untuk diperkenalkan secara lebih luas. Meski demikian, keberhasilan pengembangan produk tetap bergantung pada konsistensi mutu, penerimaan konsumen, serta keberlanjutan proses produksi dan pemasaran.

Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, inovasi WHISH memiliki relevansi dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pemanfaatan kembali limbah organik sebagai bahan baku produk baru sejalan dengan upaya meningkatkan efisiensi sumber daya dan mengembangkan pola produksi yang lebih bertanggung jawab.

Inovasi ini juga berkaitan dengan SDGs tujuan ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, terutama melalui pengembangan produk berbasis riset serta kolaborasi lintas disiplin. Namun, kontribusi lingkungan secara menyeluruh perlu ditinjau dengan mempertimbangkan proses produksi, karakteristik bahan, daya tahan produk, dan pengelolaan limbah setelah pemakaian.

Dengan dukungan FEB dan UM, tim berharap WHISH dapat terus dikembangkan menjadi produk inovasi mahasiswa yang memiliki daya saing dan peluang pasar lebih luas. Lebih dari sekadar menghadirkan alternatif perawatan sepatu, pengembangan ini mencerminkan peran perguruan tinggi dalam mendorong kewirausahaan berbasis pengetahuan, mengoptimalkan potensi sumber daya lokal, serta menumbuhkan solusi inovatif yang selaras dengan prinsip keberlanjutan.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *