Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Pemerintahan

Kolaborasi Desa-Kota Perkuat Fondasi Megapolitan Malang Raya

115
×

Kolaborasi Desa-Kota Perkuat Fondasi Megapolitan Malang Raya

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Pengembangan Malang Raya sebagai kawasan megapolitan membutuhkan strategi yang mampu menyatukan kekuatan ekonomi perkotaan dan perdesaan. Tidak cukup mengandalkan pembangunan jalan maupun konektivitas antardaerah, pemerintah juga perlu mendorong kolaborasi agar setiap wilayah tumbuh berdasarkan potensi unggulannya.

Kepala Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, menguraikan strategi tersebut saat mengisi kuliah dosen praktisi bagi mahasiswa Program Doktor (S3) Departemen Ilmu Pertanian, Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya, Selasa (13/10/2026).

Example 300x600

Dalam forum akademik itu, Asep menjelaskan fondasi dan pilar pembangunan Malang Raya Megapolitan. Ia menekankan pentingnya menghubungkan pusat pertumbuhan perkotaan dengan kekuatan produksi, sumber daya, dan aktivitas ekonomi masyarakat desa.

Tiga Wilayah, Satu Kekuatan Ekonomi

Menurut Asep, Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang memiliki karakter ekonomi yang berbeda sekaligus saling melengkapi. Kota Malang menonjol melalui sektor pendidikan, jasa, perdagangan, dan ekonomi kreatif.

Sementara itu, Kota Batu mengandalkan pariwisata dan pertanian. Adapun Kabupaten Malang memiliki wilayah yang luas dengan potensi pertanian, perkebunan, industri, kehutanan, kelautan, serta pariwisata.

Perbedaan karakter tersebut dapat menjadi keunggulan bersama jika ketiga daerah membangun keterhubungan ekonomi dan perencanaan wilayah secara terpadu. Dengan pendekatan itu, setiap daerah tidak perlu berjalan sendiri dalam mengejar pertumbuhan.

“Megapolitan tidak boleh hanya dimaknai sebagai pertumbuhan kota. Kita harus membangun hubungan yang saling menguatkan antara kota dan desa. Kota menjadi pusat inovasi, perdagangan, jasa, dan pengembangan teknologi, sedangkan desa memiliki kekuatan pada produksi pangan, perkebunan, sumber daya alam, serta ekonomi berbasis potensi lokal. Keduanya harus terhubung dan tumbuh bersama,” jelas Asep.

Desa Harus Menjadi Penggerak Pertumbuhan

Arah pembangunan nasional di Pulau Jawa mendorong terbentuknya megalopolis yang unggul, inovatif, inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Untuk mewujudkan visi tersebut di Malang Raya, integrasi pembangunan perlu melampaui urusan infrastruktur.

Pemerintah juga perlu menghubungkan aktivitas ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, dan perluasan akses pasar. Dengan demikian, pembangunan megapolitan dapat menciptakan manfaat yang lebih merata bagi seluruh kawasan.

Asep menilai desa memiliki peran penting dalam mewujudkan agenda tersebut. Desa perlu mengembangkan kapasitas sebagai pusat produksi, kewirausahaan, inovasi lokal, dan penciptaan nilai tambah, bukan sekadar memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan.

Potensi pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan dapat berkembang lebih jauh melalui dukungan teknologi, akses pembiayaan, distribusi, industri pengolahan, serta jaringan pemasaran.

Melalui integrasi tersebut, pelaku usaha desa memiliki peluang mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini juga dapat memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kolaborasi 67 Perguruan Tinggi Perkuat Inovasi

Malang Raya memiliki modal pengetahuan yang besar melalui keberadaan 67 perguruan tinggi negeri dan swasta. Potensi akademik ini membuka ruang kerja sama untuk mengembangkan riset terapan, teknologi pertanian, digitalisasi usaha, dan inovasi produk lokal.

Perguruan tinggi dapat menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan nyata masyarakat. Misalnya, inovasi teknologi dapat membantu petani meningkatkan produktivitas, sedangkan digitalisasi dapat memperluas jangkauan pemasaran produk lokal.

Asep menilai kerja sama tersebut mampu memperkuat posisi desa dalam pertumbuhan kawasan. Dengan kapasitas kelembagaan, sumber daya manusia, dan ekonomi yang semakin baik, desa dapat menjadi mitra strategis kota sekaligus menentukan arah pengembangan potensi lokal sesuai kebutuhan masyarakatnya.

Green Economy dan Blue Economy Jadi Peluang

Kondisi geografis Malang Raya menawarkan peluang ekonomi yang beragam. Kawasan pegunungan, dataran tinggi, sentra pertanian, perkebunan, hingga pesisir selatan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang memperhatikan kelestarian lingkungan.

Pada sektor green economy, masyarakat dapat mengembangkan pertanian berkelanjutan, perkebunan kopi, hortikultura, konservasi sumber daya air, serta pengelolaan lingkungan.

Komoditas apel, jeruk siam, alpukat, pisang, durian, sayuran, tebu, dan kopi robusta juga memiliki peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi. Pengolahan hasil panen, penguatan merek, dan perluasan pasar menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing komoditas tersebut.

Sementara itu, pendekatan blue economy membuka peluang pengembangan kawasan pesisir melalui perikanan tangkap, pengolahan hasil laut, usaha berbasis kelautan, dan pariwisata bahari. Pelaku usaha perlu menjaga keberlanjutan ekosistem agar aktivitas ekonomi tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Potensi desa harus diubah menjadi kekuatan ekonomi. Pertanian harus terhubung dengan industri pengolahan dan pasar, perkebunan harus mampu menghasilkan nilai tambah, dan potensi kelautan harus dikelola secara berkelanjutan. Dengan begitu, masyarakat desa memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi pelaku utama pembangunan,” ungkap Asep.

Infrastruktur Harus Membuka Peluang Usaha

Selain kekuatan sumber daya lokal, konektivitas antarkawasan juga menjadi faktor penting dalam pengembangan Malang Raya. Kehadiran Jalan Tol Pandaan–Malang dan Jalur Lintas Selatan (JLS) membuka peluang mobilitas yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Namun, akses transportasi saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemerintah daerah perlu mengembangkan sentra usaha, meningkatkan keterampilan masyarakat, dan memperkuat kemitraan ekonomi antardaerah.

JLS, misalnya, berpotensi membuka akses terhadap berbagai destinasi dan sumber daya ekonomi di wilayah selatan Jawa Timur. Agar peluang tersebut menghasilkan manfaat nyata, desa perlu meningkatkan kualitas produk unggulan, memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mengembangkan layanan pariwisata dan jaringan pemasaran.

Dengan strategi itu, konektivitas dapat mempertemukan produsen lokal dengan konsumen yang lebih luas. Masyarakat juga berpeluang menangkap manfaat ekonomi dari perkembangan infrastruktur di wilayahnya.

Sinergi Lintas Sektor Tentukan Keberhasilan

Pengembangan Malang Raya Megapolitan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Setiap pihak perlu menyelaraskan program agar pembangunan infrastruktur berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi lokal.

Kolaborasi tersebut juga perlu memastikan bahwa wilayah yang dilalui jalur transportasi memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi ekonominya. Dengan begitu, pembangunan tidak hanya mempercepat perjalanan, tetapi juga membuka ruang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Asep menegaskan bahwa keberhasilan megapolitan tidak cukup diukur melalui pertumbuhan kawasan perkotaan atau peningkatan konektivitas. Pembangunan juga perlu menciptakan hubungan ekonomi yang produktif serta memperluas pemerataan manfaat.

“JLS harus membuka peluang, desa harus menjadi penggerak ekonomi, dan kolaborasi harus memastikan manfaat pembangunan dirasakan masyarakat. Megapolitan yang kita bangun bukan hanya tentang menghubungkan wilayah, melainkan membangun keterkaitan antarpotensi agar desa dan kota dapat tumbuh bersama,” tegasnya.

Malang Raya Menuju Megapolitan Inklusif

Integrasi potensi desa dan kota, pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal, serta kolaborasi lintas wilayah dapat memperkuat fondasi Malang Raya sebagai kawasan megapolitan.

Melalui pendekatan tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada pusat perkotaan. Desa juga memiliki ruang untuk mengembangkan usaha, meningkatkan nilai produk, memperluas pasar, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, Malang Raya berpeluang membangun kawasan megapolitan yang kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan. Desa bukan sekadar wilayah pinggiran, melainkan bagian strategis yang ikut menentukan arah pertumbuhan dan masa depan kawasan.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *