Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

BMKG Jelaskan Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Malang

118
×

BMKG Jelaskan Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Malang

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Fenomena Hari Tanpa Bayangan diperkirakan terjadi di Kota Malang dan Kabupaten Malang pada Rabu (14/10/2026), sekitar pukul 11.15 WIB. BMKG mengimbau masyarakat mengantisipasi paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan, terutama menjelang tengah hari.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Linda Fitrotul, menjelaskan bahwa fenomena ini muncul ketika posisi matahari berada hampir tepat di atas suatu wilayah. Akibatnya, benda tegak menghasilkan bayangan yang sangat pendek hingga seolah-olah menghilang.

Example 300x600

Menurut Linda, setiap daerah mengalami Hari Tanpa Bayangan pada waktu berbeda. Perbedaan letak geografis memengaruhi waktu kulminasi matahari. Karena itu, fenomena ini tidak berlangsung serentak di seluruh wilayah Jawa Timur.

Fenomena Astronomis, Bukan Pemicu Suhu Ekstrem

Linda menegaskan bahwa Hari Tanpa Bayangan merupakan fenomena astronomis yang terjadi secara alami. Fenomena ini juga tidak secara langsung memicu kenaikan suhu udara secara drastis.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu mengantisipasi paparan sinar matahari, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.

“Terik matahari dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat panas, khususnya bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan,” ujar Linda, Selasa (13/10/2026).

Untuk mengurangi risiko tersebut, Linda menyarankan masyarakat menjaga kecukupan cairan tubuh dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca. Warga yang bekerja di luar ruangan juga perlu membatasi paparan panas berlebih agar kesehatan tetap terjaga.

Hari Tanpa Bayangan Bukan Penanda Pancaroba

Selain menjelaskan karakteristik fenomena tersebut, Linda mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan Hari Tanpa Bayangan sebagai acuan pergantian musim.

Menurutnya, kondisi atmosfer dan perkembangan curah hujan menentukan peralihan musim atau pancaroba di suatu wilayah. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memperhatikan berbagai indikator cuaca, bukan hanya waktu kulminasi matahari.

“Fenomena kulminasi tidak bisa dijadikan patokan tunggal untuk menentukan peralihan musim,” tegasnya.

BMKG mengimbau masyarakat tetap memantau kondisi cuaca dan menjaga kesehatan selama beraktivitas di luar ruangan. Dengan langkah antisipasi yang tepat, warga dapat menjalankan kegiatan sehari-hari sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas matahari.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *