Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Pemerintahan

Ketua DPRD Sidoarjo Serukan Santri Berinovasi

100
×

Ketua DPRD Sidoarjo Serukan Santri Berinovasi

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, SIDOARJO – Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, H. Abdillah Nasih, mendorong generasi santri agar berani mengambil peran lebih luas dalam pembangunan bangsa. Ia menilai, penguasaan ilmu agama harus berjalan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi tanpa mengesampingkan akhlak serta nilai-nilai keislaman.

Pesan tersebut disampaikan Abdillah Nasih saat memimpin upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Alun-Alun Sidoarjo, Kamis (22/10/2026). Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menggelar kegiatan ini dengan melibatkan ratusan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, dan pondok pesantren.

Example 300x600

Peringatan tahun ini mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut menegaskan pentingnya kontribusi santri dalam membangun sumber daya manusia yang unggul sekaligus menjaga karakter dan jati diri bangsa.

Abdillah Nasih Tekankan Peran Strategis Santri

Dalam kesempatan itu, Abdillah membacakan sambutan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Sambutan tersebut menyoroti peran santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan sekaligus tantangan pembangunan Indonesia pada masa mendatang.

Abdillah menegaskan bahwa masyarakat tidak cukup hanya mengenang jasa ulama dan santri melalui kegiatan seremonial. Sebaliknya, generasi penerus perlu melanjutkan perjuangan mereka melalui karya, pengabdian, dan kontribusi nyata.

“Santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama, melainkan juga bagian penting dari perjalanan bangsa. Karena itu, mengenang jasa para pendahulu tidak cukup hanya dengan upacara dan seremonial. Kita harus melanjutkan perjuangan mereka melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober memiliki makna historis yang kuat. Momentum ini mengingatkan masyarakat pada perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Salah satu peristiwa penting yang melandasi peringatan tersebut ialah Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan itu membangkitkan semangat perjuangan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dan turut mendorong perlawanan rakyat yang mencapai puncaknya pada peristiwa 10 November 1945.

Dalam rangkaian upacara tersebut, KH. Abdul Muntholib, Pengasuh Pondok Pesantren Al Khuzaini Sukodono, membacakan kembali Resolusi Jihad sebagai pengingat atas kontribusi ulama dan santri bagi bangsa.

Dorong Santri Kuasai Teknologi dan Inovasi

Abdillah menjelaskan bahwa perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru bagi kalangan santri. Jika generasi terdahulu berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, santri masa kini perlu mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, kreativitas, penguasaan teknologi, dan penguatan karakter.

Meski bentuk perjuangannya berbeda, ia menilai semangat pengabdian kepada Tanah Air harus tetap menjadi landasan utama.

“Tantangan zaman memang berubah. Tetapi, semangat pengabdian kepada negeri tercinta ini, bagi seorang santri, tidak boleh padam,” pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menghadapi persaingan global menjelang satu abad kemerdekaan pada 2045. Karena itu, santri perlu meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, dan mengembangkan kemampuan sesuai bidang yang diminati.

Abdillah menegaskan bahwa latar belakang pendidikan pesantren tidak membatasi pilihan masa depan seseorang. Sebaliknya, bekal ilmu, kedisiplinan, dan akhlak dapat menjadi modal bagi santri untuk menekuni berbagai profesi.

“Santri bisa menjadi apa saja. Ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pemimpin bangsa, selama terus belajar, bersungguh-sungguh, dan mengabdikan ilmunya bagi kemajuan Indonesia,” tegasnya.

Ia berharap para santri mampu memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan begitu, mereka tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan memberikan solusi atas persoalan masyarakat.

Pesantren Jadi Fondasi Pembentukan Karakter

Selain mendorong penguasaan teknologi, Abdillah menekankan pentingnya menjaga akhlak, kejujuran, integritas, dan kepedulian sosial. Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan karakter yang kuat agar generasi muda dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Jadilah generasi yang teguh memegang nilai-nilai keislaman, terbuka terhadap kemajuan, serta mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Sebab, bangsa yang kuat membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.

Untuk memotivasi para santri, ia turut mengingatkan pepatah yang populer di lingkungan pesantren, man jadda wajada, yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Abdillah mengajak para santri menjadikan prinsip tersebut sebagai dorongan untuk terus menuntut ilmu, mengembangkan gagasan, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat serta bangsa.

Ia juga menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang mandiri dan berkarakter. Melalui pendidikan agama, pembiasaan akhlak, serta penanaman semangat pengabdian, pesantren turut memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Pesantren memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter bangsa. Di pesantren, ilmu diajarkan, akhlak dibentuk, kemandirian ditumbuhkan, dan pengabdian ditanamkan. Kekuatan inilah yang harus terus kita rawat dan kembangkan agar pesantren semakin berperan dalam menjawab tantangan zaman,” ungkapnya.

Santri Didorong Menjadi Penggerak Kemajuan

Lebih lanjut, Abdillah mengajak santri mengambil bagian dalam berbagai agenda pembangunan. Ia berharap generasi pesantren dapat tampil sebagai penggerak kemajuan ilmu pengetahuan, penjaga kerukunan, penguat ekonomi masyarakat, sekaligus pelopor kepedulian terhadap lingkungan.

Menurutnya, keberagaman Indonesia membutuhkan sikap saling menghormati dan semangat gotong royong. Oleh sebab itu, santri perlu ikut menjaga persatuan serta membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat.

“Jangan biarkan perbedaan memecah belah kita, karena Indonesia yang kuat hanya dapat dibangun melalui kebersamaan,” tegasnya.

Dalam sambutan Menteri Agama yang dibacakannya, Abdillah juga menyampaikan perhatian pemerintah terhadap pengembangan pesantren. Salah satu bentuk perhatian tersebut ialah kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Kehadiran direktorat jenderal ini merupakan wujud komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada pesantren. Sekaligus memperkuat peran strategisnya dalam pembangunan nasional,” demikian petikan sambutan Menteri Agama.

Pemerintah berharap pesantren semakin optimal menjalankan tiga fungsi utamanya, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiganya menjadi landasan bagi pesantren untuk melahirkan generasi berilmu dan berakhlak mulia, memperkuat kerukunan, serta meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.

Menteri Agama juga menekankan bahwa Hari Santri merupakan momentum bersama bagi seluruh bangsa Indonesia. Peringatan ini tidak hanya menjadi milik santri, pesantren, atau umat Islam, tetapi juga menjadi ruang untuk meneguhkan penghargaan terhadap perjuangan, persatuan, dan kecintaan kepada Tanah Air.

“Mari kita jadikan peringatan Hari Santri ini sebagai momentum untuk memperkuat gotong royong dan melanjutkan perjuangan para ulama serta pahlawan dengan cara terbaik pada zaman kita,” ajaknya.

Berbagai Elemen Masyarakat Ikuti Upacara

Upacara Hari Santri Nasional 2026 di Alun-Alun Sidoarjo melibatkan berbagai organisasi dan lembaga pendidikan. Peserta antara lain berasal dari Pergunu, Fatayat NU, Muslimat NU, Banser, LPBI NU, Sarbumusi, mahasiswa UNUSIDA, Pramuka, IPNU, IPPNU, DPD LDII, PD Muhammadiyah, dan PC Pagar Nusa.

Selain itu, pelajar SMK Plus NU Sidoarjo serta perwakilan Pondok Pesantren Jabal Noer Taman dan Pondok Pesantren Baiturrahman Sukodono turut mengikuti kegiatan tersebut.

Kehadiran berbagai unsur masyarakat itu mencerminkan luasnya keterlibatan elemen pendidikan, organisasi keagamaan, dan generasi muda dalam memperingati Hari Santri. Melalui momentum ini, semangat perjuangan para ulama diharapkan terus hidup dalam bentuk pendidikan, pengabdian, persatuan, dan karya nyata bagi kemajuan Indonesia.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *