Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Halaqoh Mini Soccer, RMI NU Kediri Satukan Pengasuh Pesantren

61
×

Halaqoh Mini Soccer, RMI NU Kediri Satukan Pengasuh Pesantren

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, KEDIRI – Para pengasuh pondok pesantren di Kediri Raya memanfaatkan momentum Hari Santri Nasional (HSN) 2026 untuk memperkuat komunikasi dan membahas tantangan pengelolaan pesantren. Mereka tidak hanya membangun keakraban, tetapi juga bertukar pengalaman guna mencari solusi atas persoalan yang muncul di lingkungan pendidikan pesantren.

Sejumlah isu strategis mengemuka dalam pertemuan tersebut. Mulai dari menjaga kepercayaan publik, meningkatkan keamanan santri, hingga memperluas kolaborasi antarpesantren.

Example 300x600

Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama (NU) Kediri Raya mengemas forum itu melalui kegiatan Halaqoh Mini Soccer di Inzia Mini Soccer, Kediri, Jumat (30/10/2026) malam. Sekitar 150 peserta dari puluhan pondok pesantren di Kabupaten dan Kota Kediri mengikuti kegiatan tersebut. Peserta terdiri dari para pengasuh dan pengurus pesantren.

Bangun Kolaborasi, Bukan Sekadar Pertemuan

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Mu’id Shohib atau Gus Muid, menilai komunikasi antarpengasuh memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem pesantren. Menurutnya, pertemuan langsung dapat membuka ruang diskusi sekaligus mendorong lahirnya kerja sama yang bermanfaat.

“Ini bukan soal pesantren mana yang santrinya paling banyak atau pengasuh mana yang paling sibuk. Semua pengasuh punya kesibukan masing-masing. Yang terpenting bagaimana kita bisa duduk bersama, saling mengenal, mendengarkan, dan menemukan gagasan yang bisa dikerjakan bersama,” ujar Gus Muid.

Ia mengingatkan bahwa setiap pesantren memiliki tradisi, karakter, dan pola pengelolaan yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut justru dapat menjadi kekuatan apabila para pengasuh membangun komunikasi dan saling melengkapi.

Selain itu, Gus Muid menekankan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat. Sebab, persoalan yang muncul di satu pesantren berpotensi memengaruhi citra lembaga pesantren secara lebih luas.

Karena itu, para pengasuh perlu membangun ruang dialog untuk membahas persoalan secara terbuka. Mereka juga dapat saling berbagi pengalaman dalam mencari langkah penyelesaian yang sesuai dengan kondisi masing-masing lembaga.

Pengalaman Pesantren Jadi Bahan Pembelajaran

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian ialah praktik ghosob atau penggunaan maupun pengambilan barang milik santri tanpa izin. Gus Muid mencontohkan langkah sebuah pesantren yang membentuk satuan tugas khusus untuk mengantisipasi persoalan tersebut.

Menurutnya, pengalaman itu dapat menjadi referensi bagi pesantren lain. Setiap lembaga bisa mempelajari pendekatan yang sudah berjalan, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan dan karakter lingkungan masing-masing.

Dengan pertukaran pengalaman tersebut, pesantren dapat memperkuat upaya menjaga keamanan serta kenyamanan santri. Lebih jauh, Gus Muid juga mendorong para pengasuh memperluas jejaring melalui studi banding dan silaturahmi dengan pesantren di luar Kediri Raya.

Halaqoh Perkuat Persaudaraan Pengasuh

Penyelenggara kegiatan, Gus Abdul Hisyam, menjelaskan bahwa RMI merancang halaqoh sebagai ruang pertemuan bagi para pengasuh, pemangku pesantren, dan gawagis. Forum tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk bertukar pandangan, menyampaikan gagasan, sekaligus memperluas jaringan antarlembaga.

Menurutnya, kesibukan masing-masing pengasuh kerap membatasi kesempatan untuk bertemu secara langsung. Padahal, komunikasi yang terjaga menjadi modal penting untuk memperkuat hubungan dan menghadapi berbagai persoalan pesantren.

Ia berharap kegiatan ini mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas. Tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga mendorong munculnya motivasi dan perspektif baru bagi pengembangan pesantren.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri sekaligus perwakilan RMI Kabupaten Kediri, Gus Harisul Ilmi Da’in atau Gus Ais, memandang halaqoh sebagai sarana merawat persaudaraan antarpesantren.

“Halaqoh ini ibarat tempat kita berkumpul, berdiskusi, dan bersilaturahmi secara gayeng. Yang kita cari adalah persaudaraan. Ketika seluruh pondok pesantren bersatu dan menyambung silaturahmi, kita sedang menjalankan apa yang dicita-citakan oleh Rasulullah SAW,” kata Gus Ais.

Ia menambahkan, RMI telah beberapa kali menggelar kegiatan serupa. Karena itu, ia berharap pertemuan semacam ini terus berlanjut dan menjadi tradisi yang menjaga kebersamaan para pengasuh serta pengurus pesantren di Kediri Raya.

Mini Soccer Cairkan Suasana

Setelah sesi diskusi, panitia mengajak peserta mengikuti pertandingan persahabatan mini soccer. Aktivitas olahraga tersebut melengkapi rangkaian halaqoh sekaligus menciptakan suasana interaksi yang lebih santai.

Melalui pendekatan itu, RMI NU Kediri Raya ingin membangun kedekatan antarpeserta tanpa membatasi pertemuan pada forum formal. Sebab, hubungan yang kuat dapat menjadi pintu masuk bagi kolaborasi yang lebih luas.

Pada akhirnya, kegiatan ini membawa pesan bahwa kekuatan pesantren tidak hanya bertumpu pada masing-masing lembaga. Komunikasi, persaudaraan, dan kesediaan berbagi pengalaman juga menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat serta menjawab tantangan pesantren ke depan.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *