JATIMTERBARU.COM, MALANG — Penyampaian aspirasi warga di lingkungan DPRD Kabupaten Malang berujung perdebatan antara massa dan salah seorang anggota dewan, Jumat (11/9/2026).
Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi polemik setelah rekaman video kejadian beredar di media sosial.
Video amatir yang diunggah melalui akun TikTok @pakdhe1238 memperlihatkan situasi tegang ketika sejumlah warga terlibat adu argumen dengan anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi Gerindra, Aris Waskito.
Peristiwa bermula saat Hadi Wiyono alias Pak Dur bersama sejumlah warga mendatangi gedung DPRD Kabupaten Malang untuk menyampaikan aspirasi.
Dalam proses penyampaian tersebut, terjadi perdebatan terbuka yang kemudian menjadi perhatian warga di sekitar lokasi.
Dalam perdebatan itu, Pak Dur meminta persoalan yang menjadi pemicu ketegangan dibuktikan secara terbuka.
Ia juga mendesak agar rekaman kamera pengawas atau CCTV dibuka untuk memperjelas dugaan ancaman maupun intimidasi verbal yang disebut terjadi dalam komunikasi sebelumnya.
Desakan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas. Sejumlah warga meminta persoalan tidak berhenti pada klaim masing-masing pihak, melainkan diklarifikasi melalui bukti dan mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di tengah situasi tersebut, muncul pula tudingan dari warga yang mempertanyakan kondisi Aris saat berada di lokasi.
Salah satu tudingan yang berkembang menyebut adanya aroma minuman beralkohol ketika berlangsung dialog dengan warga.
Aris membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak berada di bawah pengaruh minuman beralkohol. Menurutnya, kondisi mata yang terlihat sembab disebabkan bentuk mata dan kurang tidur.
“Tidak benar itu, banyak yang bilang matanya kok sembab, memang mata saya sipit dan posisi ngantuk juga kurang tidur,” ujar Aris saat dikonfirmasi, Minggu (13/9/2026).
Aris juga menanggapi secara khusus tudingan mengenai dugaan napas berbau alkohol atau minuman keras saat dirinya menemui warga.
Ia kembali membantah tudingan tersebut dan menilai persoalan itu telah keluar dari substansi pembahasan.
“Makanya saya langsung balik kanan ketika meredam Pak Dur, karena semakin melenceng dan sepertinya percuma kalau ditanggapi,” jelas Aris melalui pesan WhatsApp.
Ia menyampaikan klarifikasi tersebut ketika berada di daerah dengan kondisi jaringan komunikasi yang terbatas.
Terlepas dari polemik yang berkembang, peristiwa tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya menjaga kualitas komunikasi antara masyarakat dan wakil rakyat. Penyampaian aspirasi merupakan bagian dari ruang demokrasi yang semestinya berlangsung secara terbuka, tertib, dan tetap mengedepankan sikap saling menghormati.
Sementara itu, desakan agar rekaman CCTV dibuka menjadi salah satu poin yang dinilai dapat membantu memperjelas rangkaian peristiwa.
Apabila rekaman tersebut tersedia dan relevan dengan persoalan yang diperdebatkan, pemeriksaan secara objektif dapat menjadi dasar untuk menguji berbagai klaim yang berkembang.
Pimpinan DPRD Kabupaten Malang juga diharapkan dapat memberikan ruang bagi proses klarifikasi secara proporsional.
Langkah tersebut diperlukan agar polemik tidak berkembang menjadi spekulasi yang berpotensi merugikan pihak-pihak terkait maupun memengaruhi kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif.
Apabila dalam proses klarifikasi nantinya ditemukan indikasi pelanggaran kode etik berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui Badan Kehormatan DPRD Kabupaten Malang sesuai mekanisme dan kewenangannya.
Sebaliknya, seluruh pihak juga perlu menahan diri dan memberikan ruang bagi proses klarifikasi hingga fakta mengenai peristiwa tersebut benar-benar terang.
Transparansi, verifikasi bukti, serta mekanisme penyelesaian yang sesuai aturan menjadi penting agar polemik tidak berhenti sebagai perdebatan di ruang publik, tetapi dapat diselesaikan secara objektif, proporsional, dan bermartabat.(*)
















