Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
PendidikanTeknologi

BASIC 2026, Strategi UB Perluas Riset Global

106
×

BASIC 2026, Strategi UB Perluas Riset Global

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Fakultas Sains dan Teknologi/MIPA (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) memperkuat kolaborasi penelitian internasional melalui penyelenggaraan 14th Basic and Applied Science International Conference (BASIC) 2026. Forum ini mempertemukan akademisi dan pakar lintas negara untuk mengembangkan kerja sama ilmiah sekaligus mendorong hilirisasi riset menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

FSTeM UB menggelar konferensi tersebut pada 15–16 Oktober 2026 di The Jien Suites Resort & Convention, Malang, Jawa Timur. Tahun ini, BASIC mengusung tema “Advancing Mathematics, Sciences, and Technology for Resilient and Sustainable Development”. Tema tersebut menekankan peran matematika, sains, dan teknologi dalam menghadapi tantangan pembangunan yang tangguh serta berkelanjutan.

Example 300x600

Melalui konferensi ini, para peserta bertukar pengetahuan, mempresentasikan hasil penelitian, dan menjajaki peluang kerja sama lintas negara. Selain itu, para pakar internasional membagikan perspektif mengenai perkembangan sains dasar, penerapan teknologi, serta peluang penelitian masa depan.

BASIC tidak hanya menjadi ajang pertemuan akademisi. Lebih dari itu, forum ini menghubungkan penelitian fundamental dengan riset terapan dan rekayasa teknologi. Keterhubungan tersebut penting agar peneliti tidak sekadar menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menciptakan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat dan industri.

Karena itu, FSTeM UB turut menyoroti penguatan ilmu dasar, terutama kimia dan biologi. Kedua bidang ini menopang pengembangan teknologi, mempercepat hilirisasi penelitian, dan membuka peluang bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap inovasi dari luar negeri.

Sains Dasar, Kunci Hilirisasi

Ketua Panitia BASIC, Prof. Dr. Akhmad Sabarudin, M.Sc., menegaskan bahwa pengembangan teknologi membutuhkan fondasi penelitian yang kuat. Menurutnya, penguasaan sains dasar menjadi kunci bagi Indonesia untuk membangun teknologi secara mandiri sekaligus meningkatkan daya saing global.

Ia menjelaskan bahwa peneliti perlu menghubungkan ilmu dasar, penerapan hasil penelitian, dan rekayasa teknologi. Dengan pendekatan tersebut, penelitian dapat menghasilkan solusi yang relevan untuk menjawab berbagai persoalan strategis.

“Keterhubungan antara sains dasar, terapan, dan rekayasa merupakan fondasi utama hilirisasi riset. Melalui konferensi ini, kami berupaya menjawab tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari ketahanan energi, pemanasan global, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI),” ungkap Prof. Sabarudin.

Selain memperkuat fondasi keilmuan, ia mendorong lembaga penelitian untuk membangun kolaborasi jangka panjang. Pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas peneliti, dan keterlibatan industri juga perlu berjalan beriringan. Dengan demikian, hasil penelitian dapat menjawab kebutuhan nyata.

Oleh sebab itu, BASIC menjadi ruang bagi para akademisi untuk mempertemukan gagasan ilmiah dengan peluang pengembangan inovasi. Melalui diskusi antarpakar, peneliti dapat memperluas perspektif sekaligus merintis kerja sama yang lebih terarah.

UB Perluas Jejaring Global

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., menyambut positif kehadiran akademisi dan peneliti internasional dalam BASIC 2026. Ia menilai keterlibatan pakar dari berbagai negara membuka peluang bagi UB untuk memperluas kemitraan akademik dan meningkatkan kualitas penelitian.

Konferensi ini menghadirkan peserta dan pakar dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang, serta Mesir. Keragaman latar belakang tersebut memperkaya diskusi. Pada saat yang sama, pertemuan ini membuka peluang pertukaran gagasan dan pengembangan penelitian bersama.

Prof. Widodo juga menegaskan komitmen UB dalam memperkuat fasilitas dan dukungan penelitian. Melalui upaya tersebut, universitas ingin membantu sivitas akademika menghasilkan karya ilmiah yang kompetitif sekaligus meningkatkan reputasi UB di tingkat internasional.

“Kolaborasi lintas negara ini diharapkan mampu memacu publikasi riset terkemuka, mencetak ilmuwan kelas dunia yang masuk kategori 2 hingga 5 persen peneliti top dunia, bahkan membuka peluang lahirnya peraih penghargaan bergengsi tingkat internasional di masa depan,” tegasnya.

Selain meningkatkan produktivitas publikasi, kemitraan internasional memberi kesempatan kepada peneliti untuk mengembangkan proyek bersama dan memperluas jaringan akademik. Karena itu, UB terus mendorong terciptanya ekosistem penelitian yang kompetitif dan berorientasi global.

BASIC 2026 menghadirkan sejumlah akademisi sebagai pembicara utama atau keynote speakers. Mereka meliputi Assoc. Prof. Ts. Abdul Halim Abdul Latiff dari Universiti Teknologi Petronas, Malaysia; Prof. Sulaiman Wadi Harun dari University of Malaya, Malaysia; serta Assoc. Prof. Chairat Treesubsuntorn dari King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Thailand.

Pembicara utama lainnya ialah Assoc. Prof. Wan Mohd Nuzul Hakimi bin W Salleh dari Sultan Idris Education University, Malaysia; Danang Teguh Qoyyimi, Ph.D., dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia; dan Assist. Prof. Kento Kasahara dari Osaka University, Jepang.

Sementara itu, sesi invited speakers menghadirkan Dr. Syazreen Niza Shair dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia; Dr. Siti Maimunah dari Kementerian Perhubungan, Indonesia; serta Dr. Muhammad Yusuf dari Universitas Brawijaya, Indonesia.

Para pembicara tersebut memperluas cakupan diskusi BASIC. Mereka tidak hanya berbagi hasil penelitian, tetapi juga menyampaikan perspektif lintas disiplin untuk memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan dan memperkuat jejaring riset internasional.

FSTeM Siapkan Kolaborasi Riset

Dekan FSTeM UB, Prof. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D., menekankan pentingnya menghasilkan manfaat nyata setelah konferensi berakhir. Ia berharap BASIC membuka peluang kerja sama konkret dalam penelitian, pengembangan kapasitas akademisi, dan peningkatan kualitas pendidikan pascasarjana.

Untuk mendukung tujuan tersebut, FSTeM UB menyiapkan penguatan kemitraan melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) dan perjanjian kerja sama (Memorandum of Agreement atau MoA).

Rencana kolaborasi itu mencakup pendampingan penyusunan proposal penelitian, pelaksanaan riset bersama antaruniversitas, serta penjajakan program gelar ganda (double degree) untuk jenjang doktoral.

Melalui langkah tersebut, FSTeM UB ingin memperluas akses peneliti ke jaringan akademik internasional. Selain itu, kemitraan ini diharapkan meningkatkan peluang pendanaan penelitian dan memperkuat kompetensi sumber daya manusia di bidang sains dan teknologi.

FSTeM UB juga mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah. Salah satu langkahnya ialah melibatkan pemimpin redaksi (editor-in-chief) dan penerbit jurnal internasional bereputasi dalam strategi penyebarluasan hasil penelitian.

Keterlibatan mereka dapat membantu peneliti memahami standar publikasi internasional, menyempurnakan kualitas manuskrip, dan menyesuaikan artikel dengan cakupan jurnal yang dituju.

Selanjutnya, FSTeM UB mendorong peneliti memperluas jalur publikasi. Peneliti dapat mengarahkan artikel terpilih ke jurnal internasional bereputasi sesuai bidang kajian dan mengikuti proses penelaahan yang berlaku pada setiap jurnal. Dengan cara ini, peneliti memiliki pilihan diseminasi yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan prosiding konferensi.

BASIC Bidik Forum Internasional

Ke depan, FSTeM UB berencana mengembangkan BASIC melalui penyelenggaraan bersama atau in conjunction dengan forum ilmiah internasional lainnya. Rencana tersebut mencakup International Conference on Chemistry and Material Science (IC2MS) serta jejaring kemitraan riset bilateral Indonesia–Prancis melalui LMI-LSI.

Integrasi itu diharapkan memperluas jangkauan kolaborasi dan mempertemukan peneliti dari berbagai disiplin ilmu. Lebih jauh, langkah tersebut dapat membuka peluang bagi para akademisi untuk menyusun agenda penelitian bersama secara berkelanjutan.

Dengan menghubungkan sains dasar, riset terapan, publikasi ilmiah, dan kemitraan internasional, FSTeM UB berupaya memperkuat posisi BASIC sebagai forum strategis pengembangan ilmu pengetahuan.

Pada akhirnya, konferensi ini diharapkan mendorong lahirnya inovasi, meningkatkan daya saing ilmuwan Indonesia, dan memperkuat kemandirian teknologi nasional.

Penyelenggaraan BASIC 2026 turut mendapat dukungan dari Sunday Travel dan Bank Mandiri Cabang Brawijaya.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *