JATIMTERBARU.COM, MALANG — Pembelajaran sejarah tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Siswa SMP Negeri 30 Kota Malang mendapat kesempatan mengenali jejak peradaban masa lalu melalui artefak asli dalam program Museum Keliling yang digelar di lingkungan sekolah, Rabu (16/9/2026).
Kehadiran koleksi bersejarah secara langsung memberikan pengalaman berbeda bagi para siswa. Mereka tidak sekadar mempelajari sejarah melalui buku atau gambar, tetapi dapat melihat dan mengenali bentuk fisik tinggalan masa lampau yang menjadi bagian dari perjalanan peradaban di Kota Malang.
Salah satu artefak yang diperkenalkan yakni bata kuno yang berasal dari wilayah Kota Malang.
Material tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan bata yang digunakan dalam konstruksi bangunan masa kini, sekaligus menjadi bagian dari tinggalan arsitektur masa lampau.
Sejarawan, peneliti sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, menjelaskan bahwa pengenalan artefak secara langsung penting untuk membuka pemahaman siswa mengenai beragam bentuk tinggalan sejarah.
Menurutnya, jejak peradaban Malang tidak hanya dapat dilihat melalui arca, tetapi juga melalui tinggalan arsitektur yang menunjukkan kemampuan masyarakat masa lalu dalam membangun dan mengembangkan peradabannya.
“Adik-adik biar tahu bedanya, makanya kita bawa artefak aslinya yang kita ambil dari wilayah Kota Malang. Ternyata Kota Malang juga punya arsitektur yang bagus-bagus dulu, walaupun sekarang hanya tinggal fondasinya,” ujar Rakai Hino.
Ia menilai, keberadaan tinggalan sejarah tersebut dapat menjadi media pembelajaran konkret bagi generasi muda untuk memahami bahwa masyarakat masa lampau telah memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam membangun peradaban.
“Minimal adik-adik tahu bahwasanya masa lampau itu nenek moyang kita adalah orang-orang yang pintar. Dilihat dari mana? Dari tinggalan-tinggalan yang sekarang kita taruh di museum, salah satunya di Museum Mpu Purwa,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diperkenalkan dengan sejumlah tinggalan budaya lainnya, seperti topeng, keris, dan arca.
Beragam koleksi itu menjadi pintu masuk bagi siswa untuk memahami kekayaan sejarah dan budaya yang berkembang di Malang dari masa ke masa.
Pengenalan tersebut sekaligus diselaraskan dengan karakter pembelajaran di SMPN 30 Kota Malang yang mengedepankan pendekatan religius dan sosioreligius.
Sejarah dan kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai pengetahuan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari pembentukan karakter serta cara siswa memahami lingkungan sosial dan budayanya.
Rakai Hino berharap kegiatan tersebut mampu menumbuhkan kepedulian siswa terhadap keberadaan tinggalan sejarah.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada pemahaman tentang masa lalu, tetapi berkembang menjadi kesadaran untuk menghargai dan menjaga warisan budaya.
“Ke depannya adik-adik lebih toleran, lebih bisa menghargai nilai-nilai sejarah, lebih bisa mengerti tentang tinggalan sejarah sehingga mereka ke depan bisa ikut melestarikan dan menjaga cagar budaya yang ada, khususnya di wilayah Kota Malang,” ujarnya.
Sementara itu, Humas SMPN 30 Kota Malang, Utari Dian Palupi, menyambut positif pelaksanaan Museum Keliling.
Menurutnya, konsep museum yang hadir langsung ke sekolah menjadi alternatif pembelajaran yang membantu siswa memperoleh pengalaman secara lebih dekat.
“Ini luar biasa, artinya ini menjemput bola. Untuk tempatnya kan memang jauh dari jangkauan kami,” kata Utari.
Menurut Utari, kegiatan tersebut juga membuka peluang bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman.
Salah satu rencana yang dipertimbangkan yakni mengarahkan siswa melakukan kunjungan ke museum secara langsung, baik secara bersama-sama maupun melalui perwakilan.
Siswa yang mengikuti kunjungan nantinya dapat ditugaskan membuat reportase mengenai pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh.
Hasil tersebut kemudian dapat dibagikan kepada siswa lainnya sehingga manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan oleh peserta kunjungan.
“Anak-anak bisa diarahkan untuk mengunjungi, meskipun itu sifatnya hanya perwakilan. Kemudian anak-anak bisa membuat semacam reportase. Setelah hasil reportase, anak-anak bisa mengimbaskan ke teman-teman,” jelasnya.
Utari berharap program Museum Keliling dapat kembali hadir di SMPN 30 Kota Malang.
Sekolah juga membuka kemungkinan membawa siswa berkunjung langsung ke Museum Mpu Purwa yang berada di kawasan Soekarno-Hatta.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas pengalaman belajar siswa sekaligus menumbuhkan kedekatan generasi muda dengan sejarah dan warisan budaya yang berada di lingkungan Kota Malang.
Melalui pembelajaran berbasis artefak dan kunjungan museum, sejarah tidak lagi sekadar menjadi materi di dalam buku pelajaran.
Jejak masa lalu dapat hadir sebagai pengalaman nyata yang mendorong siswa mengenali, menghargai, sekaligus turut menjaga warisan peradaban di daerahnya.
















