Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
BeritaBerita Daerah

BUMDes Sidorejo Kembangkan Sentra Melon Premium

101
×

BUMDes Sidorejo Kembangkan Sentra Melon Premium

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, SIDOARJO – Pemerintah Desa Sidorejo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, mulai mengubah cara pandang terhadap pemanfaatan aset desa. Lahan yang sebelumnya belum memberikan kontribusi ekonomi secara optimal kini dikembangkan menjadi sentra budidaya melon premium berbasis greenhouse yang sekaligus diarahkan sebagai destinasi wisata petik melon.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari inovasi BUMDes Sidorejo dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi desa. Greenhouse Ketahanan Pangan tersebut secara resmi dibuka oleh Bupati Sidoarjo H. Subandi, M.Kn., Selasa (6/10/2026).

Example 300x600

Konsep yang diterapkan tidak sekadar mengandalkan pola budidaya pertanian konvensional. Melalui teknologi greenhouse, proses produksi dirancang agar lebih terkontrol sehingga tanaman dapat dibudidayakan secara lebih konsisten tanpa terlalu dipengaruhi perubahan cuaca maupun pergantian musim.

Tiga varietas melon premium menjadi komoditas utama yang dikembangkan, yakni Sweet Hami, Sweet Net 9, dan Sweet Lavender. Ketiganya dipilih untuk menjawab peluang pasar yang mengarah pada produk hortikultura dengan kualitas dan nilai jual lebih tinggi.

Sistem greenhouse juga memberikan fleksibilitas dalam menjaga keberlangsungan produksi. Kondisi lingkungan tanaman yang lebih terkendali memungkinkan kegiatan budidaya tetap berjalan meski memasuki musim penghujan, sehingga potensi gangguan terhadap produktivitas dapat ditekan.

Bupati Sidoarjo H. Subandi memberikan apresiasi terhadap terobosan Pemerintah Desa Sidorejo bersama BUMDes tersebut. Menurutnya, inovasi itu menunjukkan bahwa aset desa tidak semestinya hanya dipandang sebagai lahan yang harus dipertahankan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara kreatif dan produktif.

“Berarti inovasi Pak Lurah ini luar biasa, terutama BUMDes. Saya mengajak dinas pertanian nanti bekerja sama dengan kepala desa, berkolaborasi, supaya pemerintah bisa menganggarkan, terutama untuk peningkatan ketahanan pangan,” ujar Subandi.

Ia menilai model pengembangan greenhouse dapat menjadi contoh konkret bagaimana pemerintah desa menghadirkan kegiatan ekonomi yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat. Kolaborasi antara BUMDes dan kelompok masyarakat, termasuk PKK, dinilai dapat memperluas manfaat dari pemanfaatan aset desa.

“Kalau kita punya lahan seperti ini, minimal nanti BUMDes dengan PKK bisa menampilkan. Tujuannya, pemerintah hadir, desa hadir. Daripada mengelola aset tanah yang kurang produktif, yang seperti ini meskipun musim hujan tetap bisa produktif. Tetap jalan,” katanya.

Dari sisi usaha, budidaya melon premium Sidorejo juga memperlihatkan prospek ekonomi yang cukup menjanjikan. Pengelola BUMDes mencatat, modal awal sekitar Rp25 juta mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp44 juta. Artinya, usaha tersebut menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp19 juta.

Capaian tersebut, menurut Subandi, masih memiliki ruang pengembangan yang besar. Penambahan luas lahan dan peningkatan kapasitas produksi diyakini dapat meningkatkan pendapatan sekaligus memperbesar kontribusi BUMDes terhadap perekonomian desa.

“Ini tadi baru satu orang yang mengerjakan. Kalau kita punya lahan luas, peningkatan penghasilan kita juga tambah tinggi. Kalau PAD-nya tinggi, perangkat juga sejahtera. Lingkungan setempat juga bisa merasakan manfaat dari lahan-lahan yang ada di sekitarnya,” tuturnya.

Atas hasil tersebut, Bupati Sidoarjo mendorong pemerintah desa lain untuk tidak ragu mengembangkan potensi lokal berdasarkan karakteristik wilayah masing-masing. Lahan yang belum produktif diharapkan dapat dipetakan dan diarahkan menjadi kegiatan usaha yang mampu memberikan nilai tambah.

Pemkab Sidoarjo juga menyiapkan dukungan melalui skema Bantuan Keuangan Khusus (BKK) untuk mendorong pengembangan potensi ekonomi desa. Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat lahirnya berbagai inovasi serupa di sejumlah wilayah Kabupaten Sidoarjo.

“Kita siapkan dan kita anggarkan. Harapannya seluruh kepala desa bisa mengembangkan potensi masing-masing, sehingga minimal Sidoarjo ini bisa menjadi kota petik melon. Ini harapan kita,” tegas Subandi.

Tidak berhenti pada produksi pertanian, pengembangan greenhouse tersebut juga membuka peluang baru di sektor wisata. Konsep petik melon memberikan nilai tambah karena konsumen tidak hanya membeli hasil panen, tetapi dapat memperoleh pengalaman berkunjung dan memetik langsung buah dari area budidaya.

Potensi pasar melon Sidorejo pun dinilai cukup terbuka, termasuk untuk menyasar segmen pasar modern. Karakter rasa yang manis menjadi salah satu keunggulan produk yang dikembangkan BUMDes tersebut.

Penilaian itu disampaikan langsung Subandi setelah mencicipi melon hasil budidaya greenhouse. Ia menyebut cita rasa melon Sidorejo memiliki karakter yang sesuai dengan pasar premium.

“Ini pasar premium karena manis sekali. Kalau dibiarkan satu hari, rasanya sudah berbeda, lebih manis lagi,” puji Subandi.

Pengembangan Greenhouse Ketahanan Pangan Sidorejo pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai budidaya melon. Inovasi tersebut menjadi gambaran bagaimana aset desa dapat diolah menjadi sumber ekonomi baru melalui perpaduan teknologi pertanian, penguatan BUMDes, ketahanan pangan, dan potensi wisata.

Jika dikembangkan secara konsisten, model tersebut berpeluang menjadi salah satu alternatif penggerak ekonomi desa sekaligus memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat. Sidorejo pun menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat diubah menjadi aset bernilai ekonomi melalui inovasi dan pengelolaan yang tepat.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *