Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Bakorwil Malang Pacu Kebangkitan Kopi Lokal

94
×

Bakorwil Malang Pacu Kebangkitan Kopi Lokal

Sebarkan artikel ini
Asep Kusdinar Kepala Bakorwil Malang bersama Lathifah Shohib Wakil Bupati Malang dan Aditya Candra Ketua Malangopi Fest 2026, (Foto Istimewa)

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang menyiapkan Malangopi Fest 2026 sebagai langkah strategis untuk mengangkat kembali kejayaan kopi Malang. Melalui festival ini, Bakorwil ingin memperkuat agroindustri, meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal, serta memperluas peluang kopi Malang di pasar internasional.

Bakorwil Malang merancang festival tersebut sebagai ruang kolaborasi bagi petani, pelaku industri pengolahan, UMKM, pemilik kedai kopi, komunitas, dan jaringan pemasaran. Kolaborasi ini diharapkan mampu membangun ekosistem perkopian yang kuat, mulai dari produksi hingga pemasaran.

Example 300x600

Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, membahas rencana tersebut bersama Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, di Kantor Bakorwil III Malang, Jumat (16/10/2026). Pertemuan itu menyoroti peluang pengembangan kopi sebagai salah satu penggerak ekonomi unggulan Malang Raya.

Potensi Ekspor Dorong Kebangkitan Kopi Malang

Kabupaten Malang memiliki potensi besar dalam industri kopi Jawa Timur. Sejumlah wilayah, seperti Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit, mengandalkan perkebunan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan.

Kopi Dampit bahkan telah menembus pasar ekspor dan memperkuat identitas kopi Malang di tingkat internasional. Potensi ini membuka peluang bagi daerah untuk meningkatkan produksi, memperluas pasar, dan mendorong pertumbuhan usaha berbasis kopi.

Data dalam materi kegiatan mencatat permintaan ekspor kopi Kabupaten Malang pernah mencapai 45.000 ton. Sementara itu, kemampuan pasokan lokal saat itu hanya sekitar 15.000 ton. Pelaku usaha kemudian mendatangkan tambahan pasokan dari daerah lain, termasuk Blitar dan Pasuruan.

Kesenjangan tersebut menunjukkan peluang besar bagi petani dan pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi lokal. Namun, peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas, produktivitas perkebunan, pengolahan hasil panen, dan penguatan rantai pasok.

Asep Kusdinar menilai Malang memiliki sejarah panjang serta sumber daya yang kuat untuk mengembangkan industri kopi dan kakao. Karena itu, ia ingin menghidupkan kembali potensi tersebut melalui kolaborasi lintas sektor.

“Malang punya akar, potensi, dan sejarah yang sangat kuat sebagai pusat penghasil kopi dan kakao tingkat dunia. Semangat ini yang hendak kita munculkan kembali melalui gelaran Malangopi Fest 2026. Ini bisa jadi solusi kita,” ungkap Asep.

Menurutnya, pertumbuhan usaha kopi di Malang membutuhkan koordinasi yang terarah. Pemerintah perlu mempertemukan petani, pelaku usaha, komunitas, dan industri agar mereka mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian daerah.

Perkuat Agroindustri dalam Pengembangan Malang Raya

Bakorwil Malang juga menghubungkan pengembangan kopi dan kakao dengan grand design Malang Raya Megapolitan. Dalam konsep tersebut, penguatan komoditas unggulan perlu berjalan bersama pengembangan industri, konektivitas kawasan, dan perluasan akses pasar.

Melalui pendekatan ini, pelaku usaha tidak hanya menjual biji kopi mentah. Mereka juga dapat mengembangkan produk olahan, meningkatkan standar mutu, memperkuat identitas merek, serta menghadirkan inovasi pemasaran.

Langkah tersebut membuka peluang ekonomi bagi berbagai sektor. Petani dapat meningkatkan nilai hasil panen, UMKM mengembangkan produk turunan, sedangkan kedai kopi dan pelaku industri kreatif memperluas pasar produk lokal.

Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, menegaskan pentingnya kearifan lokal dalam pengembangan Koridor Selatan-Selatan Jawa Timur. Ia mendorong pemerintah dan pelaku usaha menjadikan agroindustri kopi serta kakao sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan yang berkelanjutan.

“Kopi dari Malang sudah diakui dunia. Buktinya dari angka ekspor kopi dari Malang. Namun, kita masih sangat membutuhkan program kerja inovatif dan kolaboratif untuk membangun keseluruhan ekosistemnya. Agar bisa lebih menjamin keberlanjutan dan keunggulannya,” ujar Lathifah.

Ia menilai seluruh pemangku kepentingan perlu membangun kerja sama yang konsisten. Pemerintah, petani, pengusaha, dan komunitas harus menyelaraskan kapasitas produksi dengan kebutuhan pasar sekaligus menjaga kualitas dan keberlanjutan usaha.

Selain itu, Lathifah mendorong perempuan untuk mengambil peran lebih luas dalam pengembangan ekonomi kawasan selatan Jawa Timur. Perempuan dapat memperkuat ekonomi keluarga melalui pengembangan usaha, pengolahan hasil perkebunan, dan penciptaan produk bernilai tambah.

Lathifah Usulkan Khofifah Jadi Juri Lomba Seduh Kopi

Dalam diskusi tersebut, Lathifah mengusulkan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menjadi juri utama lomba seduh kopi pada Malangopi Fest 2026.

Ia berharap keterlibatan Khofifah dapat meningkatkan daya tarik festival sekaligus mendorong apresiasi masyarakat terhadap kualitas dan keragaman cita rasa kopi lokal.

“Ibu Khofifah itu sangat ahli dalam hal kopi. Beliau sangat mendalaminya. Semoga beliau berkenan menjadi juri utama dalam Malangopi Fest 2026,” sambungnya.

Lomba seduh kopi juga berpeluang menjadi ruang bagi para pegiat kopi untuk menunjukkan keterampilan dan kreativitas mereka. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat mengenal karakter kopi lokal sekaligus memahami pentingnya kualitas dalam industri perkopian.

Malangopi Fest Ditargetkan Menjadi Agenda Tahunan

Ketua Pelaksana Malangopi Fest 2026, Aditya Candra, menjelaskan bahwa panitia ingin menghadirkan festival yang memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha kopi di Malang Raya.

Ia menargetkan kegiatan ini berkembang menjadi agenda tahunan. Dengan demikian, para pelaku usaha dapat terus memperluas jejaring, membangun kolaborasi, dan mengembangkan peluang bisnis.

“Kita konsepnya dijadikan event rutin tahunan agar keberlanjutannya bisa kita jaga bersama. Prinsip utamanya adalah kolaborasi dan orkestrasi. Kita terbuka. Ini event kita bersama. Semoga bermanfaat untuk kita semuanya,” kata Aditya, yang juga pemilik Wondo Kopie.

Bakorwil Malang menggagas festival ini bersama Wondo Kopie, TosanAji.id, serta berbagai komunitas pegiat kopi dan kebudayaan di wilayah kerjanya. Mereka ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai wadah bersama untuk memperkuat industri kopi sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.

Selain mengangkat kopi, Bakorwil Malang mengintegrasikan kegiatan ini dengan program Ibu Periwi. Selama empat tahun terakhir, program tersebut mendorong perempuan untuk mengembangkan kreativitas, kemandirian, dan potensi diri.

Pada 2026, Bakorwil Malang juga menjajaki kolaborasi antara Dharma Wanita Persatuan (DWP) dan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Kerja sama ini diharapkan memperluas keterlibatan perempuan dalam kegiatan sosial, budaya, serta pengembangan ekonomi masyarakat.

Malangopi Fest 2026 turut menyemarakkan peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Hari Jadi ke-1266 Kabupaten Malang, Hari Jadi ke-25 Kota Batu, Hari Pahlawan, serta Hari Disabilitas Internasional 2026.

Melalui festival ini, Bakorwil Malang ingin memperluas pengenalan kopi lokal, memperkuat jejaring pelaku usaha, dan membuka akses pasar yang lebih luas. Upaya tersebut juga diharapkan mendorong petani meningkatkan kualitas serta produktivitas hasil perkebunan.

Pada akhirnya, Malangopi Fest 2026 bukan sekadar perayaan kopi. Festival ini menjadi langkah kolaboratif untuk memperkuat industri dari hulu hingga hilir, meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat, dan membawa kopi Malang semakin kompetitif di pasar dunia.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *