Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Fokus SINABIS 2026

88
×

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Fokus SINABIS 2026

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, SURABAYA – Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam memperkuat industri kreatif serta mempercepat transformasi bisnis digital. Isu tersebut menjadi sorotan dalam The 8th SINABIS 2026 yang digelar Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur, Rabu (7/10/2026).

Seminar nasional penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung di Ballroom Gedung Menara Wimaya, Twin Tower B lantai 11, UPN “Veteran” Jawa Timur. Penyelenggara membuka kegiatan secara luring dan daring agar dosen, peneliti, mahasiswa, serta masyarakat umum dapat mengikuti pembahasan.

Example 300x600

Mengusung tema “Kemitraan Strategis Inklusif: Ekosistem Bisnis dalam Mendukung Industri Kreatif dan Inovasi Bisnis Digital yang Berkelanjutan”, SINABIS ke-8 menyoroti pentingnya membangun ekosistem usaha yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Forum ini tidak hanya membahas pemanfaatan teknologi digital. Para narasumber juga mengulas kesiapan sumber daya manusia, tata kelola organisasi, akses pembiayaan, hingga strategi pengembangan usaha kreatif agar mampu bersaing di tengah perubahan ekonomi.

UPN Jatim Perkuat Sinergi Lintas Sektor

Wakil Rektor III UPN “Veteran” Jawa Timur, Prof. Dr. Drs. Lukman Arif, M.Si., membuka kegiatan dengan menyampaikan sambutan mewakili rektor. Sementara itu, Direktur Konten Digital Kementerian Ekonomi Kreatif, Yuana Rochma Astuti, hadir mewakili Menteri Ekonomi Kreatif untuk menyampaikan pidato kunci.

Keterlibatan unsur perguruan tinggi dan pemerintah tersebut mempertegas pentingnya hubungan antara dunia pendidikan, kebijakan publik, dan kebutuhan industri. Melalui forum akademik, para pemangku kepentingan dapat bertukar gagasan sekaligus merumuskan pendekatan yang relevan bagi pengembangan bisnis nasional.

Diskusi menghadirkan empat narasumber dengan keahlian berbeda. Mereka terdiri atas Dr. Margaretha Banowati Talim, Dra., M.Si., dari Universitas Katolik Parahyangan; Dr. Dyah Widowati, S.H., M.M., dari UPN “Veteran” Jawa Timur; serta Dyla Anisa, S.Si., M.B.A., Assistant Manager of Product Development and System Integration PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Dosen Administrasi Bisnis UPN “Veteran” Jawa Timur, Maharani Ikaningtyas, S.E., M.AB., memandu jalannya diskusi.

Ekonomi Kreatif Jadi Peluang Pertumbuhan Baru

Dalam pidato kuncinya, Yuana Rochma Astuti menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak baru pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut materi yang disampaikan, pengembangan sektor ini perlu bertumpu pada potensi daerah serta dukungan ekosistem yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan.

Pendekatan hexahelix menjadi salah satu kerangka kolaborasi yang dibahas. Pendekatan ini menekankan keterlibatan berbagai unsur dalam mendorong inovasi, memperluas peluang usaha, dan memperkuat daya saing industri kreatif.

Yuana juga menguraikan rantai ekosistem konten digital yang melibatkan kreator, agregator, platform digital, produk kreatif, hingga pengguna. Setiap unsur memiliki peran dalam menciptakan nilai ekonomi dari ide, keterampilan, dan karya kreatif.

Karena itu, pengembangan talenta digital menjadi kebutuhan mendesak. Pelatihan pembuatan konten, pemasaran afiliasi, fotografi digital, penulisan digital, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dapat membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi generasi muda.

Perguruan tinggi juga memiliki peran strategis dalam menyiapkan talenta tersebut. Mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan untuk menciptakan inovasi, membangun usaha, dan memanfaatkan teknologi. Dengan bekal itu, mereka tidak hanya bergantung pada peluang kerja, tetapi juga mampu menciptakan kesempatan ekonomi secara mandiri.

Transformasi Digital Harus Berpihak pada Manusia

Persoalan sumber daya manusia menjadi perhatian dalam pemaparan Dr. Dyah Widowati. Ia membahas tata kelola organisasi dan transformasi digital SDM, termasuk tantangan yang muncul ketika perusahaan mengadopsi teknologi baru.

Transformasi digital tidak cukup hanya dengan menghadirkan sistem dan perangkat modern. Organisasi juga perlu menyiapkan kompetensi pegawai, membangun budaya kerja yang adaptif, serta memastikan kepemimpinan mampu mengelola perubahan.

Pemanfaatan Human Resource Information System (HRIS) dan analisis data SDM atau people analytics dapat membantu organisasi mengambil keputusan secara lebih terukur. Selain itu, program peningkatan keterampilan (upskilling) dan pembaruan keterampilan (reskilling) perlu berjalan beriringan dengan perubahan kebutuhan pekerjaan.

Namun, percepatan digitalisasi juga membawa tanggung jawab baru. Organisasi harus memperhatikan perlindungan data pribadi, keamanan siber, etika penggunaan AI, serta hak-hak pekerja.

Dyah turut menyoroti pentingnya pemimpin yang tanggap terhadap perubahan, memiliki kecerdasan emosional, dan mampu membangun lingkungan kerja inklusif. Prinsip environmental, social, and governance (ESG) juga perlu masuk dalam tata kelola agar transformasi digital menghasilkan manfaat yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

UKM Kreatif Perlu Mengedepankan Nilai Kemanusiaan

Sementara itu, Dr. Margaretha Banowati Talim mengangkat strategi pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) kreatif melalui pendekatan humane entrepreneurship serta tata kelola risiko modal manusia.

Pendekatan tersebut menempatkan manusia sebagai bagian utama dalam strategi bisnis. Di tengah kondisi BANI—rapuh, penuh kecemasan, tidak linier, dan kompleks—pelaku usaha perlu memperhatikan lebih dari sekadar produktivitas dan pencapaian finansial.

Kualitas sumber daya manusia, kreativitas, komitmen, moral, serta kesejahteraan pekerja turut menentukan ketahanan organisasi. Karena itu, perusahaan perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan individu sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.

Margaretha juga menekankan pentingnya pengelolaan risiko modal manusia, manajemen talenta, serta penerapan governance, risk, and compliance (GRC). Integrasi ketiga aspek tersebut membantu organisasi membangun sistem kerja yang transparan, bertanggung jawab, dan tangguh menghadapi perubahan.

Bagi UKM kreatif, tata kelola yang baik bukan sekadar urusan administrasi. Sistem tersebut menjadi fondasi untuk menjaga kepercayaan, mengelola potensi risiko, dan mengembangkan usaha tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan.

Perbankan Perluas Akses Pembiayaan UMKM Kreatif

Dari perspektif industri keuangan, Dyla Anisa memaparkan perubahan peran perbankan dalam mendukung pertumbuhan UMKM dan industri kreatif. Bank kini memiliki peluang untuk berkontribusi lebih luas melalui pembiayaan, infrastruktur transaksi digital, literasi keuangan, pendampingan, dan perluasan akses pasar.

Akan tetapi, karakter usaha kreatif menghadirkan tantangan tersendiri. Banyak pelaku usaha menghadapi keterbatasan agunan, memiliki aset utama berupa hak cipta atau merek, serta belum menerapkan pencatatan keuangan secara optimal.

Selain itu, sebagian usaha kreatif mengandalkan pendapatan berbasis proyek. Kondisi tersebut membuat arus kas mereka berbeda dari bisnis dengan pendapatan rutin sehingga membutuhkan pendekatan pembiayaan yang lebih sesuai.

Karena itu, lembaga keuangan perlu merancang produk yang mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan usaha kreatif. Pendampingan juga penting agar pelaku UMKM mampu memperbaiki pengelolaan keuangan dan memanfaatkan layanan digital secara produktif.

Digitalisasi transaksi dapat membantu membangun rekam jejak usaha yang lebih terukur. Data transaksi tersebut dapat mendukung penilaian kelayakan pembiayaan sekaligus membantu pelaku usaha memperkuat kredibilitas bisnisnya.

Melalui langkah tersebut, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dari tahap peningkatan produktivitas (go productive), menuju digitalisasi (go digital), hingga menjangkau pasar internasional (go global).

Kolaborasi Jadi Fondasi Ekosistem Bisnis Berkelanjutan

Berbagai paparan dalam SINABIS ke-8 memperlihatkan bahwa transformasi bisnis digital membutuhkan pendekatan menyeluruh. Teknologi dan modal saja tidak cukup tanpa dukungan SDM yang kompeten, tata kelola yang kuat, pembiayaan inklusif, serta kemitraan lintas sektor.

Dalam ekosistem tersebut, teknologi berfungsi memperkuat kemampuan manusia dan meningkatkan efisiensi usaha. Pada saat yang sama, perlindungan data, keamanan siber, etika AI, pengelolaan risiko, dan prinsip keberlanjutan harus menjadi bagian dari strategi bisnis.

Sinergi pemerintah, akademisi, industri dan UMKM, lembaga keuangan, komunitas, serta media juga berperan dalam memperluas akses pengetahuan dan peluang usaha. Kolaborasi tersebut dapat membantu pelaku industri kreatif mengembangkan inovasi sekaligus memperkuat daya saing daerah.

Perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai pusat penelitian, pengembangan talenta, inovasi, dan kewirausahaan. Melalui kerja sama yang terarah, hasil penelitian akademik berpeluang menjawab kebutuhan industri sekaligus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Upaya tersebut diharapkan mampu memperluas kesempatan kerja, memperkuat UMKM, serta meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia dalam menghadapi persaingan global. Dalam jangka panjang, penguatan ekosistem bisnis yang inklusif dan berkelanjutan turut mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Enam Subtema Perkaya Kajian Bisnis Digital

Selain diskusi panel, SINABIS 2026 juga menyediakan ruang bagi publikasi dan pertukaran hasil penelitian melalui enam subtema utama.

Keenam subtema tersebut mencakup pemasaran digital dan branding kreatif; keuangan inklusif dan investasi berkelanjutan; serta manajemen SDM dan talenta digital. Tiga bidang lainnya meliputi sistem informasi dan transformasi digital bisnis, strategi bisnis dan kemitraan ekosistem berkelanjutan, serta kewirausahaan dan isu-isu kontemporer bisnis.

Keragaman topik tersebut menunjukkan luasnya tantangan pengembangan industri kreatif. Pelaku usaha tidak hanya membutuhkan strategi pemasaran, tetapi juga dukungan teknologi, akses pembiayaan, pengelolaan SDM, dan kemitraan yang mampu menjaga keberlanjutan bisnis.

Penyelenggara juga membuka peluang publikasi bagi para presenter. Artikel ilmiah dapat diajukan ke Jurnal Bisnis Indonesia yang disebutkan penyelenggara sebagai jurnal nasional terakreditasi Sinta 4. Sementara itu, karya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat diarahkan ke Jurnal Pengabdian Masyarakat serta Jurnal Penelitian (Jurnal Sinabis), sesuai ketentuan masing-masing jurnal.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, SINABIS ke-8 diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan. Seminar ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan praktis dunia usaha, memperkuat kemitraan lintas sektor, dan mendorong lahirnya inovasi yang berdampak bagi perkembangan industri kreatif serta ekonomi digital Indonesia. (Penulis: Rizka Kurnia Andaru, S.AB., M.AB.)

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *