Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Pendidikan

FTAB UB Siapkan Kurikulum Pertanian Modern

96
×

FTAB UB Siapkan Kurikulum Pertanian Modern

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) memperkuat pengembangan pendidikan teknik pertanian melalui penyempurnaan kurikulum yang adaptif terhadap kemajuan teknologi dan kebutuhan industri. Langkah ini sekaligus mendukung peningkatan kompetensi sumber daya manusia untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan dan keberlanjutan pertanian nasional.

Departemen Teknik Biosistem FTAB UB membahas agenda tersebut dalam Diskusi Pengembangan Akademik dan Kurikulum Teknik Pertanian dan Biosistem secara daring melalui Zoom Cloud Meeting, Rabu (21/10/2026). Forum ini mempertemukan akademisi, pemerintah, lembaga riset, dan pelaku industri untuk memberikan masukan terhadap pengembangan kurikulum Program Studi Sarjana Teknik Pertanian dan Biosistem.

Example 300x600

Melalui diskusi tersebut, FTAB UB ingin menyelaraskan materi pembelajaran dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan dunia kerja. Selain memperkuat dasar-dasar keteknikan, fakultas juga mendorong penguasaan teknologi digital, kemampuan inovasi, dan penerapan prinsip keberlanjutan.

Lima Pilar Kompetensi Jadi Fondasi Kurikulum

Dalam forum tersebut, FTAB UB memaparkan lima pilar kompetensi sebagai landasan pengembangan kurikulum. Kelima pilar ini menghubungkan dasar-dasar teknik dengan penerapan teknologi dan kebutuhan industri pertanian.

Pertama, Engineering Fundamentals memperkuat penguasaan matematika, fisika, mekanika, termodinamika, dan rekayasa sistem. Mahasiswa membutuhkan fondasi tersebut untuk menganalisis persoalan teknis sekaligus merancang solusi yang tepat.

Kedua, Agricultural & Biosystems Engineering mencakup rekayasa mesin pertanian, pengelolaan sumber daya lahan dan air, teknologi pascapanen, serta sistem biologis. Melalui bidang ini, mahasiswa mempelajari berbagai pendekatan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian.

Selanjutnya, Smart & Precision Agriculture mengintegrasikan sensor, Internet of Things (IoT), otomasi, robotika, kecerdasan buatan (AI), dan pertanian presisi. Penguasaan teknologi tersebut membantu mahasiswa memahami pemanfaatan data untuk mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan pertanian.

Pilar keempat, Engineering Design & Innovation, mengembangkan kemampuan desain, pemodelan, simulasi, pembuatan prototipe, dan standardisasi produk. Sementara itu, pilar kelima, Sustainability & Entrepreneurship, menggabungkan efisiensi sumber daya, ekonomi teknik, analisis keberlanjutan, dan kewirausahaan.

Dengan mengintegrasikan kelima pilar tersebut, FTAB UB ingin menyiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori. Mereka juga perlu mampu menerapkan ilmu teknik, mengembangkan inovasi, dan menjawab persoalan nyata di sektor pertanian.

Pakar Nasional Berikan Masukan Pengembangan Akademik

Untuk memastikan relevansi kurikulum, FTAB UB menghadirkan lima narasumber yang mewakili bidang akademik, ketahanan pangan, riset, agribisnis, dan perkebunan. Masing-masing menyampaikan perspektif berdasarkan perkembangan serta kebutuhan sektor yang mereka tekuni.

Guru Besar Universitas Gadjah Mada sekaligus tokoh Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA), Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng., menyoroti pentingnya penguasaan fundamental teknik. Menurutnya, perguruan tinggi perlu mempertahankan kekuatan dasar keilmuan sekaligus mengikuti perkembangan biosistem dan standar akreditasi internasional, termasuk IABEE.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kemampuan belajar sepanjang hayat atau long-life learning. Kompetensi tersebut membantu lulusan mengikuti perubahan teknologi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan industri.

Dari sektor ketahanan pangan, Direktur Pengadaan Perum BULOG, Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc., menyoroti tantangan pengelolaan pascapanen yang memengaruhi efisiensi rantai pasok pangan nasional.

Ia menekankan kebutuhan tenaga profesional yang menguasai manajemen logistik modern, teknologi penyimpanan, dan analisis mutu. Dengan kompetensi tersebut, lulusan dapat mendukung upaya menekan kehilangan hasil pangan (food loss) sekaligus memperkuat pengelolaan cadangan pangan.

Sementara itu, Dr. Ir. Agung Prabowo, M.Eng., dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian, Kementerian Pertanian, menyoroti kebutuhan teknologi pascapanen yang efisien dan mudah diterapkan.

Menurut perspektif yang disampaikannya, teknologi pertanian perlu mengutamakan ketepatan, efisiensi energi, dan kemudahan penggunaan oleh petani. Di samping itu, pengembangan teknologi harus membuka peluang hilirisasi agar hasil riset dapat menjangkau industri kecil dan menengah.

Industri Dorong Penguasaan Pertanian Digital

Dari sektor agribisnis, Presiden Direktur PT Shriram Seed Indonesia, Ir. Suwarno, M.M., menyoroti pergeseran industri benih menuju sistem produksi berbasis data.

Perkembangan tersebut mendorong kebutuhan tenaga kerja yang memahami mekanisasi sekaligus mampu mengoperasikan drone, membaca data iklim dan tanah, serta menerapkan smart farming. Karena itu, penguasaan teknologi digital menjadi bekal penting bagi lulusan untuk mendukung produktivitas dan kualitas benih.

Berikutnya, Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Dr. Abdul Roni Angkat, S.TP., M.Si., menekankan peran rekayasa teknik dalam mendukung hilirisasi komoditas perkebunan.

Ia menyoroti kebutuhan mekanisasi pada lahan miring serta penerapan prinsip pertanian regeneratif. Kompetensi tersebut relevan untuk mendukung pengembangan komoditas strategis, seperti tebu, kopi, dan kelapa sawit.

Berbagai masukan tersebut memperlihatkan bahwa industri pertanian membutuhkan lulusan dengan kemampuan lintas bidang. Selain memahami prinsip teknik, mereka perlu menguasai teknologi digital, memahami proses produksi, dan mampu menerapkan inovasi sesuai kondisi lapangan.

Diskusi juga melibatkan dosen, alumni, dan mahasiswa. Para peserta menyampaikan pandangan berdasarkan pengalaman akademik, proses pembelajaran, dan kebutuhan dunia kerja. Selanjutnya, FTAB UB akan menggunakan berbagai masukan tersebut untuk mempertajam arah pengembangan kurikulum.

Integrasikan Kurikulum dengan Target SDGs

Pengembangan kurikulum Teknik Pertanian dan Biosistem FTAB UB juga mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui integrasi kompetensi teknik, teknologi, dan keberlanjutan, program ini diarahkan untuk menjawab sejumlah tantangan pembangunan.

Pada SDG 2 atau Tanpa Kelaparan, penguatan rekayasa biosistem dan teknologi pascapanen dapat mendukung peningkatan produktivitas serta pengurangan kehilangan pangan. Kompetensi tersebut juga relevan dengan kebutuhan pengelolaan rantai pasok dan cadangan pangan nasional.

Selanjutnya, SDG 4 atau Pendidikan Berkualitas mendorong pengembangan pembelajaran yang berorientasi pada capaian kompetensi. Keterlibatan akademisi, pemerintah, dan industri membantu FTAB UB menjaga kesesuaian materi pembelajaran dengan kebutuhan profesional.

Pada SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, mahasiswa mendapat landasan untuk mengembangkan solusi berbasis IoT, robotika, pertanian presisi, dan desain rekayasa. Dengan bekal tersebut, mereka berpeluang menghasilkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi proses pertanian.

Di sisi lain, pilar keberlanjutan mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Mahasiswa mempelajari efisiensi penggunaan air dan pupuk, ekonomi sirkular, serta pengembangan teknologi yang dapat mengurangi pemborosan sumber daya.

Kurikulum ini juga mengaitkan kewirausahaan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan. Melalui kompetensi bisnis dan hilirisasi, lulusan diharapkan mampu menciptakan peluang usaha, meningkatkan nilai tambah produk pertanian, dan membuka lapangan kerja di pedesaan.

FTAB UB Siapkan Penyempurnaan Kurikulum

Ketua Departemen Teknik Biosistem FTAB UB, Dr. Eng. Akhmad Adi Sulianto, STP., MT., M.Eng., menyampaikan bahwa pihaknya akan menjadikan masukan para narasumber sebagai bahan utama penyempurnaan dokumen kurikulum.

Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga riset, dan industri untuk memperkuat relevansi pendidikan. Melalui kerja sama tersebut, FTAB UB ingin menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus mampu menjawab tantangan nyata di sektor pertanian.

Ke depan, penguatan kompetensi digital, rekayasa teknologi, dan keberlanjutan diharapkan mendukung transformasi menuju pertanian 4.0. Upaya ini juga memiliki relevansi dengan agenda ketahanan pangan, adaptasi perubahan iklim, dan peningkatan daya saing pertanian Indonesia.

Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan sejak tahap pengembangan kurikulum, FTAB UB berupaya mendekatkan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Langkah tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendorong ekosistem pertanian yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *