JATIMTERBARU.COM, JEMBER – Asosiasi Profesi Teknologi Agroindustri (APTA) mendorong percepatan hilirisasi komoditas perkebunan. Organisasi ini juga memperkuat peran inovasi dalam meningkatkan daya saing industri nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Teknologi Agroindustri dan Kongres APTA 2026. Universitas Jember menjadi tuan rumah kegiatan pada 21–22 Oktober 2026.
Forum ini mengangkat tema “Transformasi Inovasi dan Hilirisasi Agroindustri Berbasis Perkebunan Menuju Kemandirian Ekonomi Nasional”. Para peserta membahas strategi pengembangan produk, penguatan rantai pasok, dan perluasan pasar.
Ketua APTA periode 2022–2026, Dr. Yuli Wibowo, S.TP., M.Si., IPM, menekankan pentingnya kolaborasi antarprofesi. Ia juga mendorong anggota untuk memperluas wawasan dan membangun jejaring kerja sama.
Menurutnya, kolaborasi yang kuat dapat mempercepat inovasi. Langkah ini juga membuka peluang bagi agroindustri Indonesia untuk tumbuh lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Hilirisasi Perkebunan Tingkatkan Nilai Tambah
Empat narasumber mengulas strategi pengembangan agroindustri dari berbagai perspektif. Mereka membahas peran pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
Bupati Jember, Dr. Muhammad Fawait, S.E., M.Sc., menyoroti potensi kopi robusta dan tembakau. Ia menekankan pentingnya peningkatan mutu, penguatan kelembagaan petani, dan perluasan akses pasar.
Ketiga aspek tersebut dapat meningkatkan nilai jual hasil perkebunan. Selain itu, petani memiliki peluang lebih besar untuk memperkuat posisi dalam rantai usaha.
Dari kalangan akademisi, Prof. Dr. Yuli Witono, S.TP., M.P., dari Universitas Jember, menyoroti peran riset. Ia mendorong perguruan tinggi mengembangkan teknologi yang menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.
Dengan demikian, penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Akademisi perlu mendorong penerapan hasil riset agar menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial.
Sementara itu, Prof. Ir. Adi Djoko Guritno, MSIE., Ph.D., dari Universitas Gadjah Mada, membahas ketahanan rantai pasok perkebunan. Ia menyoroti risiko kebijakan, ketersediaan lahan, dan persoalan lingkungan.
Menurut perspektif tersebut, pelaku usaha perlu mengelola risiko sejak awal. Langkah ini membantu menjaga kelancaran produksi sekaligus mendukung keberlanjutan industri.
Direktur PT Mitratani Dua Tujuh, Yogi Subaktyana, mengangkat pentingnya hubungan antara riset dan pasar. Ia menyoroti pengolahan produk bernilai tambah, konsistensi mutu, serta penguatan rantai dingin.
Strategi tersebut dapat memperluas peluang ekspor. Industri juga berpeluang mengurangi ketergantungan pada produk impor melalui pengembangan produk dalam negeri.
Kongres APTA Tandai Regenerasi Kepemimpinan
Selain membahas pengembangan agroindustri, APTA memperkuat hubungan dengan pemerintah daerah. Gala Dinner bersama Bupati Jember dan jajaran pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan kemitraan.
Pertemuan tersebut juga mengiringi pergantian kepemimpinan organisasi. Dr. Yuli Wibowo menyerahkan tongkat estafet Ketua APTA kepada Prof. Dr. Siti Asmaul Mustaniroh.
Prof. Siti Asmaul Mustaniroh akan memimpin APTA untuk periode 2026–2030. Pergantian ini menandai regenerasi kepemimpinan sekaligus membuka babak baru bagi organisasi.
Ke depan, APTA perlu memperkuat kompetensi anggota dan memperluas jejaring kemitraan. Organisasi juga perlu mendorong penerapan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi sektor agroindustri.
Sinergi Lintas Sektor Perkuat Agroindustri Nasional
Seminar nasional dan Kongres APTA 2026 menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor. Akademisi perlu menghubungkan riset dengan kebutuhan industri. Pemerintah juga perlu mendukung iklim usaha yang kondusif.
Di sisi lain, pelaku industri dapat memperluas akses pasar dan memperkuat rantai pasok. Kolaborasi ini membantu komoditas perkebunan menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.
APTA mendorong para pemangku kepentingan untuk mempercepat penerapan hasil penelitian. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk, memperluas peluang usaha, dan memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
















