Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

UB Hadirkan Solusi Mutu bagi UMKM Keripik Tempe

73
×

UB Hadirkan Solusi Mutu bagi UMKM Keripik Tempe

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, BATU – Universitas Brawijaya (UB) memperkuat daya saing usaha mikro melalui penerapan sistem pengendalian mutu produksi. Melalui program Dosen Berkarya (DOKAR) 2026, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB berkolaborasi dengan Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT KUMKM) Kota Batu untuk mendampingi UMKM keripik tempe.

Sejak Juni hingga November 2026, tim mendampingi Fauzi Keripik Tempe dalam membangun sistem produksi yang terukur dan terdokumentasi. Langkah ini bertujuan menjaga konsistensi kualitas produk sekaligus memperkuat posisi UMKM di pasar oleh-oleh.

Example 300x600

Tim FTAB UB dipimpin Sakunda Anggarini, S.TP., M.P., M.Sc., Ph.D., bersama Prof. Imam Santoso dan Prof. Sri Suhartini. Sementara itu, Ketua PLUT KUMKM Kota Batu, Yossi Hendrawan Saraswanto, S.T., turut mendukung pelaksanaan pendampingan di lapangan.

Dokumentasi Mutu Jadi Fondasi Produksi

Fauzi Keripik Tempe merupakan usaha milik Susi Fauziah di Kelurahan Junggo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Sejak berdiri pada 2000, usaha ini memproduksi keripik tempe dalam berbagai varian rasa untuk memenuhi pasar oleh-oleh. Selain menggerakkan ekonomi keluarga, usaha tersebut juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, terutama ibu rumah tangga.

Namun, pemetaan awal tim menemukan bahwa pemilik belum mendokumentasikan standar pengendalian mutu secara sistematis. Selama ini, Susi menyampaikan aturan produksi secara lisan kepada karyawan.

Kondisi tersebut dapat memicu perbedaan kualitas antarbets produksi. Karena itu, tim DOKAR membantu pemilik menyusun standar tertulis sebagai pedoman kerja yang mudah dipahami dan diterapkan.

Ketua tim, Sakunda Anggarini, menegaskan bahwa program ini tidak mengubah resep warisan usaha. Sebaliknya, tim mendokumentasikan pengalaman dan praktik produksi yang selama ini menjadi pegangan pemilik.

“Kami menemukan bahwa Bu Susi sebenarnya sudah memiliki standar di kepalanya, tapi belum tertulis. Jadi tugas kami adalah mengubah pengetahuan tacit menjadi explicit. Kami susun semua aturan lisan itu menjadi dokumen mutu, agar siapa pun karyawannya, mutunya tetap sama. Fokus kami adalah membuat sistem yang sederhana, mudah dipakai, dan sesuai dengan skala UMKM,” ungkap Sakunda.

Tiga Inovasi untuk Tingkatkan Kualitas Keripik Tempe

Untuk menjawab kebutuhan usaha, tim FTAB UB mengembangkan tiga solusi utama. Tim menyusun buku pedoman mutu, menghadirkan dashboard digital sederhana, serta memodifikasi alat peniris minyak atau spinner.

1. Susun Buku Pedoman Mutu Produksi

Tim menyusun buku pedoman yang memuat spesifikasi produk, standar bahan baku, kriteria produk jadi, prosedur operasional standar (SOP), instruksi penggunaan peralatan, dan formulir pencatatan mutu harian.

Melalui buku tersebut, pemilik kini memiliki acuan tertulis untuk menjalankan dan mengevaluasi proses produksi. Selain itu, karyawan dapat mengikuti standar kerja yang sama tanpa harus selalu bergantung pada penjelasan lisan pemilik.

Dengan demikian, dokumentasi ini membantu usaha menjaga konsistensi produk sekaligus memudahkan pemilik menelusuri catatan mutu ketika menemukan masalah produksi.

2. Hadirkan Dashboard Mutu dan Ritel

Tim juga mengembangkan dua dashboard berbasis Microsoft Excel. Mereka merancang sistem ini secara sederhana agar pemilik dapat menggunakannya tanpa harus menguasai aplikasi digital yang kompleks.

Dashboard Mutu membantu Susi mencatat produk cacat, seperti keripik remuk, gosong, atau memiliki ketebalan yang tidak sesuai. Sementara itu, Dashboard Ritel merekam riwayat pemesanan dari 32 gerai ritel modern yang menjadi mitra pemasaran Fauzi Keripik Tempe di Kota Batu.

Melalui dashboard ritel, pemilik dapat mengidentifikasi gerai yang sudah lama tidak memesan produk. Selanjutnya, Susi dapat mengunjungi gerai tersebut untuk memeriksa kondisi keripik dan menarik produk jika sudah tidak layak jual.

Langkah ini memperluas pengawasan mutu hingga ke jalur pemasaran. Jadi, pemilik tidak hanya menjaga kualitas saat produksi, tetapi juga memantau kondisi produk ketika berada di gerai penjualan.

3. Modifikasi Spinner untuk Kurangi Minyak

Inovasi ketiga menyasar proses penirisan minyak setelah penggorengan. Tim menambahkan keranjang berukuran lebih kecil ke dalam spinner milik UMKM untuk memperpendek jarak lempar keripik saat alat berputar.

Modifikasi tersebut bertujuan membantu mengurangi minyak yang menempel pada keripik tanpa merusak teksturnya yang rapuh. Karena itu, tim turut mempertimbangkan kecepatan putaran, durasi penirisan, dan kapasitas pengisian alat.

Pendekatan ini memungkinkan UMKM mengoptimalkan peralatan yang sudah tersedia. Dengan begitu, pemilik tidak perlu mengganti seluruh mesin untuk menerapkan perbaikan proses produksi.

Pemilik Akui Manfaat Inovasi

Susi Fauziah menyambut baik pendampingan dari tim FTAB UB. Ia merasakan manfaat dokumentasi produksi, pencatatan pesanan, dan modifikasi alat dalam mendukung kegiatan usahanya.

“Alhamdulillah, sekarang saya jadi punya catatan. Dulu kalau ada yang tanya cara buatnya, saya jelaskan lisan saja. Sekarang sudah ada bukunya, jadi karyawan baru juga bisa langsung belajar. Dashboardnya juga membantu saya tahu toko mana yang lama tidak pesan, jadi bisa saya cek. Spinner yang dimodifikasi juga sangat membantu, keripik jadi tidak terlalu berminyak dan tidak banyak yang hancur,” tutur Susi.

Menurut Susi, buku pedoman memudahkan karyawan baru mempelajari proses produksi. Selain itu, dashboard membantunya memantau aktivitas pemesanan dari gerai mitra. Adapun modifikasi spinner membantu proses penirisan minyak dan mengurangi kerusakan keripik.

Manfaat tersebut menunjukkan bahwa inovasi sederhana dapat menjawab kebutuhan nyata UMKM. Terlebih lagi, penerapan sistem yang sesuai dengan skala usaha membantu pemilik menjalankan perbaikan secara lebih praktis.

Kolaborasi Akademisi dan Pemerintah Daerah

Kolaborasi FTAB UB dan PLUT KUMKM Kota Batu mempertemukan keahlian akademisi dengan kebutuhan pelaku usaha. Melalui pendampingan langsung, tim menerapkan pengetahuan teknis untuk membantu UMKM mengatasi persoalan produksi dan pemasaran.

Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah memperkuat upaya pendampingan agar pelaku usaha mampu mengelola mutu secara mandiri. Kerja sama ini juga membuka peluang penerapan pendekatan serupa bagi UMKM lain yang menghadapi tantangan produksi.

Karena itu, program DOKAR 2026 tidak hanya berfokus pada penyediaan alat dan dokumen. Program ini juga mendorong perubahan cara kerja melalui pencatatan, pemantauan, dan evaluasi mutu secara lebih terstruktur.

Dukung SDGs dan Keberlanjutan UMKM

Program ini sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi mendapat dukungan melalui penguatan daya saing UMKM dan upaya menjaga keberlanjutan lapangan kerja.

Kedua, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur tercermin melalui modifikasi spinner sebagai inovasi teknologi tepat guna. Ketiga, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab berkaitan dengan pengendalian produk cacat serta pemantauan kelayakan produk di gerai.

Selain itu, kemitraan FTAB UB, PLUT KUMKM, Diskumperindag Kota Batu, dan pelaku usaha mendukung SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui program ini, UB dan mitra berharap Fauzi Keripik Tempe mampu menjaga konsistensi kualitas, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperkuat daya saing di pasar. Lebih jauh, pendampingan tersebut diharapkan menjadi contoh penerapan inovasi sederhana yang dapat membantu UMKM berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *