Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Bekali Lansia Bojonegoro Cegah Penipuan

64
×

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Bekali Lansia Bojonegoro Cegah Penipuan

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa UPN Veteran Jatim Edukasi Lansia di Bojonegoro

JATIMTERBARU.COM, BOJONEGORO – Ancaman penipuan digital terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Pelaku kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), menyamar sebagai petugas, hingga menawarkan bantuan sosial palsu untuk menguras tabungan masyarakat. Kelompok lanjut usia (lansia) menjadi salah satu sasaran yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan, pada Selasa (27/10/2026).

Merespons ancaman tersebut, mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur menggelar edukasi literasi keuangan dan pencegahan penipuan bagi warga lansia di Dusun Setro, Bojonegoro.

Example 300x600

Melalui program bertajuk Pendampingan Literasi Pencegahan Penipuan terhadap Dana Tabungan pada Generasi Baby Boomers, mahasiswa mengajak warga mengenali modus penipuan, menjaga keamanan rekening, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil keputusan finansial.

Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud penerapan mata kuliah Akuntansi Bela Negara. Mahasiswa memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui edukasi yang relevan dengan ancaman kejahatan digital.

Modus Penipuan Kian Beragam

Perkembangan teknologi membuka peluang bagi masyarakat untuk melakukan transaksi secara lebih mudah. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko ketika pelaku memanfaatkan teknologi untuk menjalankan penipuan.

Salah satu modus yang perlu diwaspadai ialah voice cloning, yakni teknologi AI yang dapat meniru suara seseorang. Pelaku dapat menggunakan suara tiruan untuk menyamar sebagai anggota keluarga, kemudian meminta korban segera mengirimkan uang dengan alasan keadaan darurat.

Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Bojonegoro juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai modus tersebut.

Ancaman lainnya muncul melalui penyamaran sebagai petugas kesehatan atau penyalur bantuan sosial. Pelaku menawarkan bantuan bernilai besar maupun janji keberangkatan haji, lalu meminta korban menyerahkan uang atau perhiasan dengan dalih persyaratan administrasi.

Kasus yang diungkap Satreskrim Polres Bojonegoro di Kecamatan Sukosewu dan Balen memperlihatkan risiko nyata yang dihadapi warga lansia. Modus tersebut memanfaatkan kepercayaan korban untuk menguasai harta mereka.

Kondisi ini menegaskan pentingnya literasi keuangan dan digital. Masyarakat perlu memahami cara memverifikasi identitas, memeriksa informasi, serta menolak permintaan uang yang tidak jelas kebenarannya.

Mahasiswa Hadir dengan Edukasi Praktis

Tim mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur yang terdiri atas Adela Risa Aliyah, Theresia M.C. Hasibuan, Bilqis Asiilia Yasmin H., Deparo Yehezkiel, Hervina Adelia Valesti, dan Annisa Prawatya Zahra merancang pendampingan dengan pendekatan sederhana dan mudah dipahami.

Dosen pengampu R. Muh. Syah Arief Atmaja Wijaya, S.E., M.Sc., serta Mohammad Iqbal Firdaus, S.A., M.Ak., CertDA., membimbing pelaksanaan kegiatan tersebut.

Dalam sesi edukasi, mahasiswa menggunakan alat peraga visual dan simulasi interaktif. Warga berlatih mengenali panggilan telepon serta pesan mencurigakan, sekaligus mempelajari langkah yang tepat ketika menghadapi dugaan penipuan.

Pendekatan ini juga membuka ruang bagi warga untuk berbagi pengalaman. Salah satu peserta, yang disebut sebagai Ibu S, menceritakan pengalamannya saat hampir tertipu oleh panggilan yang mengatasnamakan rumah sakit dan menyampaikan situasi darurat.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pelaku sering memanfaatkan kepanikan untuk mendorong korban mengambil keputusan secara terburu-buru.

Sebagai panduan praktis, mahasiswa membagikan Kartu Saku “Waspada Penipuan”. Kartu tersebut memuat langkah darurat yang dapat warga gunakan ketika menerima informasi atau permintaan transaksi yang mencurigakan.

Ajarkan Keamanan Akun dan Rekening

Selain mengenali modus penipuan, mahasiswa membekali warga dengan sejumlah langkah untuk melindungi akun digital dan dana tabungan.

Pertama, memperkuat kata sandi. Mahasiswa mengajarkan cara menyusun kata sandi dengan kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol. Warga juga diingatkan agar tidak menggunakan tanggal lahir atau informasi pribadi yang mudah ditebak.

Materi tersebut turut mengenalkan situs Password Monster untuk membantu menguji kekuatan kata sandi. Warga tetap perlu menghindari memasukkan kata sandi asli ke situs yang tidak mereka percayai.

Kedua, memeriksa identitas dan kebenaran informasi. Mahasiswa mengenalkan Getcontact sebagai salah satu alat bantu untuk melihat informasi identitas nomor telepon berdasarkan data yang tersedia. Mereka juga mendorong warga memverifikasi pesan berantai, hadiah, dan informasi mencurigakan melalui layanan pemeriksa fakta, termasuk chatbot Kalimasada.

Meski demikian, hasil aplikasi tidak selalu menjamin identitas penelepon atau kebenaran informasi. Warga tetap perlu melakukan konfirmasi melalui saluran resmi.

Ketiga, memisahkan rekening transaksi dan tabungan. Mahasiswa menyarankan warga menggunakan rekening berbeda untuk kebutuhan harian atau transaksi digital, seperti pembayaran melalui QRIS, dan untuk menyimpan dana utama.

Langkah ini dapat membantu membatasi risiko apabila rekening yang digunakan untuk transaksi harian mengalami masalah.

Mahasiswa juga mengingatkan warga agar tidak sembarangan membuka lampiran atau memasang berkas dari nomor tidak dikenal. Berkas APK yang tidak tepercaya dapat membawa aplikasi berbahaya. Sementara itu, dokumen PDF dari sumber mencurigakan juga perlu diperiksa sebelum dibuka.

Warga perlu merahasiakan PIN, kode OTP, dan informasi perbankan. Mereka juga sebaiknya menghubungi keluarga atau pihak resmi terlebih dahulu ketika menerima permintaan uang yang mendesak.

Perkuat Bela Negara melalui Literasi Digital

Program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi. Mahasiswa juga menghubungkan edukasi tersebut dengan upaya membangun ketahanan ekonomi masyarakat.

Melalui pendampingan personal dan komunikasi lanjutan selama tiga minggu melalui grup WhatsApp, mahasiswa memberikan ruang bagi warga untuk bertanya serta memperkuat pemahaman mereka.

Kegiatan ini mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Pada SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, program ini memperluas akses pembelajaran literasi digital bagi lansia. Pendekatan yang sederhana dan inklusif membantu warga memahami risiko teknologi tanpa harus memiliki kemampuan digital tingkat lanjut.

Program ini juga mendukung SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Edukasi pencegahan penipuan membantu warga melindungi tabungan yang mereka kumpulkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sementara itu, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan menjadi landasan untuk memperkecil kesenjangan kemampuan digital antargenerasi. Upaya tersebut berjalan seiring dengan SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan kesadaran masyarakat terhadap kejahatan finansial.

Bela Negara Dimulai dari Perlindungan Masyarakat

Pendampingan di Dusun Setro menunjukkan bahwa aksi bela negara dapat hadir melalui langkah sederhana yang berdampak langsung bagi masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membekali warga dengan keterampilan untuk menghadapi ancaman digital.

Bagi kelompok lansia, kemampuan mengenali penipuan menjadi bagian penting dari upaya menjaga kemandirian finansial. Pengetahuan tersebut membantu mereka mengambil keputusan dengan lebih tenang, memeriksa informasi secara kritis, dan melindungi hasil kerja keras selama bertahun-tahun.

Melalui kolaborasi pendidikan tinggi dan masyarakat, UPN “Veteran” Jawa Timur mendorong terbentuknya lingkungan yang lebih waspada terhadap penipuan digital. Edukasi ini sekaligus menegaskan bahwa bela negara pada era modern juga berarti menjaga keamanan ekonomi, melindungi masyarakat rentan, dan memperkuat ketahanan keluarga dari ancaman kejahatan siber.

 

Oleh : Mohammad Iqbal Firdaus

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *