Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Bakorwil Malang Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Rebranding

60
×

Bakorwil Malang Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Rebranding

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, BLITAR – Potensi ekonomi kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur membutuhkan strategi pengembangan yang mampu meningkatkan nilai jual produk lokal. Tidak cukup hanya mengandalkan hasil produksi, pelaku usaha juga perlu memperkuat identitas merek, kualitas kemasan, dan strategi pemasaran agar mampu menembus pasar yang lebih luas.

Melihat peluang tersebut, Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggandeng talenta kreatif melalui program Millennial Job Center (MJC). Program ini memfasilitasi rebranding dan pengembangan desain kemasan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta Kelompok Tani Hutan (KTH).

Example 300x600

Fasilitasi tersebut berlangsung pada Kamis (5/11/2026) di Angkringan Pak Joko, Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah, mentor profesional, talenta kreatif, pelaku UMKM, dan kelompok tani untuk memperkuat kualitas produk unggulan daerah.

Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, S.Hut., M.H., menegaskan bahwa UMKM dan KTH memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu memperluas pendampingan, pelatihan, dan inovasi agar pelaku usaha mampu mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Potensi UMKM Harus Menghasilkan Nilai Tambah

Asep memaparkan besarnya potensi usaha masyarakat di Jawa Timur. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan, Kabupaten Blitar memiliki 35.115 unit UMKM. Sementara itu, Kabupaten Malang mencatat sekitar 104.000 unit dan Jawa Timur mencapai 2.581.251 unit.

Besarnya jumlah tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat ekonomi daerah. Namun, Asep mengingatkan bahwa pelaku usaha tidak boleh berhenti pada aktivitas produksi bahan mentah. Mereka perlu mengembangkan produk olahan dengan kualitas, identitas, dan nilai jual yang lebih kompetitif.

Menurutnya, kemasan memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar pembungkus. Desain yang tepat dapat memperkuat karakter produk, melindungi kualitas barang, sekaligus membangun kepercayaan konsumen.

“Potensi daerah harus mampu kita ubah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kita tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi harus mampu menciptakan produk olahan yang memiliki identitas, kualitas, dan nilai tambah. Kemasan menjadi bagian penting karena tidak hanya menarik perhatian konsumen, tetapi juga melindungi produk, menceritakan identitas daerah, dan meningkatkan nilai jual,” tegas Asep.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun optimisme dan kolaborasi untuk menghadapi tantangan ekonomi ke depan. Penguatan ekonomi desa, menurutnya, perlu berjalan seiring dengan pemanfaatan sumber daya lokal dan inovasi produk.

Terlebih, tantangan ketahanan pangan menuju 2030 menuntut masyarakat mengembangkan potensi daerah secara lebih produktif. Desa yang memiliki basis ekonomi kuat akan lebih tangguh menghadapi perubahan dan memiliki daya tawar lebih baik dalam persaingan ekonomi.

MJC Hubungkan Talenta Kreatif dengan Pelaku Usaha

Asep menjelaskan, Bakorwil Malang telah menjalankan fasilitasi pengembangan UMKM dan desa wisata secara berkelanjutan sejak 2023. Salah satu instrumennya melalui program Millennial Job Center yang mempertemukan pelaku usaha dengan talenta muda berkompetensi kreatif.

Melalui pola kolaborasi tersebut, pelaku UMKM dan KTH dapat memperoleh dukungan profesional untuk menjawab kebutuhan pengembangan produk. Mulai dari pembentukan identitas merek hingga desain kemasan yang sesuai dengan karakter pasar.

“Melalui MJC, kita mempertemukan potensi lokal dengan kompetensi talenta muda. Harapannya, lahir desain kemasan yang khas dan bernilai jual, terbangun jejaring antara talenta, KTH, dan pelaku usaha, serta semakin banyak produk lokal kawasan Selatan Jawa Timur yang mampu bersaing dan menjangkau pasar lebih luas,” tambahnya.

Dukungan terhadap pengembangan usaha juga disampaikan Prof. Dr. Asihing Kustanti, S.Hut., M.Si. Ia menilai pemberdayaan ekonomi masyarakat harus dimulai dengan mengenali sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

Kabupaten Blitar, misalnya, memiliki komoditas unggulan seperti nanas madu, sukun, dan pisang Cavendish. Berbagai hasil pertanian tersebut masih memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Namun, Asihing mengingatkan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada tampilan kemasan. Pelaku usaha juga harus memahami penentuan harga, karakteristik konsumen, segmentasi pasar, dan strategi pemasaran.

“Untuk menjadi masyarakat yang berdaya, kita harus mengenali potensi yang dimiliki, meningkatkan kemampuan, kemudian mengembangkan potensi tersebut agar memberikan nilai ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Identifikasi peluang usaha dapat dimulai dengan pendekatan 5W+1H, yaitu apa potensinya, di mana lokasinya, kapan waktu pengembangannya, siapa konsumennya, mengapa perlu dikembangkan, dan bagaimana meningkatkan nilai tambahnya,” jelasnya.

Perluas Akses Pasar dan Pendampingan UMKM

Asihing juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi dalam pengembangan produk lokal. Terutama bagi pelaku usaha yang memanfaatkan sumber daya dari kawasan hutan, mereka harus memperhatikan ketentuan pengelolaan dan pemanfaatannya.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan Tim Penggerak PKK di sembilan kabupaten/kota untuk mendukung pemberdayaan UMKM.

Peluang promosi juga terbuka melalui fasilitas show window di Bakorwil Malang. Sarana tersebut dapat membantu memperkenalkan produk unggulan sekaligus memperluas akses pemasaran bagi pelaku usaha yang memiliki potensi pengembangan.

Dari sektor kehutanan, perwakilan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Malang menyoroti besarnya potensi KTH di Kabupaten Blitar. Kelompok tersebut memiliki beragam hasil hutan dan produk olahan yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan masyarakat.

Meski demikian, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia masih menjadi tantangan. Pelaku KTH membutuhkan pendampingan lebih intensif, terutama dalam inovasi produk, pengemasan, dan pemasaran.

Persoalan lainnya menyangkut keterbatasan tenaga penyuluh kehutanan. Saat ini, Kabupaten Blitar hanya memiliki tiga penyuluh untuk mendampingi sekitar 225 KTH. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan lintas sektor agar pembinaan kelompok berjalan lebih efektif.

“Pengembangan KTH tidak hanya berorientasi pada kegiatan produksi, tetapi juga bagaimana potensi sumber daya lokal dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung pemulihan lahan kritis. Dukungan diperlukan melalui kebijakan afirmatif, bantuan alat ekonomi produktif, serta fasilitasi nonfiskal seperti pendampingan perizinan, sertifikasi halal, dan perluasan akses pasar,” jelas perwakilan CDK Wilayah Malang.

Sebagai langkah pengembangan, CDK Wilayah Malang juga menjalin kerja sama dengan Kampung Coklat melalui fasilitasi bibit kakao bagi KTH. Ke depan, kolaborasi dengan talenta kreatif diharapkan memperkuat identitas produk melalui desain kemasan dan strategi pemasaran yang lebih menarik.

Potensi Jalur Lintas Selatan Perkuat Peluang Usaha

Sementara itu, Camat Kanigoro melihat perkembangan Jalur Lintas Selatan (JLS) sebagai peluang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Meningkatnya daya tarik kawasan tersebut dapat membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar sekaligus mengembangkan produk khas daerah.

Potensi tersebut juga dapat terhubung dengan sektor pariwisata, termasuk destinasi di wilayah utara Kabupaten Blitar seperti Kampung Coklat. Karena itu, pemerintah kecamatan mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dan produk lokal agar mampu menangkap peluang ekonomi dari perkembangan kawasan.

“Pengembangan potensi wilayah selatan harus diikuti dengan peningkatan kualitas produk dan kemampuan pelaku usaha. Kemasan menjadi salah satu faktor penting karena dapat meningkatkan daya tarik sekaligus nilai jual produk khas daerah. Meskipun berbagai pelatihan dan kemudahan perizinan telah diberikan, pelaku UMKM masih menghadapi tantangan keterbatasan modal, kapasitas produksi, dan pemasaran. Karena itu, kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi perkembangan UMKM dan perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan selatan Kabupaten Blitar,” ungkapnya.

Libatkan 25 Talenta untuk Rebranding Produk

Dalam pelaksanaannya, program MJC melibatkan dua mentor profesional, 25 talenta kreatif, dan 25 klien dari kalangan pelaku usaha. Setiap klien memperoleh fasilitasi rebranding untuk satu produk prioritas.

Pendampingan mencakup sejumlah tahapan. Tim terlebih dahulu mengidentifikasi karakteristik produk, kemudian menyusun konsep desain dan mengembangkan identitas merek. Selanjutnya, mentor dan talenta melakukan konsultasi serta penyempurnaan desain berdasarkan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.

Proses tersebut berlangsung secara intensif selama kurang lebih dua minggu. Pada akhir pendampingan, setiap pelaku usaha memperoleh file desain kemasan siap cetak beserta panduan teknis pencetakan.

Dengan demikian, hasil program tidak berhenti pada konsep desain. Pelaku usaha dapat langsung memanfaatkan hasil pendampingan untuk memperbarui tampilan produknya.

Melalui fasilitasi ini, Bakorwil Malang menargetkan terbentuknya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, UMKM, KTH, mentor, dan talenta kreatif.

Lebih dari sekadar mempercantik kemasan, program MJC diharapkan mampu memperkuat identitas produk lokal, meningkatkan nilai tambah hasil usaha, serta membuka akses pasar yang lebih luas. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi mendorong ekonomi kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur agar tumbuh lebih produktif dan berdaya saing.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *