Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Bakorwil Malang  : Kebangkitan Topeng Malang Jadi Energi Baru Ekonomi Kreatif

73
×

Bakorwil Malang  : Kebangkitan Topeng Malang Jadi Energi Baru Ekonomi Kreatif

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG — Kebangkitan kembali kesenian tradisional di Malang Raya menjadi momentum strategis untuk memperkuat identitas daerah sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Geliat tersebut terlihat dari semakin aktifnya sejumlah sanggar seni dalam menjaga keberlangsungan Wayang Topeng Malang, seni tari, karawitan, dan berbagai kesenian tradisional lainnya.

Example 300x600

Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, menilai tumbuhnya kembali minat masyarakat terhadap seni tradisi merupakan bukti bahwa kekayaan budaya lokal tetap memiliki daya tarik kuat di tengah perubahan zaman.

“Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah identitas sekaligus modal sosial yang dapat menjadi kekuatan pembangunan masa depan. Ketika seni tradisi kembali diminati masyarakat dan generasi muda, berarti kita sedang melihat tumbuhnya energi baru bagi Malang Raya,” ujar Asep, Jum’at (21/8/2026).

Menurutnya, kebangkitan seni tradisional tidak semata-mata berkaitan dengan pelestarian budaya. Lebih jauh, fenomena tersebut dapat menjadi bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi kreatif, pariwisata, pendidikan, serta penguatan karakter generasi muda.

Wayang Topeng Malang menjadi salah satu contoh nyata. Kesenian yang sempat menghadapi tantangan regenerasi tersebut kini menunjukkan perkembangan positif. Jumlah penonton dalam sejumlah pertunjukan bahkan disebut meningkat signifikan, dari sekitar 200 orang menjadi mencapai 2.800 orang.

“Peningkatan jumlah penonton ini memberikan pesan bahwa masyarakat sebenarnya masih memiliki ruang dan ketertarikan terhadap seni tradisi. Yang diperlukan adalah bagaimana kita menghadirkan seni tersebut dengan kemasan yang menarik, ruang pertunjukan yang memadai, serta melibatkan generasi muda secara lebih aktif,” katanya.

Asep menilai keberadaan berbagai sanggar seni di wilayah Kabupaten Malang juga memperlihatkan bahwa kekuatan budaya Malang Raya tidak hanya bertumpu di kawasan perkotaan. Potensi tersebut justru banyak tumbuh dari komunitas, desa, keluarga, hingga ruang pendidikan masyarakat.

Karena itu, pengembangan kebudayaan dinilai perlu menggunakan pendekatan kewilayahan dengan memperkuat konektivitas antarkomunitas.

“Kita memiliki desa-desa yang menjadi kantong budaya. Ada sanggar tari, kelompok karawitan, pelaku Topeng Malang, komunitas musik tradisional, hingga berbagai kesenian rakyat. Ini adalah aset kewilayahan yang harus kita orkestrasi agar tidak berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.

Dalam konteks tersebut, Bakorwil Malang memiliki posisi strategis untuk mendorong sinergi lintas sektor dan lintas daerah. Terlebih, Malang Raya yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu memiliki karakter kawasan yang saling terhubung.

Asep menegaskan, pembangunan kawasan tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Identitas budaya harus menjadi bagian penting dalam merancang masa depan Malang Raya.

“Kita sedang berbicara tentang masa depan Malang Raya. Infrastruktur penting, ekonomi penting, investasi penting. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu identitas. Kemajuan kawasan tanpa identitas akan kehilangan karakter. Karena itu, kebudayaan harus menjadi bagian dari desain pembangunan kawasan,” jelasnya.

Ia melihat seni tradisional memiliki peluang besar untuk masuk dalam rantai ekonomi kreatif. Pertunjukan seni dapat dikembangkan dan dikoneksikan dengan sektor pariwisata, kuliner, kriya, fesyen, UMKM, industri kreatif, hingga promosi destinasi wisata.

Dengan pola tersebut, seniman tidak lagi hanya diposisikan sebagai penjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari pelaku ekonomi kreatif yang memiliki ruang untuk berkembang secara berkelanjutan.

“Kita ingin melihat seniman bukan hanya tampil di panggung, tetapi juga tumbuh secara ekonomi. Sanggar berkembang, anak-anak muda memiliki ruang berekspresi, pertunjukan semakin berkualitas, wisatawan datang, UMKM bergerak. Kalau semua terkoneksi, maka kebudayaan bisa menjadi salah satu mesin ekonomi daerah,” ungkap Asep.

Selain aspek ekonomi, regenerasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional. Menurut Asep, keberadaan generasi muda harus ditempatkan sebagai bagian utama dalam proses pelestarian budaya.

Seni tradisi, lanjutnya, perlu dihadirkan di ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda, mulai dari sekolah, ruang publik, festival, destinasi wisata, hingga platform digital.

“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal budaya daerah dari buku sejarah. Mereka harus melihat, mendengar, belajar, bahkan ikut tampil. Ketika anak muda merasa memiliki, maka proses pelestarian akan berjalan secara alamiah,” katanya.

Asep menambahkan, kebangkitan Topeng Malang dan berbagai kesenian tradisional lainnya dapat menjadi pintu masuk untuk membangun narasi baru mengenai Malang Raya. Kawasan ini tidak hanya memiliki kekuatan sebagai pusat pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif, tetapi juga memiliki identitas budaya yang kuat.

“Malang Raya memiliki modal yang sangat lengkap. Kita punya sumber daya manusia, perguruan tinggi, destinasi wisata, kreativitas anak muda, komunitas seni, dan kekayaan budaya. Tantangannya adalah bagaimana semua kekuatan tersebut kita hubungkan dalam satu ekosistem pembangunan,” tuturnya.

Bakorwil Malang, lanjut Asep, akan terus mendorong penguatan sinergi kewilayahan agar berbagai potensi tersebut dapat tumbuh secara bersama-sama dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Kita ingin membangun Malang Raya bukan hanya menjadi kawasan yang tumbuh, tetapi kawasan yang punya karakter. Bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara budaya. Karena ketika budaya hidup, masyarakat memiliki identitas; ketika kreativitas tumbuh, ekonomi bergerak; dan ketika generasi muda terlibat, masa depan daerah menjadi lebih kuat,” pungkasnya.

Kebangkitan Topeng Malang pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang upaya mempertahankan warisan masa lalu. Lebih dari itu, geliat seni tradisional menunjukkan bahwa akar budaya dapat diolah menjadi kekuatan baru bagi ekonomi kreatif, pariwisata, sekaligus pembangunan karakter dan identitas Malang Raya.(*)

 

Sumber Humas Bakorwil III Malang

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *