Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Bazar Tulungagung Bernostalgia, Pedagang Suarakan Kekecewaan

87
×

Bazar Tulungagung Bernostalgia, Pedagang Suarakan Kekecewaan

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, TULUNGAGUNG — Gelaran Bazar Tulungagung Bernostalgia di Alun-Alun Tulungagung, Jawa Timur, yang berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (7–9 Agustus 2026), mendapat sorotan dari sejumlah pedagang.

Di balik konsep nostalgia pasar tempo dulu yang ditawarkan kepada masyarakat, muncul keluhan mengenai pungutan kebersihan, gangguan listrik, hingga persoalan penataan pedagang di kawasan bazar.

Example 300x600

Bazar yang melibatkan 216 stan pelaku UMKM, mayoritas bergerak di sektor kuliner, tersebut sebelumnya dijadwalkan dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M.

Namun, pembukaan pada Jumat (7/8/2026) akhirnya dilakukan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung, Muhammad Adrian Candra, S.STP.

Konsep Bazar Tulungagung Bernostalgia dirancang untuk menghadirkan kembali atmosfer pasar zaman dulu sekaligus menjadi ruang promosi dan pemasaran produk UMKM lokal. Namun, pelaksanaan di lapangan justru memunculkan sejumlah catatan dari pedagang yang mengikuti kegiatan tersebut.

Salah seorang pedagang yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengungkapkan keberatan atas adanya pungutan kebersihan sebesar Rp5.000 per hari. Dengan durasi kegiatan selama tiga hari, pedagang harus mengeluarkan tambahan biaya sebesar Rp15.000.

“Lha, ini kok pihak panitia keliling narik uang kebersihan Rp5.000 dikalikan tiga hari itu Rp15 ribu. Piye iki panitia?” keluhnya.

Menurut pedagang tersebut, pungutan itu menjadi pertanyaan karena dalam rapat teknis sebelum kegiatan disebutkan bahwa persoalan kebersihan merupakan bagian dari penanganan pemerintah daerah melalui sektor terkait.

Selain pungutan kebersihan, persoalan lain yang dinilai mengganggu aktivitas berjualan adalah pasokan listrik yang disebut kerap mengalami pemadaman.

“Belum lagi masalah listrik kok sering mati. Gimana saya bisa berjualan?” ujarnya.

Pedagang juga menyoroti pengaturan kawasan bazar. Ia menyebut masih terdapat pedagang yang berjualan di sekitar area kegiatan pada hari pertama pelaksanaan.

Kondisi tersebut dinilai menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kesiapan penyelenggara dalam mengatur area bazar yang melibatkan ratusan pelaku UMKM.

“Lebih parah lagi, sebelum hari pertama event banyak pedagang liar yang turut berjualan di area bazar. Menurut saya itu bertanda panitia sangat tidak siap sebagai penyelenggara bazar yang menghadirkan ratusan pedagang,” katanya.

Ia juga mempertanyakan dasar pungutan kebersihan apabila kegiatan berlangsung di kawasan Alun-Alun Tulungagung yang merupakan aset pemerintah daerah.

“Ini lokasinya aset Pemkab Tulungagung. Kenapa untuk kebersihan harus memungut kami sebagai pedagang kecil? Bukankah tugas kebersihan itu dari dinas terkait yang sudah digaji pemerintah?” ujarnya.

Sorotan lain berkaitan dengan biaya stan. Pedagang tersebut menyebut biaya resmi untuk menempati satu stan mencapai Rp600.000. Biaya itu, menurut keterangannya, telah mencakup fasilitas tenda dan listrik selama kegiatan.

Atas dasar itu, ia berharap penyelenggara dapat memastikan fasilitas yang dijanjikan benar-benar tersedia dan berfungsi sebagaimana kesepakatan awal.

“Panitia selalu menyampaikan agar kami menaati aturan dan akan memberikan sanksi kepada pedagang yang terbukti melanggar kesepakatan, termasuk mencabut hak penggunaan stan. Tapi keluhan kami sebagai pedagang sepertinya hanya diabaikan,” tuturnya.

Ia berharap penyelenggara tidak hanya menekankan kewajiban kepada pedagang, tetapi juga memberikan pelayanan yang sepadan dengan biaya serta ketentuan yang telah disepakati.

“Pihak panitia sepertinya hanya memikirkan keuntungan saja. Sayang kalau akhirnya justru mencoreng nama Pemkab Tulungagung. Semoga ada teguran dari Pemkab Tulungagung,” harapnya.

Keluhan pedagang tersebut kemudian dikonfirmasi kepada Maharani selaku Koordinator Bazar Tulungagung Bernostalgia melalui pesan WhatsApp pada Minggu (9/8/2026) pagi.

Namun, Maharani memilih memberikan respons singkat.

“Sampun pak kersane panjenengan mawon. Terima kasih.” ujarnya singkat.

Jawaban tersebut belum menjelaskan secara substantif mengenai mekanisme pungutan kebersihan, gangguan listrik, maupun pengaturan pedagang di luar stan yang dipersoalkan.

Karena itu, sejumlah persoalan yang disampaikan pedagang masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut dari pihak penyelenggara maupun Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Penjelasan tersebut penting agar keluhan yang berkembang di lapangan tidak berhenti sebagai persepsi, melainkan dapat ditindaklanjuti berdasarkan fakta dan mekanisme penyelenggaraan kegiatan.

Pada dasarnya, Bazar Tulungagung Bernostalgia memiliki tujuan positif. Pelibatan 216 stan UMKM lokal dapat menjadi momentum untuk memperluas pasar, memperkenalkan produk daerah, sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat.

Namun, keberhasilan sebuah event tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan acara. Kepastian fasilitas, transparansi biaya, ketertiban pengelolaan stan, serta respons cepat terhadap keluhan pedagang juga menjadi bagian penting dari kualitas penyelenggaraan.

Pedagang merupakan salah satu aktor utama dalam kegiatan tersebut. Karena itu, keluhan mereka semestinya menjadi bahan evaluasi, terutama ketika menyangkut fasilitas yang berkaitan langsung dengan aktivitas perdagangan.

Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga memiliki ruang untuk memastikan penyelenggaraan kegiatan yang menggunakan ruang publik dan membawa nama daerah tersebut berlangsung secara tertib, transparan, serta sesuai dengan tujuan awalnya.

Jangan sampai semangat menghadirkan kembali nostalgia pasar tempo dulu justru tertutup oleh persoalan teknis yang sebenarnya dapat dicegah dan diselesaikan melalui komunikasi serta pengelolaan yang lebih baik.

Pada akhirnya, Bazar Tulungagung Bernostalgia bukan sekadar tentang menghadirkan suasana masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana sebuah event mampu memberi pengalaman yang baik bagi masyarakat dan manfaat nyata bagi UMKM yang terlibat.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *