Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Pendidikan

Empat Guru Besar UM Bedah Tantangan Pendidikan di Era Digital

102
×

Empat Guru Besar UM Bedah Tantangan Pendidikan di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Empat Guru Besar UM Soroti Perkembangan Transformasi Digital Dunia Pendidikan (foto istimewa).

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara belajar dan mengajar, tetapi juga menuntut dunia pendidikan beradaptasi terhadap persoalan yang semakin kompleks. Pengelolaan data, penguatan kemampuan berbahasa, keterlibatan masyarakat dalam tata kelola sekolah, hingga pemanfaatan teknologi untuk mengembangkan kreativitas menjadi sejumlah isu yang dinilai perlu mendapat perhatian serius.

Empat guru besar Universitas Negeri Malang (UM) mengangkat persoalan tersebut melalui gagasan akademik masing-masing dalam rangkaian pengukuhan guru besar. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Triyanna Widiyaningtyas, M.T., Prof. Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd., Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd., dan Prof. Dr. Pujiyanto, M.Sn.

Example 300x600

Keempat akademisi tersebut melihat transformasi digital dari sudut pandang yang berbeda. Namun, benang merahnya sama, yakni teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kualitas pendidikan, bukan sekadar menjadi perangkat yang digunakan dalam proses pembelajaran.

Prof. Triyanna Widiyaningtyas, Guru Besar Bidang Penambangan Data dan Sistem Rekomendasi, menyoroti persoalan ledakan data di tengah kemajuan teknologi. Menurutnya, jumlah data yang terus bertambah tidak otomatis memberikan manfaat apabila tidak disertai kemampuan untuk mengolah dan menerjemahkannya menjadi informasi yang bernilai.

Data kini hadir dalam volume besar, bergerak cepat dan memiliki format yang semakin beragam. Kondisi tersebut menuntut kemampuan analisis agar data tidak berhenti sebagai kumpulan informasi, melainkan dapat digunakan untuk menemukan pola dan mendukung proses pengambilan keputusan.

Triyanna menjelaskan, data mining memiliki peran penting dalam proses tersebut. Teknologi ini memungkinkan berbagai data dianalisis untuk menemukan pola tertentu, sedangkan sistem rekomendasi dapat membantu mengubah hasil pengolahan tersebut menjadi informasi yang lebih relevan bagi kebutuhan pengguna.

“Data tanpa makna adalah suatu kebisingan. Dengan data mining kita beri makna, dan dengan recommender system kita memberi manfaat,” ujarnya.

Pengembangan teknologi tersebut terus dilakukan melalui riset dan kolaborasi. Salah satu fokusnya adalah mengembangkan model berbasis kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan sistem rekomendasi secara lebih adaptif terhadap kebutuhan pengguna.

Dari ranah teknologi, Prof. Imam Agus Basuki mengingatkan pentingnya mempertahankan posisi bahasa sebagai fondasi dalam membangun kemampuan berpikir. Guru Besar Bidang Kajian Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya itu mengangkat gagasan “Bahasa Indonesia pada Khitahnya sebagai Sarana Berkomunikasi dan Berpikir.”

Menurut Imam, persoalan bahasa tidak sebatas bagaimana seseorang mampu menyampaikan pesan kepada orang lain. Kemampuan berbahasa juga menentukan kecakapan seseorang dalam membaca informasi, memahami persoalan, mengolah gagasan dan menyusun pemikiran secara logis.

Di tengah arus informasi digital yang bergerak cepat, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Banyaknya informasi yang diterima masyarakat tidak selalu menghasilkan pemahaman apabila tidak diikuti kemampuan untuk membaca dan mengolah informasi secara kritis.

Karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia perlu tetap diarahkan pada dua fungsi mendasar, yakni sebagai sarana komunikasi dan instrumen berpikir. Penguatan kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi lingkungan informasi yang semakin kompleks.

Sementara itu, Prof. Raden Bambang Sumarsono menyoroti sisi tata kelola pendidikan, khususnya mengenai keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah. Guru Besar Bidang Manajemen Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan tersebut memperkenalkan gagasan Integrated Information Trust Participation Model atau ITP Model.

Bambang menilai partisipasi masyarakat dalam pendidikan selama ini masih sering dipahami sebatas kehadiran dalam kegiatan sekolah atau dukungan terhadap pelaksanaan program. Padahal, keterlibatan tersebut semestinya dapat berkembang menjadi partisipasi yang lebih substantif.

Orang tua dan masyarakat, kata dia, perlu memperoleh akses terhadap informasi yang memadai sekaligus ruang untuk berdialog dan menyampaikan kebutuhan. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penerima kebijakan sekolah, tetapi turut memiliki posisi dalam proses pengambilan keputusan.

“Intinya bahwa partisipasi substantif yang saya temukan di sini, orang tua dan masyarakat ingin dilibatkan di dalam setiap pengambilan keputusan sekolah,” jelasnya.

Melalui ITP Model, informasi, kepercayaan dan partisipasi ditempatkan sebagai tiga unsur yang saling berkaitan. Ketiganya dinilai dapat menjadi fondasi dalam membangun tata kelola sekolah yang lebih transparan, inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Prof. Pujiyanto melihat transformasi digital dari perspektif kreativitas peserta didik. Guru Besar Bidang Desain Komunikasi Visual UM tersebut menilai generasi muda saat ini memiliki keunggulan karena tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi.

Kemampuan menggunakan perangkat digital memungkinkan siswa mengolah pengalaman dan gagasan menjadi karya visual dalam waktu relatif singkat.

“Empat jam selesai. Itu hasil hebatnya anak sekarang ini. Karena apa? Dia lahir dengan teknologi,” ungkapnya.

Meski demikian, Pujiyanto mengingatkan agar kecepatan teknologi tidak menghilangkan pengalaman langsung dalam proses belajar. Menurutnya, teknologi akan memiliki nilai lebih ketika digunakan untuk menerjemahkan pengalaman nyata menjadi gagasan dan karya.

Karena itu, pembelajaran dapat diawali dengan mengajak siswa berinteraksi langsung dengan objek di lingkungan sekitar. Hasil pengamatan tersebut kemudian dikembangkan menggunakan teknologi sehingga menghasilkan karya visual yang memiliki konteks dan pesan.

Dalam materi Bhinneka Tunggal Ika, misalnya, siswa diajak mengamati kehidupan di pasar. Pengalaman tersebut kemudian dituangkan melalui dokumentasi, sketsa, pewarnaan hingga menjadi karya visual.

Metode serupa diterapkan saat siswa mempelajari kerajinan bambu. Mereka terlebih dahulu melihat proses pengolahan dan penganyaman bambu secara langsung, sebelum menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan untuk menghasilkan karya.

Bagi Pujiyanto, kombinasi antara pengalaman lapangan dan teknologi justru membuka ruang kreativitas yang lebih luas. Teknologi tidak menggantikan pengalaman, melainkan menjadi alat untuk mengembangkan dan memperkuat gagasan yang lahir dari proses pengamatan.

Beragam perspektif yang disampaikan keempat guru besar UM tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pendidikan di era digital tidak berhenti pada persoalan penguasaan teknologi. Ada persoalan literasi data, kemampuan berpikir melalui bahasa, tata kelola pendidikan yang partisipatif, hingga bagaimana teknologi digunakan untuk menumbuhkan kreativitas.

Teknologi, pada akhirnya, membutuhkan manusia yang mampu memberikan makna. Data harus diolah menjadi informasi, informasi perlu dipahami melalui kemampuan berbahasa, keputusan pendidikan perlu dibangun melalui partisipasi, sementara teknologi harus diarahkan untuk memperkuat daya cipta peserta didik.

Pengukuhan empat guru besar tersebut sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi dalam merespons perubahan zaman. Gagasan akademik yang lahir dari lingkungan UM diharapkan tidak berhenti sebagai wacana keilmuan, tetapi dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan dan menjawab kebutuhan masyarakat di tengah akselerasi transformasi digital.(*)

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *