JATIMTERBARU.COM, SIDOARJO — Minat pelajar Sidoarjo terhadap seni gamelan menunjukkan perkembangan positif. Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah peserta Festival Gamelan Kahuripan yang memasuki penyelenggaraan tahun keempat pada 2026.
Sebanyak 33 kelompok dari tingkat SD, SMP hingga SMA ambil bagian dalam festival yang digelar Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo tersebut. Jumlah peserta tahun ini bertambah 10 grup dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang hanya diikuti 23 grup.
Ketua Dekesda Sidoarjo Ribut Wijoto menilai peningkatan peserta menjadi indikator tumbuhnya ketertarikan generasi muda terhadap kesenian tradisional, khususnya gamelan.
“Alhamdulillah pada tahun keempat ini peserta yang ikut lebih banyak. Artinya, minat generasi muda akan kesenian gamelan ini juga meningkat,” kata Ribut saat memberikan sambutan di Pendopo Delta Wibawa, Sabtu (26/9/2026).
Festival tahun ini membawa tema “Gamelan untuk Meditasi: Eksplorasi Pendengaran melalui Membunyikan Gamelan Jawa”. Tema tersebut diarahkan untuk memperkenalkan gamelan bukan semata sebagai seni pertunjukan, melainkan sebagai media pembelajaran dan pengalaman dalam memahami seni serta budaya.
Ribut mengatakan keterlibatan pelajar dalam festival memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengenal lebih dekat proses bermusik menggunakan gamelan. Peserta juga didorong mengeksplorasi karakter bunyi dan nilai yang terkandung dalam kesenian tradisional tersebut.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan gamelan memiliki posisi penting dalam khazanah kebudayaan Indonesia. Kesenian tersebut bahkan telah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya dunia dari UNESCO.
“Gamelan bukan hanya bagian dari kebudayaan kita, tetapi juga bagian dari kebudayaan dunia dan memiliki kontribusi terhadap peradaban dunia,” ujarnya.
Selain nilai seni, Ribut menyoroti perjalanan gamelan dalam sejarah masyarakat Nusantara. Ia menyebut kesenian gamelan pernah menjadi salah satu sarana yang digunakan Walisongo dalam pendekatan dakwah Islam di Tanah Jawa.
“Gamelan juga memiliki peran besar dalam masuknya Islam di Tanah Jawa dan Nusantara. Walisongo menggunakan gamelan saat melakukan dakwah Islam di Tanah Jawa,” katanya.
Menurut Ribut, keberadaan gamelan juga mengandung nilai filosofis yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan. Karena itu, ia menilai gamelan memiliki ruang yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan di atas panggung.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo Ridho Prasetyo menilai Festival Gamelan Kahuripan dapat menjadi wadah yang mempertemukan berbagai unsur dalam upaya menjaga keberlangsungan budaya daerah.
Ridho hadir mewakili Bupati Sidoarjo Subandi. Ia mengatakan festival tersebut mempertemukan dunia seni, pendidikan, masyarakat, dan pelajar dalam satu kegiatan yang berorientasi pada keberlanjutan budaya.
“Festival Gamelan Kahuripan ini bukan hanya sekadar pertunjukan seni semata, tetapi juga ajang mempertemukan seni, pendidikan, masyarakat, dan generasi muda dalam satu semangat agar kesenian tetap hidup, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan,” ujar Ridho.
Menurut Ridho, proses mempelajari dan memainkan gamelan turut memberikan pembelajaran karakter kepada peserta didik. Permainan gamelan menuntut kekompakan, kedisiplinan, kemampuan mendengar, menjaga keselarasan, serta menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi.
“Warisan budaya bukan hanya menjadi peninggalan harta benda, tetapi harus terus hadir sebagai pengalaman yang dijalani. Anak-anak perlu mengenal tembang dan karawitan, belajar tentang proses, keberanian, sekaligus membangun kebanggaan terhadap identitas daerah kita,” jelasnya.
Ia menilai pengenalan budaya lokal kepada anak-anak perlu dilakukan secara berkelanjutan. Festival menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk tidak hanya menunjukkan kemampuan tampil, tetapi juga belajar bekerja dalam kelompok dan memahami budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.
“Jangan sampai anak-anak kita mengenal budaya luar, namun tidak mengenal budaya Kabupaten Sidoarjo sendiri,” tegas Ridho.
Pemkab Sidoarjo, lanjut Ridho, akan terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan ekosistem kebudayaan daerah. Ia berharap gamelan tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan budaya, tetapi juga terus melahirkan kreativitas dan karya baru dari generasi muda Sidoarjo.
















