JATIMTERBARU.COM, SIDOARJO – Lantunan sholawat dan doa-doa terbaik menggema khidmat di pelataran Masjid Al-Kalam, Porong, Sabtu malam (18/7/2026).
Ribuan masyarakat dari Dukuh Juwet, Gondang, dan Kenongo bersatu dalam satu saf, menghadiri Haul ke-69 Almaghfurlah Mbah Kyai Kalam serta para sesepuh Kelurahan Juwetkenongo.
Momentum religi ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga refleksi spiritual dalam mengenang riwayat perjuangan ulama yang telah meletakkan fondasi keagamaan di tanah Juwetkenongo.
Kehadiran Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana, menambah kekhidmatan suasana. Sebelum membaur bersama jamaah, sosok yang akrab disapa Mak Mimik ini menyempatkan diri berziarah, menundukkan kepala, dan memanjatkan doa di pusara makam Mbah Kyai Kalam yang terletak persis di samping masjid.
Merawat Warisan Nilai di Era Modern
Dalam orasi budayanya yang sarat akan pesan moral, Mimik Idayana mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak membiarkan warisan luhur para sesepuh menguap ditelan zaman.
Nilai-nilai keikhlasan, keteguhan hati, serta semangat pengabdian tanpa pamrih yang dicontohkan oleh Mbah Kyai Kalam harus terus dihidupkan dalam nadi generasi muda.
“Kita berdiri di sini hari ini karena ilmu dan pelajaran yang beliau-beliau wariskan masih menjadi suluh pedoman hidup kita. Menghadiri haul bukan sekadar merawat tradisi tahunan, melainkan sebuah ikhtiar untuk menjaga kesinambungan nilai luhur antar-generasi,” tutur Mimik Idayana.
Lebih lanjut, Wakil Bupati menekankan tiga pilar utama yang harus dijaga oleh masyarakat dalam menghormati jasa para ulama terdahulu.
“Melalui haul seperti ini, mari kita jaga tiga hal yaitu mendoakan, meneladani, dan meneruskan apa yang dulu beliau ajarkan, yaitu mengaji, bersholawat, berkhidmat kepada umat dan bangsa,” ajaknya.
Di tengah disrupsi zaman yang kian dinamis, Mimik juga mengingatkan bahwa kegiatan berbasis keagamaan seperti haul ini memiliki fungsi ganda yang sangat krusial.
Selain memperkokoh jalinan silaturahmi dan solidaritas sosial antardesa, kedekatan pada ajaran ulama sebagai pewaris para nabi adalah benteng spiritual terbaik.
“Pemahaman agama yang kuat dan keyakinan yang kokoh pada tuntunan ulama adalah perisai kita. Dengan begitu, masyarakat tidak akan mudah goyah oleh ajaran atau paham yang menyesatkan, dan kita selalu memiliki jalan untuk kembali pada keimanan yang hakiki,” pungkasnya.
Malam merangkak larut, namun kekhusyukan tak berkurang sedikit pun. Haul ke-69 Mbah Kyai Kalam ditutup dengan kehangatan spiritual yang mendalam, meninggalkan pesan kuat bahwa warisan keislaman dan persatuan di Juwetkenongo akan tetap lestari, dirawat dari generasi ke generasi.


















