JATIMTERBARU.COM, MALANG – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kabupaten Malang periode 2026–2031 mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat kontribusi kaum intelektual terhadap pembangunan daerah.
Kepengurusan yang baru dilantik tersebut menempatkan ilmu pengetahuan, riset, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta kolaborasi ekonomi sebagai fondasi utama dalam menjalankan program organisasi selama lima tahun ke depan.
Ketua ICMI Kabupaten Malang, Makrus Sholeh, mengatakan sedikitnya terdapat tiga agenda yang menjadi fokus utama. Pertama, mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan dan penelitian untuk mengembangkan sektor unggulan Kabupaten Malang.
Agenda berikutnya berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM sekaligus penguatan literasi teknologi. Sedangkan fokus ketiga diarahkan pada pengembangan kerja sama lintas sektor untuk memperkuat pemberdayaan dan ekonomi masyarakat.
Makrus menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam pelantikan Pengurus ICMI Kabupaten Malang periode 2026–2031.
Menurut dia, momentum pelantikan tidak semata menjadi seremoni pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, pelantikan menjadi titik awal bagi para pengurus untuk menghadirkan gagasan yang dapat diterapkan dalam menjawab persoalan di masyarakat.
“Pelantikan adalah menegaskan amanah untuk kita semua yang sudah dilantik untuk bekerja di tengah tantangan, untuk memberikan solusi nyata,” ujar Makrus.
Ia memastikan ICMI Kabupaten Malang akan membangun pola komunikasi yang lebih intensif dengan Pemerintah Kabupaten Malang. Organisasi tersebut juga akan melakukan koordinasi secara berkala untuk menyusun berbagai kajian yang berkaitan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Rapat koordinasi tersebut direncanakan berlangsung sedikitnya enam bulan sekali. Dari forum itu, ICMI akan menghasilkan analisis maupun kajian yang kemudian disampaikan kepada Bupati Malang sebagai bahan pertimbangan.
“Setiap enam bulan kita sampaikan kepada Pak Bupati nanti hasil dari analisa kita,” katanya.
Ilmu Harus Turun ke Masyarakat
Makrus menegaskan, keberadaan ICMI tidak boleh hanya terlihat melalui kegiatan diskusi maupun forum intelektual. Pengetahuan dan kepakaran para anggotanya harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dirasakan masyarakat.
Ia juga mengingatkan kembali keterkaitan sejarah ICMI dengan Malang sejak organisasi tersebut berdiri sekitar 1990.
Dalam kesempatan itu, Makrus mengutip pesan Presiden ke-3 RI B.J. Habibie yang disebut sebagai Ketua Umum pertama ICMI.
“Jangan pernah berhenti untuk belajar, karena kehidupan tidak pernah berhenti untuk memberikan pelajaran,” kata Makrus mengutip pesan B.J. Habibie.
Bagi Makrus, pesan tersebut relevan dengan posisi seorang cendekiawan. Seorang intelektual dituntut terus memperbarui pengetahuan, membaca perubahan zaman, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Ia juga kembali menekankan pesan Bupati Malang tentang pentingnya membangun kebermanfaatan bagi masyarakat.
“Jangan sampai kita ini memanfaatkan orang lain. Harusnya memberi manfaat, bukan memanfaatkan orang lain,” tegasnya.
Pertanian dan Pariwisata Jadi Sasaran Riset
Salah satu langkah awal yang disiapkan ICMI Kabupaten Malang adalah mendorong agar hasil penelitian dan pengetahuan dari kalangan akademisi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan daerah.
Makrus menyebut ICMI ingin mengambil posisi sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyusun kebijakan yang tidak hanya bertumpu pada asumsi, tetapi diperkuat data dan hasil penelitian.
“ICMI Kabupaten Malang harus hadir sebagai brand trust bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan publik berbasis data dan riset,” ujarnya.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan. Inovasi pertanian cerdas, peningkatan produktivitas hortikultura dan perkebunan, serta pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan menjadi bagian dari perhatian ICMI.
Potensi tersebut sejalan dengan karakter Kabupaten Malang yang memiliki basis agraris sekaligus kekuatan pada desa wisata dan sektor pariwisata.
Makrus memberikan contoh pengembangan komoditas durian. Menurut dia, komoditas tersebut tidak sebatas dapat menghasilkan produk pertanian, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem wisata dan pemberdayaan ekonomi warga.
Hal itu salah satunya dilakukan melalui pemberian bibit durian kepada masyarakat yang berada di sekitar kawasan kebun di Bululawang.
Lahan yang masih kosong di sekitar rumah warga diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai lokasi penanaman. Dalam jangka panjang, kawasan tersebut diharapkan berkembang menjadi destinasi wisata berbasis komoditas lokal.
“Kita kasih bibit durian sehingga nanti jadi kampung wisata durian,” ujarnya.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari gagasan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat sebagaimana pesan yang disampaikan Bupati Malang.
“Pesan Pak Bupati tadi, ekonomi harus kita gerakkan,” katanya.
Potensi Anak Perlu Ditemukan Sejak Dini
Selain sektor ekonomi dan riset, ICMI Kabupaten Malang juga menaruh perhatian pada pembangunan kualitas manusia.
Makrus menjelaskan, agenda kedua akan diarahkan pada pembentukan SDM unggul, penguatan ketahanan keluarga, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Program tersebut akan menyasar berbagai jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi.
ICMI ingin mendorong pola pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membantu anak mengenali kemampuan dan keunggulan dirinya.
“Kita akan mencari, menemukan kekuatan dari anak didik kita, sehingga kita temukan kekuatannya dan kita inspirasi supaya mereka tahu kekuatannya,” jelas Makrus.
Menurutnya, pemahaman terhadap potensi diri akan membantu generasi muda menentukan pendidikan maupun profesi yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
“Sehingga benar-benar bisa kerja sesuai dengan kekuatannya, sesuai passion-nya,” imbuhnya.
Perkuat Sinergi untuk Ekonomi Masyarakat
Fokus ketiga berkaitan dengan penguatan kolaborasi. ICMI Kabupaten Malang membuka ruang keterlibatan berbagai unsur untuk merumuskan program yang dapat memberikan dampak langsung terhadap masyarakat.
Makrus menyebut kalangan rektor, kiai, akademisi, pengusaha, serta para cendekiawan memiliki peran penting dalam proses tersebut.
“Nanti mohon masukannya para rektor, para kiai, para cendekiawan semuanya. Ini yang akan kita rumuskan,” katanya.
Ia menegaskan, hasil koordinasi tidak akan berhenti sebagai dokumen rekomendasi. Setiap gagasan yang dinilai relevan akan diarahkan untuk masuk ke tahap implementasi dan dikomunikasikan dengan Pemerintah Kabupaten Malang.
“Nanti kita akan segera rakor, setelah itu kita tindaklanjuti dengan aksi nyata. Kita sampaikan ke Pak Bupati,” pungkasnya.
Sanusi Minta ICMI Dorong Masyarakat Lebih Mandiri
Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M. dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi sekaligus ucapan selamat kepada jajaran pengurus ICMI Kabupaten Malang yang baru dilantik.
Sanusi berharap amanah organisasi tersebut dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan memberikan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat luas.
Ia mengingatkan prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, yang bermakna sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat bagi sesama.
Nilai tersebut, menurut Sanusi, perlu menjadi pijakan bagi ICMI dalam menjalankan berbagai programnya.
“Ini arahnya bagaimana kita memberikan manfaat kepada orang lain, bukan memanfaatkan orang lain,” kata Sanusi.
Dalam sambutannya, Sanusi turut menyinggung persoalan kemiskinan yang masih menjadi salah satu pekerjaan rumah pembangunan di Kabupaten Malang.
Ia menyebut tingkat kemiskinan Kabupaten Malang berada di kisaran 8,6 persen dengan jumlah penduduk miskin sekitar 236 ribu orang.
Menurut Sanusi, penanganan persoalan tersebut membutuhkan pendekatan yang tidak semata-mata mengandalkan bantuan. Masyarakat harus didorong memiliki kemampuan untuk meningkatkan taraf kehidupannya secara berkelanjutan.
“Tidak hanya memberi bantuan, tetapi bagaimana memberi kail supaya mereka bisa keluar,” ujarnya.
Karena itu, Sanusi mendorong ICMI menggunakan kapasitas intelektual dan kepakaran yang dimiliki para anggotanya untuk membantu mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.
Kolaborasi antara ICMI, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, serta berbagai unsur masyarakat diharapkan mampu membuka lebih banyak ruang bagi peningkatan keterampilan, produktivitas, dan kemandirian ekonomi warga.
Pitono Dorong ICMI Hadirkan Dampak Nyata
Ketua ICMI Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur Pitono Nugroho juga menekankan pentingnya menjadikan nilai kebermanfaatan sebagai ukuran dari kerja organisasi.
Menurut Pitono, prinsip anfa’u linnas perlu diterjemahkan dalam bentuk kontribusi yang menghasilkan dampak konkret. Ia menyebut istilah impact sebagai gambaran dari arah yang ingin dibangun ICMI Jawa Timur selama periode kepengurusan 2026–2031.
“Maka kemudian saya bilang, periode ICMI ke depan, mulai tahun ini sampai 2031, kita bisa menyebutnya ICMI yang berdampak,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, aktivitas ICMI diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, seminar, maupun pertukaran gagasan.
“Artinya tidak sekadar omong-omong, tidak sekadar diskusi,” tegasnya.
Pitono menyebut ICMI memiliki modal besar berupa kepakaran anggotanya yang berasal dari beragam profesi. Mulai profesor, dokter, kiai, akademisi hingga kalangan profesional menjadi bagian dari kekuatan organisasi.
Namun, kapasitas tersebut menurutnya perlu diarahkan agar menghasilkan manfaat yang lebih luas.
“Kalau kemarin ICMI banyak dikenal karena mungkin ketokohannya—profesor, dokter, kiai—itu baik. Tapi kalau dampaknya semakin baik, kan semakin bagus,” katanya.
Dari Menara Gading Menuju Menara Air
Pitono menggambarkan arah baru ICMI melalui pergeseran paradigma dari “menara gading” menuju “menara air”.
Menurutnya, ICMI harus menjadi rumah bersama bagi para intelektual dengan latar belakang yang beragam. Keberadaan kiai, kepala dinas, rektor, akademisi hingga pengusaha menjadi modal sosial yang dapat disatukan dalam satu gerakan.
Ia menyampaikan bahwa dari lima Orda ICMI yang telah dilantik, dua di antaranya dipimpin oleh pengusaha, yakni ICMI Orda Kabupaten Bojonegoro dan ICMI Orda Kabupaten Malang. Sedangkan tiga Orda lainnya dipimpin kalangan rektor maupun akademisi.
Keragaman tersebut dinilai dapat memperluas ruang gerak organisasi dalam menjawab persoalan masyarakat.
“Kita ingin ada shifting dari yang tadi sekadar menara gading menjadi menara air,” ujarnya.
Istilah menara air digunakan Pitono untuk menggambarkan pengetahuan yang tidak hanya terkumpul di lingkungan akademik, tetapi dapat dialirkan hingga menjangkau masyarakat dan menghasilkan manfaat.
Dalam menjalankan periode kepengurusan, ICMI Jawa Timur juga akan menggunakan pendekatan yang dimulai dari tujuan akhir.
“Kita akan memulai periode ini dari akhir. Bukan memulai dari awal. Memulai dari akhir,” katanya.
Tujuan akhir yang dimaksud adalah kembali pada purpose ICMI, yakni mewujudkan kehidupan masyarakat madani yang diridai Allah SWT melalui peningkatan keimanan dan ketakwaan.
Dari tujuan tersebut, kata Pitono, terdapat cita-cita membangun masyarakat yang maju, adil, dan sejahtera. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan kerja nyata yang menghasilkan impact.
“Dengan jembatannya adalah impact,” katanya.
Ia meminta seluruh elemen ICMI menjaga keselarasan arah gerak agar program yang dijalankan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Tidak boleh tarikannya beda. Harus satu tarikan,” tegasnya.
ICMI Diperkuat sebagai Think Tank
Pitono juga mengungkapkan rencana memperkuat posisi ICMI Jawa Timur sebagai institusi think tank.
Menurut dia, kepakaran yang dimiliki anggota merupakan modal penting organisasi. Kepakaran tersebut perlu diolah menjadi kajian, gagasan, rekomendasi, maupun solusi yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan di tengah masyarakat.
“Yang pertama adalah kita ini, ICMI ini, adalah lembaga institusi think tank. Kenapa? Karena modal kita itu kepakaran,” pungkasnya.
Arah tersebut menjadi bagian dari upaya menempatkan ICMI bukan sekadar sebagai organisasi tempat berhimpunnya para cendekiawan. Lebih jauh, ICMI diharapkan mampu menjadi jembatan antara pengetahuan, riset, kepakaran dan kebutuhan masyarakat.
Dengan tiga agenda yang disiapkan di tingkat Kabupaten Malang serta gagasan ICMI yang berdampak di tingkat Jawa Timur, kepengurusan periode 2026–2031 diarahkan untuk menghasilkan kerja nyata yang dapat mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
















