Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Karhutla Tahura R. Soerjo Padam, Ancaman Bara Masih Dipantau

109
×

Karhutla Tahura R. Soerjo Padam, Ancaman Bara Masih Dipantau

Sebarkan artikel ini
Karhutla Tahura Soerjo padam, BPBD Kabupaten tetap siaga

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, wilayah Kabupaten Malang, berhasil dipadamkan pada Jumat (23/10/2026) pagi. Meski demikian, kebakaran tersebut telah menghanguskan sekitar 816 hektare kawasan hutan dan lahan di lereng Gunung Arjuno.

Hujan deras yang mengguyur lereng utara dan timur Gunung Arjuno sekitar dini hari membantu petugas mengakhiri kebakaran. Namun, tim gabungan tetap bersiaga untuk mengantisipasi munculnya kembali api dari sisa bara yang masih berpotensi memicu kebakaran susulan.

Example 300x600

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, S.Sos., M.M., menyampaikan data luas lahan terdampak berdasarkan laporan yang diterima hingga pukul 08.45 WIB.

Petak Hutan di Arjuno Mengalami Kerusakan

Sadono merinci dampak kebakaran di sejumlah petak kawasan Tahura Raden Soerjo. Petak 112 atau kawasan Gombes mencatat area terdampak terbesar, yakni sekitar 534 hektare yang seluruhnya terbakar.

Sementara itu, api membakar 202 hektare dari total 236 hektare lahan di Petak 113 atau kawasan Kutukan. Di Petak 117 atau Sabana Lincing, kebakaran menghanguskan 27 hektare dari luas keseluruhan 43,2 hektare.

Kebakaran juga menjalar ke beberapa petak lainnya. Di Petak 116B kawasan Kutukan, api membakar 17 hektare dari total 43 hektare lahan. Selanjutnya, Petak 115 mengalami kebakaran seluas 12 hektare dari total 43,9 hektare.

Adapun di Petak 116C kawasan Kutukan, api menghanguskan sekitar 2 hektare dari luas lahan 33,7 hektare.

“Kerugian material berupa lahan terbakar itu tersebar di beberapa titik petak kawasan Tahura Raden Soerjo,” kata Sadono, Jumat (23/10/2026).

Besarnya luasan terdampak menunjukkan beratnya upaya pengendalian kebakaran di kawasan hutan pegunungan tersebut.

Hujan Bantu Petugas Menghentikan Kobaran Api

Sebelum hujan membantu memadamkan api sekitar pukul 04.00 WIB, tim gabungan berjuang melakukan pemadaman langsung di lapangan. Sebanyak 30 personel dari unsur polisi hutan, Manggala Agni, BPBD, TNI/Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), HIPPAM, dan relawan terlibat dalam operasi tersebut.

Petugas menghadapi medan perbukitan yang terjal, hembusan angin kencang, serta keterbatasan akses menuju titik kebakaran. Mereka bahkan harus berjalan kaki untuk menjangkau sejumlah lokasi.

Kondisi tersebut menyulitkan personel dalam membawa perlengkapan dan menjangkau area yang masih mengeluarkan api. Karena itu, tim mengatur strategi pemadaman sesuai kondisi medan dan arah penyebaran api.

Sadono menjelaskan bahwa personel mengandalkan pemadaman manual sebelum hujan turun. Mereka menggunakan ranting dan dahan untuk memukul api serta menimbun bara pada pohon tumbang agar api tidak merambat ke area lain.

Petugas Bangun Sekat Bakar di Budug Basu

Selain memadamkan api secara langsung, tim gabungan membangun sekat bakar untuk membatasi pergerakan kobaran. Upaya ini menyasar area yang berbatasan langsung dengan objek wisata Budug Basu.

Petugas membuat sekat pembatas selebar sekitar tiga meter dengan panjang mencapai 500 meter. Langkah tersebut bertujuan menghambat rambatan api sekaligus melindungi kawasan di sekitar lokasi wisata.

Strategi itu menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla, terutama ketika angin kencang dan kondisi medan membuat petugas kesulitan menjangkau sumber api.

“Operasi pemadaman di lapangan menghadapi kendala berat akibat medan perbukitan yang terjal, angin kencang, serta akses lokasi yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki,” jelas Sadono.

Tiga Posko Siaga, Delapan Titik Panas Terpantau

Untuk mendukung penanganan pascakebakaran, BPBD Kabupaten Malang menyiagakan tiga posko di sejumlah lokasi strategis. Posko tersebut berada di Pos Pendakian via Lawang, jalur pendakian Budug Basu di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, serta Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso.

BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Meski api utama telah padam, petugas masih memantau delapan titik panas atau hotspot di kawasan terdampak.

Personel gabungan tetap menempati posko masing-masing. Sebagian petugas juga menyisir kawasan melalui patroli darat untuk memeriksa kondisi hutan dan memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala.

Langkah pemantauan ini penting untuk mencegah kebakaran berulang, terutama pada area yang sebelumnya mengalami kobaran besar.

Kondisi Gunung Arjuno Terpantau Kondusif

Berdasarkan pemantauan visual dari Puncak Budug Basu pada ketinggian sekitar 1.422 meter di atas permukaan laut (mdpl), kondisi Gunung Arjuno terpantau aman dan kondusif. Area pengamatan yang masuk wilayah kerja Perhutani KPH Malang juga tidak lagi menunjukkan kepulan asap.

Meski demikian, masyarakat dan wisatawan tetap perlu memperhatikan perkembangan kondisi kawasan hutan. Padamnya api utama tidak serta-merta menghilangkan risiko kebakaran susulan selama petugas masih menemukan titik panas.

BPBD Kabupaten Malang mengimbau masyarakat agar menjaga kelestarian lingkungan dan mematuhi ketentuan keselamatan saat beraktivitas di sekitar kawasan hutan lindung.

Masyarakat juga perlu menghindari tindakan yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan sumber api di kawasan hutan.

Penanganan karhutla di Tahura Raden Soerjo kini berlanjut pada pemantauan dan pengamanan pascakebakaran. Upaya tersebut diharapkan dapat mencegah munculnya kembali api sekaligus melindungi ekosistem Gunung Arjuno dari kerusakan yang lebih luas.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *