JATIMTERBARU.COM, MALANG – Aktivitas olahraga dapat memicu cedera jika seseorang mengabaikan pemanasan, memaksakan kemampuan tubuh, atau menggunakan teknik gerakan yang keliru. Karena itu, penanganan awal yang tepat sangat penting untuk mencegah keluhan semakin parah.
Perawat Klinik Utama UM, Imelda Tri Omega, S.Kep., Ns., AIFO, menjelaskan bahwa keseleo dan otot tertarik termasuk cedera yang perlu mendapat perhatian. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan aktivitas ketika tubuh mulai menunjukkan tanda cedera.
“Semangat menjaga kesehatan melalui olahraga perlu disertai kepedulian terhadap keselamatan diri. Ketika muncul keluhan setelah cedera, jangan memaksakan aktivitas dan carilah pertolongan tenaga kesehatan yang sesuai,” ujar Imelda.
Kenali Metode PRICE untuk Pertolongan Awal
Pada dugaan cedera jaringan lunak ringan, masyarakat dapat menerapkan metode PRICE sebagai panduan pertolongan pertama. Metode ini mencakup lima langkah untuk melindungi bagian tubuh yang mengalami cedera.
Pertama, Protection atau perlindungan. Hentikan aktivitas yang memicu nyeri. Lindungi bagian tubuh yang cedera agar tidak mengalami benturan atau tekanan tambahan.
Kedua, Rest atau istirahat. Kurangi aktivitas yang memperburuk keluhan. Jangan memaksakan gerakan jika bagian tubuh masih terasa nyeri.
Ketiga, Ice atau kompres dingin. Tempelkan kompres dingin selama 15–20 menit. Bungkus es dengan handuk atau kain tipis agar tidak bersentuhan langsung dengan kulit.
Keempat, Compression atau kompresi. Gunakan perban elastis untuk membantu mengendalikan pembengkakan. Pastikan balutan tidak terlalu ketat agar aliran darah tetap terjaga.
Kelima, Elevation atau elevasi. Tinggikan bagian tubuh yang cedera, jika memungkinkan, untuk membantu mengurangi pembengkakan.
Langkah tersebut dapat membantu menangani cedera ringan. Namun, metode PRICE tidak menggantikan pemeriksaan medis jika cedera menimbulkan gejala berat atau mencurigakan.
Hindari Pijatan dan Paparan Panas
Selain memahami pertolongan pertama, masyarakat perlu mengetahui tindakan yang sebaiknya dihindari. Pada fase awal cedera, terutama selama 48–72 jam pertama, sejumlah aktivitas dapat memperburuk keluhan.
Prinsip HARM merangkum empat hal yang perlu dihindari, yaitu Heat (panas), Alcohol (alkohol), Running (aktivitas berlari atau olahraga), dan Massage (pijatan).
Paparan panas dan pijatan pada bagian yang baru mengalami cedera dapat memperburuk pembengkakan pada kondisi tertentu. Sementara itu, aktivitas berlebihan berisiko menambah beban pada jaringan yang sedang mengalami kerusakan.
Karena itu, jangan langsung memijat bagian tubuh yang terkilir. Tingkat keparahan cedera tidak selalu terlihat dari rasa nyeri. Cedera yang tampak ringan pun terkadang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Waspadai Tanda Cedera Serius
Masyarakat perlu mengenali gejala yang membutuhkan penanganan medis segera. Jangan menunda pemeriksaan jika cedera menimbulkan nyeri hebat, pembengkakan besar, atau perubahan bentuk anggota tubuh.
Kesulitan menggerakkan bagian tubuh, mati rasa, serta ketidakmampuan menumpu berat badan juga perlu mendapat perhatian. Begitu pula jika anggota tubuh terasa dingin atau tampak kebiruan.
Gejala tersebut dapat menandakan cedera yang lebih serius. Oleh sebab itu, tenaga kesehatan perlu memeriksa kondisi pasien untuk menentukan penanganan yang sesuai.
“Pertolongan pertama merupakan langkah awal. Jika keluhan menetap atau muncul tanda yang mengkhawatirkan, pemeriksaan diperlukan agar pasien memperoleh penanganan sesuai kondisinya,” ungkap Imelda.
Kembali Berolahraga Secara Bertahap
Proses pemulihan membutuhkan perhatian yang sama pentingnya dengan pertolongan pertama. Seseorang sebaiknya tidak langsung kembali menjalani latihan dengan intensitas penuh setelah mengalami cedera.
Mulailah aktivitas secara bertahap sesuai kondisi tubuh. Perhatikan respons tubuh ketika meningkatkan durasi maupun intensitas latihan.
Jika nyeri atau pembengkakan kembali meningkat, kurangi aktivitas tersebut. Apabila keluhan menetap atau memburuk, segera konsultasikan kondisi kepada tenaga kesehatan.
Imelda mengingatkan bahwa olahraga harus mendukung kesehatan, bukan justru memperbesar risiko cedera akibat memaksakan diri. Karena itu, masyarakat perlu mengenali batas kemampuan tubuh dan merespons keluhan sejak awal.
Dengan memahami langkah pertolongan pertama, menghindari tindakan yang berisiko, serta mengenali tanda bahaya, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih tepat saat mengalami cedera olahraga. Keselamatan tetap harus menjadi prioritas sebelum seseorang kembali beraktivitas.
















