JATIMTERBARU.COM, MALANG — Keris selama ini kerap dipahami sebatas senjata tradisional dalam sejarah masyarakat Jawa. Namun, di balik bentuk dan fungsi tersebut, keris menyimpan makna sosial yang lebih luas. Hal itulah yang dikenalkan kepada siswa SDN Wonokoyo 2 Kota Malang melalui program Museum Keliling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.
Kegiatan tersebut tidak sekadar memperlihatkan koleksi benda bersejarah kepada para siswa. Mereka diajak memahami latar belakang, fungsi, serta nilai budaya yang melekat pada sejumlah peninggalan masa lalu, termasuk keris.
Arkeolog sekaligus peneliti, Juan Steven Susilo, menjelaskan bahwa dalam periode tertentu keris memiliki kedudukan yang lebih kompleks dibandingkan sekadar perlengkapan untuk bertempur.
Menurutnya, keris juga berkaitan dengan identitas dan kedudukan seseorang di tengah masyarakat. Pada masa ketika sistem administrasi kependudukan seperti saat ini belum dikenal, atribut yang dikenakan seseorang dapat menjadi salah satu penanda status sosial.
“Ketika orang memegang keris, dari situ bisa diketahui status sosialnya. Dulu belum ada KTP, sehingga salah satu simbol status sosial dapat dilihat dari keris yang dikenakan,” jelas Juan.
Penjelasan tersebut sekaligus meluruskan pemahaman yang selama ini sering melekat pada keris sebagai benda yang identik dengan peperangan. Melalui perspektif sejarah, siswa diperkenalkan bahwa keris memiliki dimensi budaya, sosial, hingga simbolik yang berkembang seiring perjalanan masyarakat Jawa.
Juan menilai pengenalan semacam itu penting dilakukan sejak usia sekolah. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengenal bentuk keris, tetapi juga memahami konteks sejarah yang melatarbelakangi keberadaan dan penggunaannya.
Respons positif terlihat dari antusiasme siswa selama mengikuti pemaparan. Dari berbagai koleksi yang diperkenalkan, keris dan topeng menjadi benda yang cukup menarik perhatian karena keduanya relatif familiar dalam kehidupan maupun pengetahuan anak-anak.
“Anak-anak lebih menyukai tentang keris dan topeng. Karena mungkin sudah familiar dengan keris, mereka tidak terlalu asing. Ketika dijelaskan juga mereka sangat antusias,” kata Juan.
Kepala SDN Wonokoyo 2, Bambang Wijayanto, menilai kehadiran Museum Keliling memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. Materi sejarah tidak hanya diterima melalui buku pelajaran, tetapi dapat dipahami melalui benda-benda budaya yang diperkenalkan secara langsung.
Menurut Bambang, kegiatan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan materi pembelajaran di sekolah, terutama Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang membahas sejarah, peninggalan budaya, serta kehidupan masyarakat pada masa lampau.
“Sangat banyak yang didapatkan, utamanya mengedukasi anak-anak tentang pemahamannya pada museum dan benda-benda yang disimpan di museum. Itu juga sangat berkaitan dengan pelajaran anak-anak,” ujarnya.
Bambang berharap program Museum Keliling tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Ia mendorong adanya kesinambungan antara sekolah dan pengelola museum sehingga siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk memperdalam pengetahuan sejarah dan budaya.
“Harapan saya bisa dilanjutkan, karena ini sangat mengedukasi. Bisa menjalin kerja sama dengan pihak museum untuk memberikan sosialisasi dan mungkin anak-anak juga bisa berkunjung ke sana,” tuturnya.
Melalui Museum Keliling, pembelajaran sejarah dan budaya akhirnya tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Koleksi museum menjadi medium untuk mempertemukan siswa dengan jejak masa lalu sekaligus menanamkan pemahaman bahwa warisan budaya memiliki nilai sejarah, sosial, dan identitas yang penting untuk terus dikenali generasi muda.
















