Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Lifestyle

Mahasiswa UB Kembangkan Spray Antimikroba dari Kulit Kakao

115
×

Mahasiswa UB Kembangkan Spray Antimikroba dari Kulit Kakao

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Limbah kulit kakao di perkebunan selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Brawijaya atau UB berinovasi. Mereka mengembangkan produk kesehatan kulit dari limbah tersebut.

Inovasi Limbah Kulit Kakao Jadi Produk Kulit

Example 300x600

Mahasiswa UB melihat potensi besar pada kulit kakao. Kulit kakao mengandung antioksidan dan senyawa aktif yang baik untuk kulit.

Oleh karena itu, tim memanfaatkan limbah tersebut sebagai bahan baku utama. Mereka mengolahnya menjadi produk perawatan kulit yang aman dan alami.

Inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah perkebunan. Selain itu, inovasi ini juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani kakao.

Melalui riset eksakta, mereka memadukan ekstrak kulit kakao dan daun pegagan dalam sediaan semprot cair yang ditujukan untuk membantu mengatasi mikroorganisme pada peradangan kulit di area batang tubuh.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE). Produk yang dirancang berbentuk spray ini menyasar persoalan jerawat pada punggung dan dada atau truncal acne, yang penanganannya kerap menghadapi tantangan karena cakupan area kulit relatif luas.

Tim penelitian diketuai Fatla Sela Iracahyono dari Departemen Teknik Biosistem. Ia berkolaborasi dengan Khesya Olivia, Athaya Nur Febriliana, dan Kristin Angelia dari Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi angkatan 2025, serta Clara Zaaky dari Departemen Farmasi angkatan 2024. Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani, S.TP., M.Si., Ph.D.

Fatla menjelaskan, gagasan penelitian berangkat dari dua persoalan yang dinilai memiliki peluang untuk dipertemukan, yakni pemanfaatan limbah kulit kakao dan kebutuhan terhadap pendekatan yang lebih luas dalam penanganan mikroorganisme penyebab peradangan kulit.

“Kami melihat kebanyakan penelitian jerawat hanya fokus pada bakteri Cutibacterium acnes. Padahal, pada jerawat di area punggung dan dada, seringkali ada keterlibatan jamur Malassezia furfur yang menyebabkan peradangan juga. Jadi kami ingin menciptakan formula yang bisa mengatasi keduanya sekaligus,” ujar Fatla.

Kulit kakao dipilih karena memiliki proporsi cukup besar dari keseluruhan buah kakao. Tim menyebut bagian tersebut dapat mencapai sekitar 75,52 persen dari total berat buah, sehingga berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku bernilai tambah.

Menurut Fatla, kulit kakao juga mengandung sejumlah senyawa bioaktif, termasuk alkaloid dan flavonoid, yang secara teoritis berpotensi mengganggu permeabilitas membran serta menghambat metabolisme mikroorganisme.

Sementara itu, daun pegagan dipilih untuk melengkapi karakteristik bahan utama. Tanaman dengan nama ilmiah Centella asiatica tersebut dikenal mengandung senyawa bioaktif seperti asiaticoside dan madecassoside yang berkaitan dengan aktivitas anti-inflamasi dan proses regenerasi kulit.

“Kami mengombinasikan keduanya karena ingin mendapatkan efek sinergis. Kalau kulit kakao fokus menyerang mikrobanya, pegagan membantu meredakan peradangannya dan memperbaiki skin barrier. Jadi pendekatannya tidak hanya membunuh bakteri, tapi juga memulihkan kulit,” jelasnya.

 

Dipilih dalam Bentuk Spray

Selain komposisi bahan, tim juga mempertimbangkan bentuk sediaan agar produk lebih sesuai dengan karakteristik area pemakaian.

Sediaan semprot cair dipilih karena dapat diaplikasikan pada area tubuh yang relatif luas dan sulit dijangkau, khususnya punggung. Bentuk tersebut juga dinilai lebih praktis dibandingkan gel atau krim yang membutuhkan kontak langsung dengan kulit dan berpotensi meninggalkan rasa lengket.

Dalam pengembangan formula, tim menguji sejumlah perbandingan ekstrak kulit kakao dan daun pegagan untuk memperoleh komposisi dengan aktivitas antimikroba yang optimal terhadap C. acnes dan M. furfur.

Formula terpilih selanjutnya dikembangkan menjadi sediaan spray dan menjalani serangkaian pengujian laboratorium. Pengujian tersebut mencakup karakteristik fisik, stabilitas, tingkat keasaman atau pH, hingga aktivitas antimikroba.

Dosen pembimbing Prof. Dr. Agustin Krisna Wardani menilai riset tersebut menunjukkan pendekatan lintas disiplin dalam mengembangkan sebuah inovasi.

“Ini adalah contoh bagus bagaimana mahasiswa berpikir secara interdisipliner. Dari Teknik Biosistem, Teknologi Pangan, dan Farmasi mereka berkolaborasi. Mereka melihat limbah kulit kakao dari sisi teknologi pengolahan, lalu pegagan dari sisi fungsional pangan, dan diformulasikan menjadi produk farmasetis. Inovasi seperti ini yang kita dorong di UB,” ujarnya.

Riset tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah agroindustri menjadi bahan baku produk bernilai tambah. Kulit kakao yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dikembangkan melalui pendekatan ekonomi sirkular, sementara daun pegagan dimanfaatkan sebagai sumber senyawa bioaktif.

Tim saat ini masih melanjutkan penelitian, terutama pada tahap optimasi stabilitas sediaan spray dan uji iritasi. Tahapan tersebut diperlukan untuk memperoleh data keamanan dan karakteristik produk sebelum inovasi dikembangkan lebih jauh menuju proses hilirisasi.

Pengembangan produk ini juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera melalui inovasi di bidang kesehatan, serta tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *