JATIMTERBARU.COM, MALANG —Keterbatasan lahan dan akses air menjadi tantangan pengembangan pertanian di kawasan perkotaan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem atau FTAB Universitas Brawijaya atau UB menghadirkan teknologi tepat guna.
Teknologi tersebut mengoptimalkan greenhouse di RW 6, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Inovasi itu hadir melalui Program Mahasiswa Membangun Mitra atau 3M Kelompok 47.
Tim tersebut diketuai Rhafelin Agadya Mafiskaputri dari Program Studi IPABIO 2024. Tim mengombinasikan rak tanam vertikal dengan sistem pemanenan air hujan atau rainwater harvesting yang terintegrasi irigasi tetes.
DPL Dr.nat.techn. Elok Waziiroh, S.TP., M.Si. dan Prof. Dr. Ir. Bambang Dwi Argo, DEA membimbing langsung program tersebut. Penerapan teknologi ini menjawab persoalan pemanfaatan greenhouse yang belum maksimal.
Greenhouse Belum Optimal Sebelum Inovasi
Sebelum inovasi terpasang, sebagian ruang di dalam greenhouse belum termanfaatkan. Ketersediaan air untuk penyiraman juga menjadi persoalan utama.
Pengelola masih mengandalkan air hujan dan pasokan dari rumah warga sekitar. Selain itu, keterbatasan akses listrik menjadi kendala dalam pengelolaan greenhouse secara rutin.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa merancang sistem yang sederhana dan adaptif. Rak tanam vertikal menjadi solusi untuk memperbanyak kapasitas budidaya tanpa memperluas area greenhouse.
Dengan sistem tersebut, warga dapat menata tanaman secara bertingkat dan lebih terorganisasi. Tanaman tersebut meliputi hortikultura, herbal, rempah, hingga tanaman fungsional. Penataan ini tidak hanya mengoptimalkan ruang, tetapi juga memudahkan perawatan.
Solusi Air dengan Rainwater Harvesting dan Irigasi Tetes
Persoalan ketersediaan air terjawab melalui penerapan rainwater harvesting. Tim mengumpulkan air hujan dan menyimpannya dalam tandon sebagai sumber air alternatif.
Air dari tandon kemudian mengalir melalui jaringan pipa dan selang menuju dripper. Melalui mekanisme irigasi tetes tersebut, suplai air langsung menuju area perakaran tanaman. Penggunaannya jauh lebih terukur daripada penyiraman konvensional.
Penerapan sistem itu menekan ketergantungan greenhouse terhadap sumber air dari rumah warga. Di sisi lain, pemanfaatan air hujan memberikan pendekatan yang lebih efisien untuk pertanian perkotaan.
Libatkan Warga Agar Berkelanjutan
Pelaksanaan program tidak berhenti pada pembangunan sarana. Mahasiswa bersama mitra terlebih dahulu melakukan observasi dan pemetaan persoalan.
Tahapan selanjutnya meliputi perancangan, pembuatan, serta pemasangan rak tanam. Tim juga melakukan instalasi rainwater harvesting dan irigasi tetes, penanaman, hingga pengujian sistem.
Kader lingkungan dan masyarakat RW 6 terlibat langsung selama proses tersebut. Pelibatan ini menjadi bagian penting dari transfer pengetahuan.
Dengan demikian, teknologi yang telah terbangun tidak hanya terpakai selama program berlangsung. Masyarakat dapat merawat dan mengembangkannya secara mandiri.
Dukung Tiga Target SDGs
Keberadaan fasilitas tersebut mengubah greenhouse RW 6 menjadi ruang budidaya yang lebih produktif dan tertata. Selain menyediakan alternatif pemanfaatan lahan terbatas, hasil pertanian juga memberikan nilai tambah ekonomi.
Dari sisi pembangunan berkelanjutan, program mahasiswa FTAB UB berkaitan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals atau SDGs. Pengembangan potensi hasil budidaya mendukung SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Sementara penerapan rak tanam vertikal, rainwater harvesting, dan irigasi tetes berkontribusi terhadap SDG 9 mengenai Industri, Inovasi dan Infrastruktur. Efisiensi penggunaan air juga sejalan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya membawa inovasi teknologi ke masyarakat. Mereka juga mendorong pemanfaatan ruang perkotaan agar memiliki fungsi produktif. Greenhouse RW 6 diharapkan menjadi model pengembangan urban farming berbasis teknologi sederhana yang berkelanjutan.
















