Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Lifestyle

Polresta Malang Kota Perkuat Pelestarian Budaya Malangan

112
×

Polresta Malang Kota Perkuat Pelestarian Budaya Malangan

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG KOTA — Bahasa Walikan atau Osob Kiwalan kembali mendapat perhatian sebagai salah satu kekayaan budaya yang melekat kuat dengan kehidupan masyarakat Kota Malang. Pelestariannya dinilai penting agar identitas khas Malangan tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Temu Budaya Ngalam Hebak yang mempertemukan Polresta Malang Kota, Pemerintah Kota Malang, kalangan akademisi, komunitas budaya, serta sejumlah elemen masyarakat di Sanggar Sasana Krida Budaya, Kelurahan Rampal Celaket, Minggu (27/9/2026).

Example 300x600

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi menegaskan bahwa menjaga Kota Malang bukan semata berkaitan dengan keamanan dan ketertiban. Menurutnya, karakter sosial dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat juga menjadi bagian penting yang harus dipelihara.

Ia menyebut Osob Kiwalan memiliki posisi khusus karena telah berkembang menjadi salah satu penanda identitas masyarakat Malang. Keberadaannya, kata Danang, perlu terus dikenalkan agar tidak sekadar menjadi bagian dari sejarah, tetapi tetap digunakan dan dipahami oleh generasi mendatang.

“Osob Kiwalan sudah menjadi identitas dan ciri khas Kota Malang. Karena itu, kita bersama-sama perlu menjaga, melestarikan, sekaligus mengenalkannya lebih luas kepada masyarakat,” ujar Danang.

Gagasan pelestarian bahasa khas Malangan tersebut, lanjut dia, muncul melalui komunikasi dan pertukaran gagasan dengan sejumlah akademisi maupun elemen masyarakat. Dari pembahasan tersebut, muncul kesadaran bahwa kebudayaan lokal membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar keberadaannya tetap relevan.

Danang menilai masyarakat memiliki peran utama dalam mempertahankan berbagai warisan lokal yang menjadi karakter Kota Malang. Pelestarian budaya tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah atau komunitas tertentu.

“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Ini merupakan gerakan bersama untuk merawat identitas, kebersamaan, dan nilai-nilai baik yang dimiliki Kota Malang,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Danang juga menyinggung perjalanan panjang Kota Malang yang memiliki banyak tokoh dan talenta di berbagai bidang. Mulai dari atlet, pesepak bola, seniman hingga budayawan lahir dan berkembang dari lingkungan masyarakat Malang.

Potensi tersebut menurutnya perlu terus mendapatkan ruang melalui kerja bersama antarelemen masyarakat. Dengan demikian, karakter Kota Malang sebagai daerah pendidikan, destinasi wisata, sekaligus salah satu pusat kuliner dapat semakin kuat tanpa kehilangan akar budayanya.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita memiliki rasa terhadap Kota Malang. Caranya dengan bekerja, menjaga, dan merawat kota ini secara bersama-sama,” tuturnya.

Dukungan terhadap gerakan pelestarian Osob Kiwalan juga disampaikan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Ia mengapresiasi keterlibatan Polresta Malang Kota dalam menghidupkan kembali perhatian masyarakat terhadap budaya lokal.

Menurut Wahyu, upaya tersebut sejalan dengan semangat pembangunan Kota Malang melalui konsep Malang Mbois Berkelas. Identitas budaya lokal dinilai menjadi salah satu kekuatan yang dapat mempertegas karakter daerah di tengah dinamika masyarakat perkotaan.

Wahyu menjelaskan bahwa Osob Kiwalan tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah masyarakat Malang. Bahasa tersebut memiliki akar historis dan dalam sejumlah kisah perjuangan masyarakat setempat kerap dikaitkan dengan Mayor Hamid Rusdi, salah satu tokoh perjuangan yang dikenal luas di Malang.

“Osob Kiwalan merupakan kearifan lokal yang unik dan menjadi bagian dari kekompakan masyarakat Malangan. Tradisi ini harus terus dijaga agar tidak hilang,” ungkap Wahyu.

Ia menambahkan, pelestarian kebudayaan seharusnya tidak berjalan sendiri, melainkan dikembangkan bersamaan dengan potensi-potensi lokal lainnya. Keberadaan kawasan budaya seperti Kampung Celaket dinilai memiliki peran penting sebagai ruang tumbuhnya kreativitas dan keberagaman budaya masyarakat.

Di sisi lain, Wahyu menegaskan bahwa identitas Malang bukan hanya milik warga yang lahir dan besar di daerah tersebut. Masyarakat dari berbagai daerah yang tinggal, bekerja, maupun mengenyam pendidikan di Kota Malang juga menjadi bagian dari kehidupan kota.

Karena itu, pengenalan Osob Kiwalan diharapkan tidak berhenti pada komunitas tertentu. Bahasa khas Malangan tersebut dapat menjadi salah satu sarana memperkenalkan karakter Kota Malang sekaligus membangun rasa kebersamaan di antara masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.

Temu Budaya Ngalam Hebak pun diharapkan menjadi momentum awal untuk memperluas gerakan pelestarian budaya lokal. Kolaborasi antara kepolisian, pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan kegiatan yang berkelanjutan.

 

Pelestarian Osob Kiwalan dengan demikian tidak hanya ditempatkan sebagai upaya mempertahankan sebuah bahasa, tetapi juga menjaga memori sejarah, karakter sosial, serta jati diri masyarakat Malangan.

Sejalan dengan itu, pembangunan Kota Malang diharapkan tidak hanya menghasilkan lingkungan yang aman dan nyaman, tetapi juga tetap mempertahankan identitas budaya yang menjadi pembeda sekaligus kekayaan bagi generasi masa kini dan masa mendatang.(*)

 

Sumber Humas Polresta Malang Kota

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *