Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Pendidikan

Siswa SDN Bumiayu 1 Dalami Filosofi Topeng Panji

110
×

Siswa SDN Bumiayu 1 Dalami Filosofi Topeng Panji

Sebarkan artikel ini
Siswa SDN Bumiayu 1 mendapat kesempatan kenali Warisan Budaya melalui Museum Keliling Disdikbud

JATIMTERBARU.COM, MALANG — Pembelajaran sejarah dan kebudayaan di SDN Bumiayu 1 Kota Malang berlangsung lebih interaktif. Para siswa mendapat kesempatan mengenal langsung berbagai warisan budaya melalui program Museum Keliling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah materi dan koleksi yang selama ini tersimpan di lingkungan museum, di antaranya arca, keris serta Topeng Panji Malang. Penyajiannya dilakukan langsung di sekolah sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih konkret tanpa harus berkunjung ke museum.

Example 300x600

Arkeolog sekaligus peneliti, Juan Steven Susilo, menjelaskan bahwa Museum Keliling tidak sekadar mengenalkan benda-benda bersejarah. Program ini juga diarahkan untuk menumbuhkan pemahaman siswa terhadap sejarah sekaligus memperkuat kesadaran mengenai identitas budaya daerah.

Menurut Juan, koleksi Museum Mpu Purwa memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Malang. Karena itu, pengenalan sejak usia sekolah dasar dinilai penting agar generasi muda tidak hanya mengetahui bentuk sebuah benda budaya, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

Salah satu materi yang mendapat perhatian siswa adalah Topeng Panji Malang. Mereka diperkenalkan pada karakter, cerita hingga filosofi di balik bentuk dan warna topeng yang menjadi bagian dari tradisi kesenian Malang tersebut.

Juan menerangkan, cerita Panji memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan berkembang hingga berbagai wilayah Asia Tenggara. Tradisi tersebut kemudian tumbuh dalam beragam bentuk kesenian, termasuk tari topeng yang hingga kini masih hidup dan dipelihara di Malang.

Ia menilai keberlanjutan warisan budaya tidak cukup hanya dilakukan dengan merawat benda peninggalannya. Pemahaman generasi muda menjadi bagian penting agar nilai sejarah dan budaya tersebut tetap memiliki penerus.

“Generasi-generasi yang akan datang ini harus dipersiapkan dengan baik dan diberikan edukasi sebaik-baiknya,” kata Juan.

Untuk membuat materi lebih mudah diterima siswa, pembelajaran juga dilengkapi dengan pemutaran video. Pendekatan tersebut membuat informasi mengenai sejarah dan kebudayaan disampaikan melalui metode yang lebih visual dan dekat dengan karakter pembelajaran anak-anak.

Juan berharap kegiatan tersebut mampu menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus kebanggaan siswa terhadap kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya.

“Generasi-generasi muda lebih mencintai dan lebih mengerti. Ternyata di Malang ini memiliki kebudayaan yang sudah terkenal se-Asia Tenggara dan kita harus bangga dengan kebudayaan tersebut,” ujarnya.

 

Tak Sekadar Mengenal Bentuk Topeng dan Keris

Kepala SDN Bumiayu 1 Kota Malang, Putria Suprianti, menyambut positif pelaksanaan Museum Keliling. Menurutnya, pembelajaran secara langsung memberikan pengalaman berbeda karena siswa dapat melihat sekaligus mendapatkan penjelasan mengenai objek budaya yang sebelumnya hanya mereka kenal secara terbatas.

Ia menyebut sebagian siswa selama ini lebih mengenal Topeng Panji sebagai bagian dari pertunjukan tari. Melalui kegiatan tersebut, pemahaman mereka mulai berkembang dengan mengetahui bahwa setiap karakter dan bentuk topeng memiliki simbol serta makna tertentu.

“Anak-anak jadi mengenal topeng yang merah dan hijau tadi. Yang diketahui anak-anak hanya tari topeng, tapi tidak tahu itu maknanya,” ungkap Putria.

Pemahaman serupa juga diperoleh siswa ketika mempelajari keris. Benda pusaka tersebut tidak hanya diperkenalkan dari sisi bentuk maupun fungsi historisnya, tetapi juga melalui nilai filosofi dan budaya yang melekat di dalamnya.

Putria mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah akan lebih bermakna ketika siswa memperoleh kesempatan untuk melihat dan mendengar penjelasan secara langsung.

“Keris itu punya arti dan filosofi sendiri, tidak sekadar untuk senjata,” tuturnya.

Menurutnya, pengenalan sejarah dan warisan budaya perlu dilakukan sejak jenjang sekolah dasar. Selain memperluas wawasan, langkah tersebut dapat membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga peninggalan budaya bangsa.

Ia berharap semakin banyak program pembelajaran yang membawa sejarah dan kebudayaan lebih dekat dengan kehidupan pelajar.

“Semoga ke depannya anak-anak semakin mengenal sejarah dari bangsa ini, sejarahnya, terus peninggalan-peninggalannya agar tidak mudah diklaim oleh negara lain,” tegasnya.

Putria menambahkan, minimnya pengenalan terhadap warisan budaya sejak usia dini berpotensi membuat generasi berikutnya semakin jauh dari sejarah bangsanya sendiri.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengatakan Museum Keliling merupakan salah satu sarana untuk memperluas literasi sejarah dan kebudayaan di kalangan pelajar.

Program tersebut tidak berhenti pada pengenalan koleksi, tetapi juga mendorong siswa memahami latar sejarah, filosofi serta nilai budaya yang terkandung dalam berbagai peninggalan, termasuk Topeng Panji dan keris.

Melalui Museum Keliling, Disdikbud Kota Malang berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan koleksi budaya dengan generasi muda. Dengan demikian, sejarah tidak hanya dipahami sebagai materi pelajaran di ruang kelas, tetapi juga dapat dipelajari melalui pengalaman melihat, mengenali dan memahami warisan budaya secara langsung.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *