Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Wamen Diktisaintek Soroti Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi

95
×

Wamen Diktisaintek Soroti Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG  – Perguruan tinggi dituntut melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menghadapi kebutuhan dunia kerja. Untuk mencapai tujuan tersebut, kampus perlu memperkuat pembelajaran berbasis praktik, memperluas kemitraan dengan industri, serta membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan.

Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Fauzan dalam peringatan Dies Natalis ke-72 Universitas Negeri Malang (UM), Minggu (18/10/2026). Dalam pidato bertajuk Transformasi Menuju Kampus Berdampak, ia menekankan pentingnya mengukur keberhasilan perguruan tinggi melalui kontribusi nyata bagi masyarakat.

Example 300x600

Menurut Fauzan, jumlah lulusan, publikasi ilmiah, dan capaian administratif belum cukup menggambarkan keberhasilan sebuah institusi pendidikan. Kampus juga harus memastikan ilmu yang mahasiswa peroleh dapat mereka terapkan untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan kerja maupun masyarakat.

“Jangan sampai kita hanya mengajarkan mahasiswa tentang sesuatu, tetapi tidak membekali mereka dengan kemampuan untuk melakukannya,” ujar Fauzan.

Pembelajaran Praktis Perkuat Kompetensi Lulusan

Fauzan menilai pembelajaran yang menghubungkan teori dengan pengalaman langsung menjadi kebutuhan mendesak bagi pendidikan tinggi. Mahasiswa perlu memperoleh kesempatan untuk menguji pengetahuan, mengasah keterampilan, dan memahami tantangan nyata di lapangan.

Ia mengibaratkan penguasaan keterampilan seperti belajar berenang. Seseorang tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus berlatih agar mampu melakukannya.

Karena itu, Fauzan mendorong kampus memperkuat kolaborasi dengan dunia industri dan pemerintah daerah. Kemitraan tersebut dapat membantu perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan lapangan sekaligus memperluas pengalaman mahasiswa.

Selain meningkatkan kesiapan kerja, kolaborasi itu juga dapat mendorong lahirnya wirausaha muda. Dengan bekal kompetensi yang memadai, lulusan memiliki peluang lebih besar untuk memasuki pasar kerja maupun menciptakan lapangan kerja secara mandiri.

Fauzan menegaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Kampus perlu menghasilkan SDM unggul, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menghadirkan riset yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Lebih jauh, perguruan tinggi harus mendorong inovasi, memperkuat industrialisasi, dan membentuk lulusan yang menjunjung tinggi integritas.

“Pendidikan tinggi harus diposisikan sebagai arsitektur pembangunan. Perguruan tinggi bertugas menciptakan SDM unggul sekaligus menjadi pusat inovasi dan pengembangan teknologi,” tegasnya.

UM Jadikan Tata Kelola sebagai Fondasi Transformasi

Sejalan dengan dorongan tersebut, Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menempatkan penguatan tata kelola dan peningkatan kualitas SDM sebagai fondasi pengembangan kampus. Menurutnya, kedua aspek itu menentukan kemampuan institusi dalam membangun keunggulan akademik dan menghasilkan riset berkualitas.

Hariyono menjelaskan bahwa kampus membutuhkan sistem pengelolaan yang efektif serta SDM yang kompeten untuk menciptakan lingkungan akademik yang produktif. Fondasi kelembagaan yang kuat juga membantu perguruan tinggi mengembangkan penelitian secara konsisten.

“Kami lebih mengutamakan tata kelola institusi dan kualitas sumber daya manusia. Asumsi kami, keunggulan riset hanya dapat diwujudkan apabila institusi telah memiliki SDM yang berkualitas serta tata kelola yang baik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, UM tetap menempatkan pendidikan dan pembelajaran sebagai bagian utama dari transformasi institusi. Pengembangan riset harus berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kualitas proses belajar mahasiswa.

Selain itu, UM terus mendorong lahirnya talenta yang mampu bersaing di tingkat global. Kampus juga memperkuat kemandirian institusi dan memperluas kontribusinya bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, serta inovasi.

Kemandirian Pembiayaan Jadi Tantangan Perguruan Tinggi

Dalam pidatonya, Fauzan turut menyoroti tantangan pendanaan pendidikan tinggi. Ia berharap negara dapat menanggung biaya pendidikan masyarakat. Namun, keterbatasan anggaran dan banyaknya kebutuhan pembangunan membuat pemerintah perlu mengatur prioritas pembiayaan.

Situasi tersebut mendorong perguruan tinggi untuk mencari sumber pendapatan alternatif. Fauzan menyinggung upaya pengembangan pendapatan mandiri yang menjadi perhatian kalangan pimpinan perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Kampus dapat mengoptimalkan aset yang tersedia serta mengembangkan potensi dan keahlian sivitas akademika. Pemanfaatan sumber daya tersebut perlu diarahkan untuk mendukung kegiatan akademik dan menjaga keberlanjutan operasional institusi.

Pada saat yang sama, penguatan pendapatan mandiri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan perguruan tinggi pada pembayaran mahasiswa. Dengan pengelolaan yang tepat, kampus memiliki ruang lebih besar untuk menjaga kualitas layanan pendidikan.

Fauzan juga mengingatkan bahwa transformasi pendidikan tidak cukup berfokus pada keterampilan teknis. Perguruan tinggi perlu membentuk kemampuan sosial, pola pikir adaptif, dan kesiapan mahasiswa menghadapi perubahan teknologi.

Menurutnya, kampus harus berani mengevaluasi kebiasaan yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan masa kini. Salah satu contohnya ialah penggunaan bunga potong dalam kegiatan seremonial yang perlu mempertimbangkan dampak lingkungan dan potensi sampah.

Pesan tersebut memperluas makna transformasi kampus. Perubahan tidak hanya menyentuh kurikulum, riset, dan tata kelola, tetapi juga budaya institusi serta tanggung jawab terhadap lingkungan.

Dies Natalis ke-72 Perkuat Komitmen Kampus Berdampak

Peringatan Dies Natalis ke-72 UM mengusung tema “Sehat, Bergerak, Berdampak, Berkelanjutan”. Tema tersebut menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk terus berkembang, meningkatkan kualitas layanan akademik, dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Bagi UM, momentum ini juga memperkuat agenda pembenahan tata kelola, pengembangan SDM, peningkatan kualitas pembelajaran, dan penguatan riset. Seluruh upaya tersebut menjadi bagian penting dalam membangun institusi yang adaptif dan berdaya saing.

Pada akhirnya, kampus berdampak tidak hanya dinilai dari capaian akademik. Perguruan tinggi juga perlu membuktikan kemampuannya menghasilkan lulusan yang kompeten, menghadirkan inovasi yang bermanfaat, serta menjawab kebutuhan industri dan masyarakat secara berkelanjutan.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *