Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Darurat Gadget pada Anak, Lintas Tokoh Malang Bersuara

96
×

Darurat Gadget pada Anak, Lintas Tokoh Malang Bersuara

Sebarkan artikel ini
Para narasumber dan peserta diskusi publik memperingati Anniversary Ke-1 Media Online Ngalamutas.com di Cafe & Eatery Khopens Djirow, Kota Malang, Minggu (18/10/2026). (Foto: Dok. Istimewa)

JATIMTERBARU.COM, KOTA MALANG – Penggunaan gawai yang makin tak terkontrol pada anak dinilai memicu pergeseran pola pikir hingga ancaman masalah sosial di era digital. Hal tersebut mengemuka dalam diskusi publik lintas disiplin yang digelar pada peringatan Hari Jadi Media Online Ngalamutas di Cafe & Eatery Khopens Djirow, Kota Malang, Minggu (18/10/2026) malam.

Diskusi tersebut menghadirkan empat narasumber lintas profesi, yakni pakar psikologi Dr. Rr. Dwi Umi Badriyam, M.Pd., Kons., Pendiri Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) Agustinus Tedja Bawana, mantan penyidik KPK periode 2005–2020 Drs. H.N. Christian, M.H. serta Ketua BANKUM GERADIN Kota Malang Adv. Erha Suud Abdullah, S.H.

Example 300x600

Para narasumber menyoroti pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan media dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi yang memengaruhi perilaku serta pola pikir anak.

Pakar psikologi Dr. Rr. Dwi Umi Badriyam menyatakan bahwa orang tua perlu mengevaluasi dan berani merestrukturisasi pola pengasuhan, terutama dalam membendung pengaruh gawai di dalam rumah sejak anak usia dini hingga remaja.

“Pertanyaan mendasar bagi kita semua saat ini, mampukah kita melakukan rekonstruksi dan restrukturisasi mental serta pola mendidik anak? Tantangannya adalah, bisakah kita membendung pengaruh gawai di dalam rumah kita sendiri? Hal ini membutuhkan keberanian untuk merestrukturisasi sistem pengasuhan (parenting),” kata wanita yang akrab disapa Mbak Roro ini.

Ia mencontohkan penerapan aturan di rumahnya dengan membatasi penggunaan gawai dan mendampingi anak saat menonton tayangan edukatif. Dwi juga mengingatkan agar standar karakter dan pola pikir anak bangsa tidak dibentuk oleh tren media sosial.

“Bangsa ini mau dibawa ke mana jika standar kecantikan anak-anak kita dibentuk oleh tren di TikTok? Cantik yang sesungguhnya berasal dari potensi diri yang berguna bagi orang lain berdasarkan moral yang baik,” tegasnya.

Guna mengatasi persoalan krisis spirit dan tekanan mental generasi muda, ia mengemukakan pendekatan Konseling Spiritualitas Bijendra yang mengintegrasikan nilai spiritual lokal dan konsep Tri Hita Karana (keharmonisan dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan).

Sementara itu, Pendiri Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT), Agustinus Tedja Bawana, menilai persoalan sosial di era digital perlu ditangani melalui komunikasi terbuka dan pendekatan kemanusiaan dari hati ke hati (invested with heart). Menurutnya, media dan pendidik harus hadir di tengah masyarakat tanpa sekadar mengejar formalitas administratif.

Pria yang akrab disapa Ayah Tedja ini menceritakan pengalamannya saat mendampingi seorang perempuan muda asal Jakarta yang berniat mengakhiri hidup di Malang akibat tekanan pribadi dan pengaruh tren media sosial.

“Pendekatan kaku di dunia psikologi maupun hukum sering kali gagal ketika menghadapi fase krisis emosional yang dialami generasi muda saat ini. Teori formal sering kali dibumbui kepentingan, sementara kejujuran hidup ada di lapangan. Invested with heart, keterbukaan komunikasi dengan hati akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” ungkapnya.

Melalui komunikasi yang intensif dan penanganan berbasis empati, korban dapat dipulihkan kondisi mentalnya dan kini telah kembali melanjutkan kariernya.

Senada, mantan penyidik KPK, H.N. Christian, menekankan pentingnya langkah pencegahan (preventif) yang masif untuk mengurangi risiko penggunaan gawai yang tak terkontrol pada anak.

“Jika di KPK ada divisi penindakan dan pencegahan, maka dalam konteks perlindungan anak, pencegahan adalah kunci utama. Kita harus bertindak sekarang sebelum terlambat,” ujar Christian.

Christian mengusulkan sejumlah langkah konkret, antara lain kampanye edukatif di transportasi umum seperti Trans Jatim, pelaksanaan razia gawai secara rutin di sekolah oleh pihak guru, hingga sinergi pemerintah daerah dan media untuk mengembalikan budaya interaksi sosial yang sehat.

“Masa kecil kita dulu diisi dengan permainan tradisional dan interaksi langsung, sementara anak-anak hari ini otaknya sudah terpapar informasi yang terlalu kompleks (sophisticated) tanpa filter yang memadai,” tambahnya.

Terakhir, Ketua BANKUM GERADIN Kota Malang, Erha Suud Abdullah, mengkritik sistem pendidikan hukum yang terlalu kaku dan sekadar menghafal pasal tanpa melihat esensi kemanusiaan. Mengutip pandangan Prof. Satjipto Rahardjo, ia menegaskan bahwa hukum diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk hukum.

Ia menyoroti maraknya fenomena di media sosial serta pergeseran nilai akibat dampak negatif media sosial yang ia sebut sebagai kondisi darurat ‘perang candu’ modern.

“Teknologi, khususnya gawai dan media sosial yang awalnya diciptakan untuk mempermudah komunikasi, lambat laun justru mengambil alih tradisi kemanusiaan kita. Fenomena di media sosial menunjukkan bagaimana identitas kita seolah hampa jika tidak tampil di media sosial, di mana ruang tanpa batas ini kerap mengubah fitnah menjadi penerangan dan maksiat menjadi kesenian,” tutur Erha.

Merujuk teori sistem hukum Lawrence M. Friedman yang mencakup struktur, substansi, dan budaya (kultur) hukum, Erha menekankan bahwa ketiganya harus berjalan selaras. Menurutnya, arus informasi global tidak bisa dilawan hanya dengan aturan formal, melainkan dengan memperkuat fondasi budi luhur bangsa serta keseimbangan logika, rasa, dan nurani.

Diskusi publik tersebut menyimpulkan bahwa tantangan pengasuhan dan perlindungan anak di era digital membutuhkan keterlibatan semua pihak secara terstruktur. Orang tua berperan membangun kebiasaan sehat di rumah, sekolah memperkuat pendidikan karakter, pemerintah mendukung kebijakan perlindungan anak, dan media massa memberikan edukasi yang mencerahkan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Peringatan Hari Jadi Media Online Ngalamutas diharapkan menjadi ruang berbagi gagasan sekaligus mendorong langkah nyata dalam membangun generasi muda yang kritis, berkarakter, dan bijak menghadapi perkembangan teknologi.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *