Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

DLH Kota Malang Berjuang Tuntaskan Kebakaran TPA Supit Urang

102
×

DLH Kota Malang Berjuang Tuntaskan Kebakaran TPA Supit Urang

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, belum benar-benar berakhir. Memasuki hari ke-12, Senin (2/11/2026), petugas gabungan masih berjuang mendinginkan timbunan sampah yang menyimpan bara di bagian dalam.

Sebagian besar kawasan memang mulai terkendali. Namun, petugas belum bisa menghentikan operasi. Ketebalan sampah yang mencapai sekitar 30 meter membuat mereka kesulitan menjangkau sumber panas. Bara di lapisan bawah bahkan bisa memicu api kembali meski permukaan tampak padam.

Example 300x600

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran M., M.AP., menyebut enam hektare kawasan masih membutuhkan penanganan intensif. Area tersebut meliputi empat hektare di old landfill dan dua hektare di new landfill.

Dari total sekitar 13 hektare lahan terdampak, petugas telah mengendalikan kurang lebih 60 persen. Mereka kini memusatkan upaya pada 40 persen area lainnya melalui pembasahan dan pendinginan secara intensif.

Raymond menjelaskan, perubahan suhu siang dan malam turut memengaruhi kondisi bara di dalam timbunan. Panas yang menguap pada siang hari dapat memunculkan kembali api ketika temperatur turun pada malam hari.

“Posisi sekarang memang sedang dilakukan pembasahan. Pada waktu siang, panasnya menguap, tetapi pada malam hari apinya bisa keluar lagi. Titik api memang tidak banyak, tetapi lokasinya berjauhan. Kalau tidak segera ditangani, bara tersebut berpotensi menambah titik api baru, baik di old landfill maupun new landfill,” ungkap Raymond.

Ia mengakui perkembangan pemadaman mulai menunjukkan hasil. Meski begitu, asap masih muncul di sejumlah titik. Kondisi tersebut membuat petugas harus melanjutkan operasi sampai sumber panas benar-benar terkendali.

“Kalau dihitung dari total area yang terbakar sekitar 13 hektare, sekarang masih tersisa kurang lebih enam hektare yang harus kami tangani. Empat hektare di old landfill dan dua hektare di new landfill. Sekitar 60 persen sudah bisa dikondisikan, tetapi sisanya masih membutuhkan penanganan,” jelasnya.

Timbunan Sampah 30 Meter Persulit Pemadaman

Kebakaran di kawasan landfill memiliki karakter yang berbeda dari kebakaran biasa. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan sampah yang lebih dalam.

Karena itu, penyiraman dari atas belum cukup untuk mengakhiri kebakaran. Petugas harus menurunkan suhu hingga ke bagian bawah timbunan agar bara tidak kembali menyala.

Raymond menegaskan, DLH belum dapat menyatakan kawasan aman selama asap masih keluar dari timbunan. Saat ini, petugas masih menemukan asap di empat hektare area old landfill dan dua hektare new landfill.

“Api ini keluar dari dalam sampah. Proses pendinginannya harus sampai ke bawah. Dengan kondisi seperti itu, belum bisa dianggap aman meskipun bagian permukaannya terlihat terkendali. Bisa dipastikan aman apabila asap sudah tidak keluar lagi. Saat ini, asap masih terlihat di empat hektare old landfill dan dua hektare new landfill,” tegas Raymond.

Petugas gabungan memulai pembasahan sekitar pukul 07.30 WIB dan melanjutkannya hingga sore. DLH membagi personel dalam dua sif agar mereka dapat menjaga pengawasan sekaligus menangani titik panas.

Tim juga mengubah pola penyisiran kawasan. Sebelumnya, petugas bergerak dari timur ke barat. Kini, mereka memulai penanganan dari arah barat menuju timur.

Perubahan arah ini membantu petugas menjangkau titik panas yang tersebar di berbagai bagian landfill. Dengan pola tersebut, tim dapat mengatur penanganan secara lebih terarah sesuai kondisi lapangan.

Tebing Selatan Membutuhkan Peralatan Khusus

Kondisi geografis TPA turut menghambat upaya pemadaman. Kontur tebing di sisi selatan menyulitkan kendaraan pemadam dan alat berat mencapai lokasi.

Untuk mengatasi kendala itu, DLH masih membutuhkan dukungan helikopter water bombing dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pemadaman udara membantu petugas menjangkau area tebing yang sulit mereka akses melalui jalur darat.

DLH juga menyiapkan pompa tambahan untuk memperkuat pasokan air. Tim berencana mengambil air dari sungai di sisi selatan, tidak jauh dari lokasi awal kebakaran. Selanjutnya, dua tahap pemompaan akan mengalirkan air menuju kawasan tebing.

“Water bombing masih ada bantuan dari provinsi melalui gubernur. Untuk penanganan lebih detail, kami juga menyiapkan peralatan tambahan seperti pompa air. Air akan diambil dari sungai di sisi selatan, dekat titik awal kebakaran, kemudian dipompa menggunakan dua kali pompa untuk penyiraman di kawasan tebing,” terangnya.

Raymond mengingatkan bahwa kemiringan timbunan di sisi selatan meningkatkan risiko longsor. Karena itu, DLH tidak ingin memaksakan petugas maupun alat berat memasuki kawasan tersebut.

Keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam menentukan langkah penanganan. Material sampah yang bergerak atau longsor dapat menimpa petugas di sekitar lereng.

“Lokasi sisi selatan cukup sulit dijangkau. Kami membutuhkan teknik dan peralatan khusus. Water bombing masih diperlukan untuk lokasi tebing tinggi tersebut. Tidak mungkin teman-teman dipaksakan masuk karena kondisi tumpukan sampahnya miring. Kalau sampai terbelah atau longsor, materialnya bisa menimpa petugas di lokasi,” paparnya.

Injeksi Air Sasar Bara di Lapisan Bawah

Hujan deras belum tentu mampu memadamkan kebakaran di TPA Supit Urang. Air hujan hanya membasahi bagian permukaan, sedangkan bara masih dapat bertahan jauh di dalam tumpukan sampah.

Raymond menjelaskan perbedaan karakter kebakaran landfill dengan kebakaran hutan. Api pada kebakaran hutan umumnya menjalar melalui vegetasi di atas tanah. Sebaliknya, api di TPA dapat merambat ke bagian bawah timbunan sampah.

Ketebalan sampah yang mencapai sekitar 30 meter menuntut metode khusus untuk menjangkau sumber panas. Salah satu langkah yang terus dilakukan ialah menyuntikkan air melalui sistem injeksi.

“Ini berbeda dengan kebakaran hutan. Kalau hutan, kebakarannya berada di atas tanah. Sedangkan di TPA, posisi api masuk ke bawah timbunan sampah yang ketebalannya kurang lebih 30 meter. Makanya penyiraman dengan sistem injeksi air yang dilakukan teman-teman BPBD bersama tim terkait akan terus dilakukan,” ungkapnya, Senin (2/11/2026).

Melalui sistem injeksi, petugas mengalirkan air ke bagian timbunan yang tidak terjangkau penyiraman biasa. Langkah ini bertujuan menurunkan suhu sekaligus mencegah bara memunculkan titik api baru.

Selain injeksi air, DLH menyiapkan pengerukan material sampah sebagai tahap penanganan lanjutan. Setelah pengerukan, petugas berencana menutup area tertentu menggunakan tanah urug atau sirtu (pasir batu).

Langkah tersebut dapat membantu petugas menjangkau lapisan yang menyimpan panas. Material penutup juga diharapkan mampu mengisolasi bagian yang telah mereka tangani.

“Berikutnya akan diproses pengerukan tanah maupun sirtu. Mudah-mudahan minggu ini sudah dilakukan pengerukan tanah atau sirtu di lokasi tersebut,” imbuh Raymond.

178 Kali Water Bombing Perkuat Operasi Pemadaman

Luasnya area kebakaran menuntut keterlibatan banyak unsur dan peralatan. Laporan BPBD Kota Malang untuk periode 21–30 Oktober 2026 mencatat pengerahan personel, kendaraan operasional, alat berat, hingga dukungan pemadaman udara.

Dalam operasi tersebut, petugas mengandalkan mobil pemadam kebakaran, mobil tangki air, dan water cannon. Mereka juga mengoperasikan excavator, bulldozer, serta dump truck untuk membongkar dan memindahkan timbunan sampah.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut membantu melalui helikopter water bombing. Catatan BPBD menunjukkan helikopter tersebut telah melakukan 178 kali penerbangan untuk menjatuhkan air di kawasan TPA Supit Urang selama 25–29 Oktober 2026.

Meski berbagai armada terus bekerja, petugas masih menghadapi sejumlah kendala. Ketebalan sampah, sebaran titik panas, keterbatasan pasokan air, angin kencang, serta medan yang tidak stabil memperpanjang proses pemadaman.

Kebakaran juga merusak sejumlah infrastruktur pengelolaan sampah. DLH mencatat panas merusak pipa lindi dan lapisan permukaan landfill.

Selain itu, kerusakan berpotensi mengganggu sistem drainase serta sejumlah fasilitas pendukung. DLH perlu memasukkan pemulihan infrastruktur tersebut dalam pekerjaan setelah operasi pemadaman.

Dampak kebakaran juga mengancam kualitas lingkungan sekitar. Asap dan bau menyengat berpotensi mengganggu masyarakat. Paparan tersebut dapat memicu risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, serta gangguan tenggorokan.

Aktivitas pengelolaan sampah pun harus menyesuaikan kondisi lapangan. Pengelola perlu mengatur kembali kegiatan penimbunan karena petugas masih menggunakan sebagian kawasan untuk pemadaman dan pemulihan.

DLH Pastikan Bara Tidak Kembali Menyala

Memasuki hari ke-12, DLH Kota Malang tetap memusatkan perhatian pada pendinginan seluruh area terdampak. Raymond menegaskan, pihaknya tidak ingin menyatakan kebakaran selesai hanya karena kobaran api tidak lagi terlihat di permukaan.

Menurutnya, petugas harus memastikan kondisi bagian dalam timbunan benar-benar aman. Mereka perlu menurunkan suhu hingga terkendali dan memastikan asap tidak lagi keluar dari kawasan yang terbakar.

Karena itu, petugas masih melanjutkan pembasahan, injeksi air, dan pemantauan titik panas. DLH juga mengutamakan keselamatan personel, terutama saat tim menangani area tebing dan timbunan yang rawan longsor.

“Penanganan tetap kami lakukan secara bertahap. Yang terpenting sekarang bagaimana titik panas di dalam timbunan bisa benar-benar didinginkan. Kami tidak ingin hanya terlihat padam di permukaan, tetapi ternyata bara masih tersimpan di bawah dan kembali memunculkan kebakaran,” pungkas Raymond.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *