Example 300x600
Example floating
Example floating
Example 1600x408
Berita

Feeder Jadi Penghubung Permukiman dan Trans Jatim

110
×

Feeder Jadi Penghubung Permukiman dan Trans Jatim

Sebarkan artikel ini

JATIMTERBARU.COM, MALANG – Pemerintah Kota Malang mulai menyiapkan angkutan pengumpan atau feeder untuk memperluas jangkauan Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya. Layanan ini akan menyasar kawasan permukiman yang belum terhubung dengan jalur bus utama.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang kini mematangkan konsep operasional feeder. Nantinya, angkutan ini menghubungkan kawasan perumahan dengan halte Trans Jatim. Warga pun dapat menjangkau transportasi massal dengan lebih mudah.

Example 300x600

Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) berencana mengalokasikan anggaran untuk layanan tersebut mulai 2027.

Pada tahap awal, Pemprov Jatim akan menggunakan skema Buy The Service (BTS). Melalui mekanisme ini, pemerintah membiayai layanan transportasi dan menggandeng penyedia jasa untuk menjalankan operasionalnya.

“Feeder ini nanti mendukung Trans Jatim 1 maupun Trans Jatim 2. Dukungannya dengan cara nanti pemerintah daerah provinsi menyediakan anggaran berupa Buy The Service,” jelas Widjaja, Senin (2/11/2026).

Pemprov Siapkan Anggaran, Pemkot Perkuat Pengelolaan

Pemprov Jatim juga akan berkoordinasi dengan Pemkot Malang untuk menjalankan layanan feeder. Setelah tahun pertama operasional, pemerintah provinsi merencanakan pengalihan pengelolaan kepada pemerintah kota.

Rencana tersebut membuka ruang bagi Pemkot Malang untuk mengambil peran lebih besar. Pemerintah kota nantinya dapat memperkuat pengawasan sekaligus menjaga keberlanjutan layanan. Namun, mekanisme peralihan masih menunggu keputusan Pemprov Jatim.

Untuk armada, pemerintah mengarah pada penggunaan angkutan kota atau angkot. Saat ini, Pemprov Jatim masih mengkaji jenis kendaraan dan pola operasional yang paling sesuai.

Widjaja menilai kehadiran angkot baru dapat mendorong pembenahan transportasi umum di Kota Malang. Program feeder bukan sekadar menambah akses menuju Trans Jatim. Lebih dari itu, langkah ini juga membuka peluang perbaikan layanan angkutan perkotaan.

“Pakai angkot skemanya menggunakan angkot yang sementara ini masih ditentukan oleh provinsi adalah angkutan kota yang baru. Alasannya biar ada perubahan di transportasi Kota Malang,” ujarnya.

Buring dan Sawojajar Berpotensi Terjangkau

Feeder akan menjalankan fungsi berbeda dari bus Trans Jatim. Bus utama melayani perjalanan antarkawasan, sedangkan angkutan pengumpan menjemput penumpang dari permukiman menuju halte.

Dengan pola tersebut, warga tidak perlu menuju terminal terlebih dahulu untuk mengakses Trans Jatim. Mereka dapat memanfaatkan feeder dari kawasan tempat tinggal menuju halte terdekat.

Widjaja menyebut Buring dan Sawojajar sebagai contoh kawasan yang berpotensi menikmati layanan tersebut.

“Tidak harus di terminal, tetapi yang menuju ke halte-halte,” terang Widjaja.

Dishub Kota Malang telah menyusun kajian awal untuk pengembangan rute feeder. Meski demikian, Pemprov Jatim masih akan menentukan jalur operasional dan titik pemberhentian.

Pemerintah juga belum menetapkan tarif bagi pengguna. Pemprov Jatim masih mempertimbangkan dua pilihan, yakni layanan gratis atau tarif bersubsidi.

“Pengguna belum ditentukan oleh provinsi, bisa jadi gratis, bisa jadi subsidi,” ungkap Widjaja.

Perkuat Integrasi Transportasi Malang Raya

Pengembangan feeder mengacu pada konsep transportasi pengumpan di sejumlah kota besar. Surabaya mengandalkan layanan Wira-Wiri, sedangkan Jakarta mengembangkan Jak Lingko untuk menghubungkan berbagai moda transportasi.

Widjaja berharap konsep serupa dapat memperkuat konektivitas transportasi di Malang Raya. Melalui feeder, masyarakat akan lebih mudah menjangkau halte Trans Jatim Koridor 1 maupun Koridor 2.

“Kalau di Surabaya ada Wira-Wiri dan di Jakarta ada Jak Lingko. Seperti itu konsepnya,” tutupnya.

Pemkot Malang ingin menjadikan feeder sebagai penghubung antara permukiman dan transportasi massal. Jika rencana ini berjalan sesuai tahapan, masyarakat akan memiliki pilihan perjalanan yang lebih praktis.

Selain memperluas akses angkutan umum, layanan tersebut juga berpotensi mengurangi ketergantungan warga terhadap kendaraan pribadi. Dengan konektivitas yang semakin baik, transportasi publik di Malang Raya dapat berkembang lebih terintegrasi.

Example 468x60
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *