JATIMTERBARU COM, TULUNGAGUNG — Hamparan perbukitan di Kabupaten Tulungagung menyimpan sejumlah kawasan alam yang menawarkan lebih dari sekadar panorama. Salah satunya Gunung Budeg di Desa Tanggung, Kecamatan Boyolangu, yang kini berkembang sebagai destinasi wisata berbasis alam sekaligus ruang pembelajaran lingkungan dan geologi.
Berada di kawasan pengelolaan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blitar, Gunung Budeg memiliki karakter lanskap yang khas. Pepohonan yang masih menghijau, kontur perbukitan, serta jalur menuju puncak menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana alam di tengah rutinitas perkotaan.
Nilai kawasan tersebut semakin kuat setelah pada 2026 Gunung Budeg ditetapkan sebagai bagian dari Geopark Nasional dan dikenal sebagai kawasan gunung api purba berdasarkan keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Status tersebut turut memperkaya perspektif terhadap Gunung Budeg. Kawasan ini tidak hanya dipandang sebagai lokasi rekreasi, tetapi juga memiliki potensi edukasi yang dapat memperkenalkan kepada pengunjung mengenai bentang alam, lingkungan, serta jejak geologi yang membentuk kawasan tersebut.
Aktivitas pendakian pun menjadi salah satu cara wisatawan berinteraksi langsung dengan lingkungan. Pelajar, mahasiswa, komunitas lingkungan hingga pegiat budaya mulai menjadikan kawasan ini sebagai ruang belajar luar kelas, sekaligus tempat menikmati suasana hutan dan panorama dari ketinggian.
Wakil Administratur KPH Blitar, Hermawan HS, mengatakan Gunung Budeg masih menjadi salah satu destinasi wisata alam yang memiliki daya tarik bagi masyarakat Tulungagung maupun daerah sekitarnya. Kalangan muda menjadi salah satu kelompok yang cukup aktif memanfaatkan kawasan tersebut.
“Perhutani terus mendorong pengelolaan wisata alam yang aman, nyaman dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kelestarian hutan serta pemberdayaan masyarakat sekitar,” ujar Hermawan.
Menurutnya, keberhasilan pengembangan wisata tidak semata-mata diukur dari tingginya angka kunjungan. Aspek keamanan, kenyamanan, kelestarian lingkungan dan keterlibatan masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan destinasi.
Karena itu, pembenahan fasilitas menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan Gunung Budeg. Perbaikan sarana yang mengalami kerusakan serta penambahan fasilitas pendukung dan titik aktivitas wisata dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan kondisi kawasan hutan.
Pertumbuhan aktivitas wisata juga memberikan dampak langsung terhadap masyarakat di sekitar Gunung Budeg. Arus kunjungan menciptakan peluang ekonomi baru, terutama bagi pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memanfaatkan aktivitas wisata sebagai sumber tambahan pendapatan.
Pengelola wisata Gunung Budeg, Agus, menyebut perkembangan kawasan tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak. Sinergi antara Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Tulungagung menjadi salah satu faktor yang menopang pengelolaan destinasi tersebut.
“Alhamdulillah, tahun 2026 Gunung Budeg sudah ditetapkan sebagai Geopark Nasional dan gunung api purba. Keberadaan wisata ini sangat membantu perekonomian masyarakat sekitar karena membuka tambahan pendapatan bagi para pedagang,” kata Agus.
Selain aktivitas rekreasi, Gunung Budeg mulai memiliki fungsi lain sebagai ruang edukasi terbuka. Sejumlah kelompok pelajar, mahasiswa dan komunitas memanfaatkan kawasan tersebut untuk belajar langsung mengenai alam, lingkungan, budaya, hingga potensi geologi yang dimiliki kawasan.
Bagi pengelola, perkembangan tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan. Bertambahnya aktivitas kunjungan perlu diimbangi dengan kesiapan infrastruktur agar wisatawan memperoleh pengalaman yang aman dan nyaman tanpa menghilangkan karakter alami Gunung Budeg.
Penguatan fasilitas diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan, termasuk pada sarana pendukung pendakian maupun fasilitas bagi pengunjung. Namun, pembangunan tetap perlu ditempatkan dalam kerangka menjaga keseimbangan antara kepentingan wisata dan keberlangsungan ekosistem hutan.
Sebab, meningkatnya popularitas sebuah destinasi alam juga membawa konsekuensi terhadap pengelolaan lingkungan. Perhutani bersama pengelola mengingatkan wisatawan untuk tidak meninggalkan sampah, menjaga vegetasi, serta mematuhi ketentuan selama berada di kawasan wisata.
Gunung Budeg pada akhirnya menawarkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar perjalanan menuju puncak. Di kawasan ini, wisatawan dapat menikmati lanskap alam, mengenali jejak gunung api purba, belajar mengenai lingkungan, sekaligus melihat bagaimana pengembangan wisata berbasis hutan dapat membuka ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dengan potensi tersebut, Gunung Budeg memiliki modal penting untuk terus dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan edukasi. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan kunjungan berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, sehingga pesona alam yang menjadi kekuatan utama kawasan tetap terjaga untuk generasi berikutnya.(*)
Sumber Humas KPH Blitar
















